Jangan tidur saat pesawat lepas landas dan mendarat

Ilustrasi
Ilustrasi | Milkovasa /Shutterstock

Saat naik pesawat, sebagian orang sudah berniat untuk menggunakan waktu untuk membayar kurangnya tidur. Tujuannya satu, Anda sampai tujuan dalam keadaan segar bugar, dan siap melanjutkan aktivitas.

Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Tidur di dalam pesawat tak selamanya aman dan nyaman, apalagi jika dilakukan saat pesawat lepas landas atau akan mendarat.

Situs MedlinePlus, milik National Library of Medicine melansir, terlelap pada dua momen tersebut meningkatkan berbagai risiko, di antaranya cedera pada telinga.

Hal ini dapat terjadi sebab tekanan udara di dalam kabin pesawat berubah secara drastis saat lepas landas dan mendarat.

"Perubahan ketinggian dalam waktu cepat memengaruhi tekanan udara pada telinga. Ini mengakibatkan vakum pada tabung Eustachian, membuat telinga terasa seperti tersumbat dan suara tak terdengar," jelas farmasis Inggris, Angela Chalmers dikutip Express.

Itu mengapa, beberapa maskapai membagikan minuman atau permen agar penumpang melakukan aktivitas menelan atau mengunyah, untuk menjaga saluran telinga tetap terbuka. Dua hal tersebut tentu tak bisa dilakukan sembari tidur.

Aktivitas minum, makan permen keras, atau mengunyah permen karet akan merangsang produksi liur. Pada akhirnya ini membuat Anda lebih mudah menelan.

Kalaupun tak tersedia permen atau minuman, tip yang biasanya bisa dipraktikkan adalah dengan menguap. Anda juga bisa mencoba meniup hidung sambil menutupnya rapat dengan dua jari untuk mengurangi bertambahnya tekanan udara.

Mereka yang berusia di atas 8 tahun dapat mencoba membuka saluran Eustachian dengan meniup balon secara perlahan. Bagi ibu yang bepergian dengan bayi, menyusui saat pesawat lepas landas dan jelang mendarat sangat disarankan.

Karena aktivitas menelan yang dilakukan bayi saat menyusu, berefek sama, melegakan saluran Eustachian. Cara lain, memberinya susu, atau dot.

Bagi yang sedang flu atau pilek, disarankan untuk minum decongestant untuk melegakan saluran Eustachian. Jika Anda flu berat, dan kalau memungkinkan akan lebih baik menunda penerbangan. Sebab, selain tak nyaman, perubahan tekanan udara dapat merusak gendang telinga secara permanen.

Jika Anda tidak berusaha membuka sumbatan di telinga, maka perubahan tekanan udara dapat menimbulkan masalah. Sakit kepala, hingga infeksi telinga dan kerusakan gendang telinga.

Dalam wawancara dengan New York Times, Dr. Matthew Fink, kepala neurolog di New York-Presbyterian Hospital/Weill Cornell Medical Center menjelaskan bahwa tekanan udara dapat memicu sakit kepala atau migrain karena perbedaan tekanan udara antara atmosfer dan rongga sinus yang dipenuhi udara. Masalah bisa makin parah saat sinus sesak atau tersumbat karena alasan apapun.

Namun, Fink bilang biasanya tekanan udara tinggi tak menyebabkan masalah serius, kecuali dalam kondisi ekstrem.

Misal, tekanan air dapat menyebabkan masalah serius bagi penyelam karena nitrogen larut dalam darah saat berada di bawah tekanan selama beberapa waktu. Ketika tekanan dilepaskan selagi penyelam naik dalam kecepatan tinggi, gas menjadi gelembung, dan menyebabkan kondisi fatal yang disebut bends.

Salah satu efek pergeseran tekanan udara yang paling mencolok terjadi saat pesawat mengubah ketinggian dengan cepat. Rasa sakit di telinga adalah hal yang biasa terjadi.

Dalam pesawat, kondisi terburuk yang bisa terjadi adalah, perdarahan pada hidung, dan kehilangan pendengaran. "Cobalah untuk tidak tidur saat lepas landas dan mendarat, semakin jarang Anda menelan, maka saluran telinga bisa tertutup," lanjut Chalmers.

Jadi, usahakan tetap terjaga saat pesawat lepas landas. Setelah pesawat sudah stabil di udara, Anda bisa menurunkan sandaran kursi, memejamkan mata dan mimpi indah, setidaknya sampai sebelum pesawat bersiap mendarat di tempat tujuan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR