Jaket bertuliskan monyet dan permohonan maaf H&M

Salah satu gerai H&M di Shinjuku, Jepang.
Salah satu gerai H&M di Shinjuku, Jepang.
© Ariyaphol Jiwalak /Shutterstock

Dua hari belakangan, media sosial tengah diramaikan oleh pernyataan banyak pesohor kulit hitam yang mengecam perusahaan ritel H&M (Hennes & Mauritz AB).

Pasalnya, seperti dilansir BBC, beberapa hari lalu H&M kedapatan mengunggah produk terbarunya di situs web khusus wilayah Inggris yang dituding mengandung pesan rasis.

Produk yang diperuntukkan bagi anak-anak tersebut berupa jaket bertudung dengan tulisan "coolest monkey in the jungle" (monyet terlucu di hutan) pada bagian dada. Jaket itu dipakaikan ke seorang bocah lelaki kulit hitam.

Hal ini serta merta membuat warganet geram, termasuk sejumlah pesohor kulit hitam. Mereka menyebut, bahwa sebagai perusahaan raksasa tak sepantasnya H&M membuat pakaian bertuliskan pesan yang dapat menimbulkan kontroversi. Apalagi rasisme tengah menjadi isu besar di beberapa negara di dunia.

Tak pelak, dalam ulasan Vogue disebutkan H&M pun seketika mendapat cap "rasis", "tak bertanggung jawab", dan "menyinggung" oleh warganet.

Abel Makkonen Tesfaye atau yang lebih dikenal dengan nama The Weeknd, pun langsung memutus kerjasamanya dengan perusahaan tersebut. Lewat cuitan Twitter, penyanyi asal Kanada tersebut menyatakan rasa kecewanya terhadap jenama mode asal Swedia itu.

Untuk diketahui, The Weeknd pernah berkolaborasi dengan H&M untuk koleksi musim semi 2017. Ia juga pernah beberapa kali menjadi model busana keluaran perusahaan yang telah berdiri sejak 1947 itu.

Penyerang klub sepak bola Inggris Manchester United, Romelu Lukaku, turut bereaksi. Ia mengunggah kembali foto sang anak berjaket hijau tersebut dan mengganti tulisannya dengan "Black is Beautiful".

Hal yang sama juga dilakukan pebasket LeBron James, penyanyi Sean "Diddy" Combs, narablog mode Stephanie Yeboah, dan banyak lagi.

A post shared by LeBron James (@kingjames) on

Seorang warganet pun mengunggah tangkapan layar dari situs H&M. Di sana terlihat seorang anak kulit putih yang mengenakan jaket serupa dengan warna oranye. Bedanya jaket bertema hutan tersebut bertuliskan "survival expert" atau dimaksud dengan ahli bertahan hidup.

Gambar tersebut membuat situasi bertambah panas. Warganet pun ramai-ramai mengecam H&M dan berjanji tak akan membeli produknya lagi apabila gambar tersebut tak diturunkan.

Meskipun ada juga yang mengatakan bahwa bisa jadi H&M memang tak pernah bermaksud demikian. Namun, isu rasisme yang sedang merebak seharusnya membuat perusahaan yang didirikan oleh Erling Persson tersebut lebih berhati-hati dalam bertindak.

Tak berlarut-larut, H&M langsung merespon kejadian tersebut.

"Kami meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena adanya foto tersebut, kami juga meminta maaf atas motif pakaian tersebut. Karenanya, kami tak hanya akan menghilangkan foto tersebut dari saluran kami, tetapi juga pakaian yang dimaksud dari penjualan kami," ungkapnya lewat sebuah gambar di akun Twitter resminya.

Mereka juga menyadari kesalahannya dalam menangkap pesan dari pakaian itu.

Tak hanya H&M, pada Oktober 2017 merek sabun Dove pun pernah terkena kasus serupa.

Saat itu Dove menayangkan kampanye terbarunya tentang keberagaman kulit. Dalam video tersebut terlihat seorang model perempuan yang melepas pakaian dan seketika menjadi perempuan kulit putih.

Hal ini lantas dianggap sebagai tindakan rasis oleh banyak orang.

Lewat unggahan Facebook resminya, jenama dari perusahaan raksasa Unilever tersebut meminta maaf.

"Dove berkomitmen untuk merepresentasikan cantik dalam keberagaman. Dalam gambar yang kami unggah, kami kehilangan pesan yang ingin disampaikan dalam merepresentasikan perempuan dalam berbagai warna dan kami sangat menyesal atas hal yang menyinggung ini," tulis mereka saat itu.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.