KESEHATAN

Jilatan anjing yang berakhir dengan amputasi

Ilustrasi dijilat anjing.
Ilustrasi dijilat anjing. | Anna Hoychuk /Shutterstock

Seorang laki-laki berusia 48 tahun dari Wisconsin, Amerika Serikat, harus kehilangan kedua kaki dan sebagian tangannya, karena infeksi darah langka akibat bakteri dari liur anjing.

USA Today melaporkan awalnya Greg Manteufel, nama laki-laki itu, merasakan gejala seperti flu, muntah-muntah dan merasakan kakinya sakit. Manteufel dibawa ke rumah sakit keesokan harinya, setelah mengalami kesulitan bicara, tidak bisa berjalan, dan diare.

“Dalam hitungan menit, muncul memar dan noda-noda di wajah, dada, kaki, perut dan punggungnya,” kata Dawn Manteufel, istrinya. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan Manteufel mengalami infeksi dalam darah akibat bakteri yang dapat mengancam nyawanya.

Para dokter akhirnya terpaksa mengamputasi kedua kakinya, menyusul kemudian bagian tangan dan lengan bawahnya. Hal ini dilakukan karena infeksi menyebabkan tekanan darah Manteufel turun drastis, dan mengurangi aliran darah ke anggota tubuhnya hingga menyebabkan kematian jaringan.

Operasi tersebut juga dibutuhkan agar infeksi tidak menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Hasil tes darah mengungkapkan bahwa infeksi yang dialami Manteufel disebabkan karena bakteri Capnocytophaga. Live Science menyebutkan bakteri tersebut ditemukan di mulut atau air liur anjing dan kucing. Bakteri tersebut tidak membuat anjing atau kucing menjadi sakit.

Bahkan menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri Capnocytophaga yang dapat menyebar ke manusia melalui gigitan, cakaran atau kontak fisik dari anjing atau kucing pada umumnya tidak menyebabkan sakit pada manusia. Hanya orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, yang akan mengalami kesulitan untuk melawan infeksi tersebut.

Atau, seperti disebutkan oleh The Washington Post, Capnocytophaga dapat mengancam jiwa para pecandu alkohol atau mengalami aspenia yang berarti limpa mereka tidak berfungsi normal, dan gejalanya dapat memburuk dengan cepat.

Sebanyak 74 persen anjing dan 57 persen kucing mengidap Capnocytophaga, akan tetapi bakteri tersebut tidak membuat anjing atau kucing menjadi sakit.

Pada tahun 2016 yang lalu, para dokter di London, Inggris, telah mendokumentasikan kasus seorang perempuan berusia 70 tahun yang terinfeksi Capnocytophaga. Mereka mempublikasikan laporan temuan tersebut dalam jurnal medis BMJ Case Report, dan menemukan penyakit itu disebabkan jilatan anjing peliharaan perempuan tersebut. Kemudian mereka menggambarkan penyakit karena bakteri Capnocytophaga sebagai ‘lick of death’ atau ‘jilatan maut’.

Para dokter yang menangani mencatat dalam laporan bahwa perempuan tersebut sembuh total setelah menjalani perawatan intensif selama 2 munggi, dan mendapatkan antibiotik berspektrum luas.

Dr. Bruce Farber, kepala bagian penyakit menular di North Shore Shore University Hospital dan Long Island Jewish Medical Center di New Hyde Park, New York, mengatakan kepada CBS News sebenarnya para dokter sudah mengetahui bakteri ini selama beberapa dekade.

“Ini adalah suatu organisme yang dibawa di mulut anjing, dan menyebabkan infeksi sepsis yang sangat parah,” ungkap Farber. “Biasanya disebabkan karena gigitan anjing. Akan tetapi kasus ini tidak biasa, karena terjadi akibat jilatan anjing.”

Dokter Silvia Munoz-Price, spesialis penyakit menular di Froedtert & the Medical College of Wisconsin, kepada Fox 6 Now mengatakan bahwa kasus yang menimpa Manteufel benar-benar suatu kebetulan, karena sebanyak lebih dari 99 persen orang yang memiliki anjing tidak mengalami masalah ini.

Cosmopolitan menuliskan bahwa kurang dari 500 kasus infeksi ini telah dilaporkan sejak tahun 1961. Hal ini tercantum dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Microbiology & Infectious Disease 2015.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa bakteri tersebut umumnya tidak berbahaya, dan hanya memengaruhi orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, masalah limpa dan pecandu alkohol.

Manteufel sendiri memelihara delapan ekor anjing, dia juga tidak mengetahui penyakitnya itu berasal dari anjing yang mana. Bahkan keluarga tersebut tetap akan memelihara anjing-anjing mereka, setelah dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar tidak ada penularan infeksi yang sama.

Untuk menghindari risiko infeksi dari binatang peliharaan, Casey Barton Behravesh seorang ahli epidemiologi veteriner, menyarankan agar mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan binatang peliharaan, dan secara teratur membawa mereka ke dokter hewan untuk dilakukan pemeriksaan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR