KESEHATAN ANAK

Inikah penyebab pengidap autisme meningkat

MITRA: Woman Talk
Ilustrasi anak pengidap autisme
Ilustrasi anak pengidap autisme | Africa Studio /Shutterstock

Jumlah anak pengidap autisme semakin hari semakin merangkak naik. Menurut data dari Focus for Health, Hong Kong dan Korea Selatan masih merajai posisi tertinggi dalam daftar negara dengan angka pengidap autisme. Di Hong Kong, 1 dari 27 anak atau 372 dari 10 ribu anak didiagnosis berada dalam spektrum autisme, sedangkan di Korea Selatan, 1 dari 27 anak mengalami gangguan autis. Amerika Serikat menyusul di posisi ketiga dengan perbandingan 1 dari 45 atau 222 dari 10 ribu anak yang telah didiagnosis autisme. Lalu, satu dari 250 anak Indonesia mengalami gangguan autisme.

Mengutip laman Pijar Psikologi, dari data tahun 2015 terdapat 12.800 anak yang mengidap autisme dari total 134 ribu orang yang mengidap autisme di seluruh Indonesia.

Sayangnya, angka tersebut masih belum terlalu akurat, terutama disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat akan informasi mengenai gangguan autisme.

Hal ini menyebabkan banyak anak dengan gangguan autisme yang belum terdeteksi dan tercatat dalam data.

Peningkatan jumlah pengidap autisme juga terjadi di Amerika Serikat. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merilis data yang menyebutkan pada tahun 2012, sebanyak 1,5% anak di AS atau 1 dari 68 anak memiliki gangguan autisme. Sedangkan pada 2014 angka ini bertambah menjadi 1,7% atau 1 dari 59 anak.

Menurut CDC, peningkatan ini bukan terjadi karena semakin banyak anak yang mengidap autisme, melainkan sarana kesehatan dan pemahaman tentang autisme yang kian meningkat, sehingga semakin banyak anak dengan autisme yang sebelumnya tidak terdata kini menjadi terdeteksi. Peningkatan ini kebanyakan nampak di kalangan warga kulit hitam dan Hispanik yang sebelumnya kurang sosialisasi mengenai autisme, kini telah menyadari pentingnya informasi ini bagi perkembangan anak.

"Saat ini jarak antara anak kulit hitam dan kulit putih, serta kulit putih dan Hispanik yang mengidap autisme kian mengerucut. Hal ini terlihat dari perbandingan antara laporan sebelumnya dengan data terbaru," ungkap Dr. Stuart Shapira, perwakilan dari CDC dan National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities (NCBDDD), seperti dilansir laman Time. "Penyebabnya karena identifikasi yang lebih baik dan layanan kesehatan yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat."

Selain meningkatkan angka melek autisme di kalangan orangtua, deteksi juga cenderung dilakukan lebih dini. Nyaris separuhnya diidentifikasi dengan spektrum autisme pada usia di bawah 4 tahun. Walau tanda-tandanya sudah terlihat sejak usia 3 tahun, namun hanya 42% di antaranya yang telah diberikan penanganan medis.

"Semakin dini anak diidentifikasi dan diberikan penanganan, semakin baik peluang anak dalam menggali dan mengembangkan potensi dalam dirinya," ujar Dr. Daisy Christensen dari NCBDDD. "Memang tidak ada kata terlambat dalam penanganan autisme, namun kami menegaskan bahwa akan lebih baik jika penanganan dimulai secepatnya," pungkasnya.

MITRA: Woman Talk
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR