POLA ASUH

Jagoan di film superhero lebih kasar dari penjahat

Ilustrasi superhero dan villain.
Ilustrasi superhero dan villain. | Ekaterina Minaeva /Shutterstock

Biasanya orang senang saat jagoan berhasil mengalahkan penjahat dalam film superhero. Namun, pertentangan kubu baik dan jahat kerap mengalihkan perhatian kita dari perilaku kasar yang ditunjukkan para jagoan.

Penelitian baru yang dipresentasikan pada American Academy of Pediatrics (AAP) National Conference & Exhibition 2018 telah membuktikan para jagoan dalam film superhero rata-rata sering beraksi lebih kasar daripada lawan mereka yang berstatus penjahat.

Penelitian bertajuk Violence Depicted in Superhero-Based Films Stratified by Protagonist/Antagonist and Gender ini mengamati 10 film superhero yang dirilis .

Suicide Squad, Batman: The Killing Joke, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, X-Men: Apocalypse, Captain America: Civil War, Batman v. Superman: Dawn of Justice, Deadpool, Fantastic Four, Ant-Man dan Avengers: Age of Ultron.

Film-film tersebut dipilih karena dilabeli sebagai film superhero terlaris antara tahun 2015 dan 2016 menurut Box Office Mojo, sebuah situs pengumpul film box-office.

Para peneliti mengklasifikasikan karakter sebagai "jagoan" atau "penjahat" dan menggunakan standar sistem untuk melacak tindakan kekerasan dari setiap kelompok karakter dalam seluruh 10 film.

Rata-rata, tokoh protagonis ("jagoan") melakukan 23 aksi kekerasan per jam, sedangkan tokoh antagonis ("penjahat") hanya menampilkan 18 aksi kekerasan per jam. Selanjutnya, peneliti mengamati karakter laki-laki terlibat tindakan kekerasan sekitar lima kali lebih banyak dibanding karakter perempuan. Tepatnya 34 kali aksi berbanding tujuh aksi per jam.

Penulis utama abstrak penelitian, Robert Olympia, MD., seorang Profesor di Departemen Emergency Medicine & Pediatrics di Penn State College of Medicine dan dokter di Rumah Sakit Milton S. Hershey / Rumah Sakit Anak Penn State, menyatakan temuan ini bisa memengaruhi pemirsa muda. Khawatirnya, anak percaya tindakan kekerasan dan "perilaku berisiko" sah saja jika dilakukan oleh jagoan.

"Tenaga perawatan kesehatan anak harus mendidik keluarga tentang kekerasan yang digambarkan dalam genre film ini dan potensi bahaya yang mungkin terjadi ketika anak-anak mencoba meniru tokoh yang digambarkan sebagai jagoan ini," kata Olympia.

Hal senada disampaikan Brad Bushman, seorang profesor komunikasi dan psikologi di Ohio State University yang tak terlibat penelitian ini. Pasalnya sejumlah riset membuktikan anak-anak meniru model peran, baik langsung pun dalam film.

"Bagi saya meresahkan bahwa para pelaku tindakan kekerasan adalah para jagoan, karena itu mengomunikasikan gagasan bahwa agresi dapat dibenarkan selama itu dilakukan oleh seorang laki-laki yang baik," kata Bushman dinukil CNN.com.

Apalagi, karakter superhero adalah tipe model peran yang paling mungkin ditiru anak-anak. "Kita cenderung meniru kekerasan oleh pelaku yang menarik, dianggap benar karena apa yang mereka lakukan, seperti halnya kekerasan oleh superhero," kata Sarah Coyne, seorang profesor pengembangan manusia di School of Family Life, Brigham Young University.

Meski tak terlibat penelitian ini, Coyne juga mengamati bagaimana menonton tayangan superhero memengaruhi perilaku anak-anak prasekolah. "Saya pikir kebanyakan orang tahu bahwa film-film superhero cukup kasar. Saya pikir mereka mungkin terkejut dengan seberapa banyak aksi kekerasan yang dilakukan oleh superhero, alih-alih penjahat," tukas Coyne.

Kembali ke penelitian baru, tim menemukan, berkelahi adalah tindakan kekerasan paling banyak yang dilakukan tojoh protagonis dalam seluruh 10 film. Tepatnya terjadi lebih dari 1.000 kali.

Selain itu juga penggunaan senjata mematikan (659 aksi), perusakan properti (199 kali), pembunuhan (168 kali), dan penyiksaan atau perundungan (144 aksi) juga merupakan tindakan protagonis yang lazim. Walaupun tokoh antagonis menunjukkan perilaku serupa, tetapi mereka cenderung lebih jarang melakukannya.

Sebagai perbandingan, tokoh penjahat dalam film superhero paling sering menggunakan senjata mematikan (604 aksi), berkelahi (599 kali), menyiksa atau merundung (237 kali), menghancurkan benda-benda (191 kali), dan membunuh (93 kali).

Peneliti utama studi John N. Muller, MS, seorang mahasiswa kedokteran di Penn State University College of Medicine menyarankan orang tua dan anak-anak menonton film superhero bersama-sama. Setelah itu secara konstruktif berbicara tentang kekerasan yang mereka lihat di layar.

"Menyaksikan film-film ini sebagai keluarga dapat menjadi penangkal efektif meningkatnya kekerasan dalam film-film berbasis superhero," kata Muller. Dia menambahkan, diskusi diperlukan dalam sesi nonton bersama.

Jika tidak anak-anak mungkin menganggap sikap pasif orang tua sebagai penerimaan perilaku protagonis yang sebenarnya juga kasar. “Mengambil peran aktif dalam konsumsi media anak dengan cara menonton bersama dan secara aktif melakukan mediasi berarti orang tua membantu anak mengembangkan pemikiran kritis dan nilai-nilai yang diatur secara internal,” papar Muller.

Setelah dipresentasikan pada konferensi tersebut, Senin (5/11/2018), penelitian ini siap untuk dipublikasikan.

BACA JUGA