PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Jika keluarga kecanduan narkoba

Ilustrasi
Ilustrasi | majo1122331 /Shutterstock

Ketika ada anggota keluarga menjadi pencandu narkoba, efeknya pasti merembet. Bukan hanya pada emosional, psikologis, dan sosial si pengguna, tetapi juga orang-orang terdekat. Untuk itu, kesadaran mengedukasi diri dengan pemahaman yang benar dapat menolong Anda menghadapi dan mengantisipasi keadaan.

Mengapa narkoba yang berbahaya begitu memikat?

Narkoba membuat penggunanya merasa sangat bahagia, akibat lonjakan dopamin dan serotonin yang dilepaskan otak di luar batas toleransi.

Sementara kecanduan, kerap terjadi setelah pemakaian narkoba berulang kali--biasanya lebih dari setahun, sehingga merusak sistem dan sirkuit reseptor motivasi dan penghargaan di otak. Walau beberapa jenis obat--seperti kokain--juga bisa menyebabkan kecanduan setelah mencapai dosis tertentu.

Ada alasan mengapa orang menjadi pencandu. Mereka bisa jadi mengalami ketergantungan secara fisik dan psikologis pada obat-obat tertentu, akibat faktor tertentu.

Di antaranya faktor biologis seperti gen, dan (terutama) faktor psikologis serta sosial seperti stres akibat tekanan hidup, isyarat lingkungan, serta hubungan sosial dengan para pencandu lainnya. Beberapa jenis obat yang menyebabkan ketergantungan fisik antara lain heroin, benzodiazepun; dan jenis obat penyebab kecanduan psikologis contohnya kokain, ekstasi, ganja, amfetamin, dan LSD.

Lebih dari ketergantungan fisik, kecanduan psikologis tak dapat diselesaikan lewat detoksifikasi medis. Gejala kecanduan sangat bervariasi dari orang ke orang. Ada risiko jangka panjang yang menyebabkan si pemakai harus berjuang mati-matian melawan keinginan dan dorongan kambuh.

Itu alasannya, para pencandu sangat membutuhkan terapi konseling. Ada beberapa jenis terapi konseling. Misalnya terapi perilaku kognitif, manajemen kontingensi, atau terapi penguatan motivasi.

Penyalahgunaan obat yang tepat harus disesuaikan dengan kecanduan seseorang dan kebutuhan pribadinya, agar penyembuhan bisa maksimal. Termasuk memilih terapi individu atau kelompok. Yang jelas, semuanya dimulai dari dasar, yakni terapi keluarga.

Peran keluarga, dorongan dan pertolongan

Sebagai orang terdekat, keluarga punya peran penting bagi kesembuhan para pencandu. Walau telanjur menggunakan, deteksi tetap bisa dilakukan. Yakni dengan mengenali gejala perubahan pada pemakai.

BNN pernah merilis 53 ciri pengguna narkoba. Harapannya agar pengguna bisa segera mengobati diri, dan keluarga juga bisa melapor dan meminta bantuan. Permohonan rehabilitasi narkoba dapat dilakukan melalui situs daring milik BNN di sini.

Mudahnya, ada lima ciri umum yang menonjol. Antara lain melakukan hal-hal yang buruk seperti berbohong hingga mencuri, memiliki masalah keuangan, mengabaikan tanggung jawab, bergaul secara tidak sehat, dan lebih sering menyendiri atau mengisolasi diri.

Jika demikian, terapi keluarga dengan melibatkan keluarga inti si pencandu diperlukan. Fokusnya adalah praktik komunikasi yang membantu, bukan yang menghambat pemulihannya.

Kasus narkoba pada anak misalnya. Untuk membantu anak menangani masalah narkoba, setiap orang tua diharapkan tidak mengekang atau menghukum mereka.

Marah cukup di awal, menakut-nakuti pun jangan terlalu intens. Sebaiknya, tunjukkan kepedulian seperti memeluk, atau memperlihatkan bahwa sosok orang tua selalu ada di sisinya.

Perlihatkan juga hal-hal positif seperti berbicara, membicarakan hal-hal menyenangkan, mempelajari sesuatu, atau bersenda gurau. Menciptakan kesadaran bahwa keberadaan si pencandu sangat berarti dan tidak ingin kehilangannya, jauh lebih baik untuk menciptakan perasaan tak enak atau menyesal. Dibanding dendam atau takut.

Tindakan pertama pada sakau dan overdosis

Dua hal ini sangat mungkin terjadi pada pencandu. Gejala sakau muncul ketika penggunaan obat tiba-tiba dihentikan.

Sementara overdosis merupakan kelebihan dosis obat hingga menjadi racun. Prosesnya bisa tiba-tiba, ketika obat dikonsumsi dalam jumlah besar, atau secara bertahap, saat obat terbentuk di tubuh dalam jangka waktu lebih lama.

Keduanya nyaris berefek sama, di antaranya gangguan ingatan dan pernapasan, penurunan kewaspadaan, kulit pucat dan bibir kebiruan, hingga tak sadarkan diri.

Jika terjadi, segera periksa pernapasan dan denyut nadi korban. Lakukan CPR jika perlu. Bila korban tidak sadarkan diri tetapi bernapas, posisikan tubuhnya menyamping.

Jika pasien sadar, kendurkan pakaiannya dan jaga agar tubuhnya tetap hangat. Usahakan agar pasien tetap tenang dan hindarkan mengonsumsi lebih banyak obat. Jika mengalami kejang, posisikan tubuh korban di lantai.

Hubungi bantuan medis segera, untuk menghindarkan kemungkinan lebih fatal. Termasuk melindungi keselamatan Anda, karena beberapa obat dapat menyebabkan perilaku kekerasan tanpa dapat diprediksi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR