POLA ASUH

Jangan paksa anak minta maaf

Ilustrasi anak minta maaf.
Ilustrasi anak minta maaf. | Annashou /Shutterstock

Maaf adalah kata sederhana yang besar artinya. Saat anak membuat kesalahan, orang tua sebaiknya tidak memaksanya minta maaf. Ajar mereka agar bersungguh-sungguh mengucapkannya.

Agar itu tercapai, orang tua perlu mengeksplorasi cara membantu anak belajar berempati, sehingga ia bisa minta maaf dengan tulus. Ini adalah upaya yang lebih konstruktif daripada langsung memaksa anak minta maaf.

Menurut penelitian, memaksa anak-anak minta maaf kepada orang lain sebelum mereka benar-benar menyesal justru dapat menimbulkan keburukan ketimbang kebaikan. Studi baru dari University of Michigan mengamati apakah anak-anak membedakan ekspresi penyesalan yang tulus dan dipaksakan.

Ternyata, mereka menyadari itu. "Pastikan anak paham mengapa orang lain merasa tak senang, dan pastikan anak benar-benar siap untuk mengatakan 'Saya minta maaf'. Baru minta mereka minta maaf," kata Craig Smith, penulis utama studi. Studi ini muncul dalam jurnal Merrill-Palmer Quarterly.

"Memaksa anak minta maaf akan menjadi bumerang. Anak-anak lain tidak memandang peminta maaf sebagai sosok yang menyenangkan. Elemen yang bisa diajarkan dari meminta anak bilang maaf hilang, dan tujuan permintaan maaf itu--untuk membantu anak mengungkapkan penyesalan, menenangkan perasaan orang lain yang tersakiti, dan membuat anak Anda jadi lebih disukai--pun hilang," Smith memaparkan.

Kesimpulan ini dicapai Smith dan tim setelah mengamati bagaimana anak-anak yang berusia antara 4-9 tahun melihat tiga jenis skenario permintaan maaf di antara teman sebaya. Pertama, permintaan maaf yang tidak diminta, diminta tetapi dengan sukarela diberikan, dan permintaan maaf yang dipaksakan.

Chicago Tribune melaporkan, penelitian ini melibatkan 90 anak-anak. Anak-anak dihadapkan pada peristiwa pelanggaran seperti merebut mainan atau mendorong anak lain dan permintaan maaf setelahnya.

Setelah kejadian, para peneliti meminta pendapat anak-anak setelah mereka melihat beberapa jenis permintaan maaf. Dalam permintaan maaf yang tidak diinginkan, guru hadir tetapi diam, dan anak itu meminta maaf.

Dalam permintaan maaf yang diminta tetapi anak bersedia, seorang guru meminta maaf dan anak itu meminta maaf. Dalam permintaan maaf yang dipaksakan, anak itu mengatakan kepada guru bahwa dia tidak ingin minta maaf tetapi guru itu bersikeras, sampai akhirnya anak minta maaf.

Mereka memisahkan anak-anak ke dalam dua kelompok, usia 4 hingga 6, dan 7 hingga 9. Kedua kelompok anak-anak berpikir permintaan maaf spontan dan permintaan maaf yang diminta tetapi anak tak keberatan, menggambarkan penyesalan dan menenangkan perasaan.

Pun demikian, permintaan maaf yang dipaksakan tidak dianggap efektif. Terutama oleh anak-anak berusia 7 hingga 9 tahun.

Semua anak memandang para pembuat salah merasa lebih buruk setelah minta maaf daripada sebelumnya. Tetapi anak-anak berusia 7 hingga 9 tahun memandang perasaan tak mengenakkan yang dirasa pemohon maaf berakar pada kepentingan pribadi.

Misal, mereka khawatir akan dihukum. Bukan minta maaf karena menyesal.

Bagaimana orang tua bisa membantu anak-anak merespons dengan empati setelah mereka membuat orang lain marah, dan akhirnya menyampaikan permintaan maaf yang tulus? "Ketika anak Anda tenang, bantu mereka mengenali bagaimana perasaan orang lain, dan mengapa demikian," jelas Smith.

"Permintaan maaf adalah salah satu cara untuk melakukannya, tetapi ada banyak cara lain. Penelitian menunjukkan, bahkan anak-anak prasekolah menghargai ketika seorang berusaha memperbaiki kesalahannya dengan suatu tindakan. Kadang-kadang ini lebih kuat daripada kata-kata," pungkas Smith.

Anak-anak juga perlu belajar bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan. "Anak usia 6 tahun mungkin enggan minta maaf karena mereka yakin itu bukan kesalahan mereka," jelas Ericka Anderson, konselor profesional berlisensi di The Healing Grove, di Glenwood Springs, Colorado, AS.

Lanjut Anderson, "Anak butuh diyakinkan bahwa walaupun mereka membuat kesalahan, mereka tidak nakal dan masih disayang."

Karenanya orang tua perlu membagi proses minta maaf ke dalam beberapa langkah. Bantu anak memahami bagaimana perbuatannya memengaruhi orang lain, serta belajar kapan ia perlu memperbaiki kesalahan itu.

BACA JUGA