KESEHATAN LAKI-LAKI

Jumlah sperma pengaruhi risiko penyakit

Sperma dilihat menggunakan mikroskop.
Sperma dilihat menggunakan mikroskop. | Komsan Loonprom /Shutterstock

Jumlah sperma sedikit bukan cuma memengaruhi kesuburan, tapi juga membuat kaum Adam cenderung memiliki sejumlah masalah kesehatan, sehingga berisiko terserang penyakit. Begitu simpulan studi baru yang dipipimpin Dr. Alberto Ferlin, profesor endokrinologi di Universitas Padova, Italia.

Menukil EurekAlert, studi ini merupakan penelitian terbesar yang mengevaluasi kualitas sperma, fungsi reproduksi dan risiko metabolik yang mengacu pada evaluasi kesuburan.

Dr Ferlin, yang kini telah beralih ke Universitas Brescia, memimpin penelitian terhadap 5.177 partisipan lelaki dari pasangan tidak subur di Italia. Partisipan menjalani pemeriksaan fisik dan berbagai tes laboratorium. Termasuk pengukuran hormon reproduksi dan parameter metabolisme, juga analisis sperma.

Tim peneliti menetapkan jumlah sperma sedikit pada partisipan yang memiliki sperma kurang dari 39 juta per ejakulasi. Sekitar setengah dari seluruh partisipan didapati memiliki jumlah sperma rendah.

Hasilnya, studi yang akan dipresentasikan pada ENDO 2018--pertemuan tahunan Endocrine Society ke 100 di Chicago, Illinois--itu menemukan, jumlah sperma yang sedikit ternyata 1,2 kali lebih mungkin terpapar masalah kesehatan.

Di antaranya jumlah lemak tubuh lebih besar yang tampak dari ukuran pinggang lebih besar dan indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi. Tekanan darah sistolik pun lebih tinggi. Begitu pula jumlah trigliserida dan kolesterol jahat (LDL) yang lebih tinggi, sehingga menurunkan jumlah kolesterol baik (HDL).

Responden bersperma sedikit juga memiliki frekuensi sindrom metabolik yang lebih tinggi. Mengutip Mayo Clinic, sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi yang terjadi bersamaan di mana tekanan darah meningkat, gula darah tinggi, lemak tubuh berlebih di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol abnormal. Alhasil, meningkatkan risiko penyakit jantung, strok dan diabetes.

Selain itu, resistensi insulin yang bisa menyebabkan diabetes juga lebih tinggi. Bahkan, laki-laki dengan sperma sedikit juga ditemukan 12 kali lebih mungkin meningkatkan risiko hipogonadisme, atau kadar testosteron rendah.

Setengah responden dengan hipogonadisme lebih mungkin menderita osteoporosis atau massa tulang rendah (praosteoporosis) pada pemindaian kepadatan tulang.

Dr.Ferlin mengatakan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah sperma yang sedikit berhubungan langsung dengan ukuran kesehatan kardiometabolik yang lebih buruk. Bahkan, hipogonadisme pun terlibat dalam hubungan itu.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa temuannya tidak membuktikan bahwa jumlah sperma yang sedikit menyebabkan gangguan metabolisme. Sebaliknya, kualitas sperma merupakan cerminan kesehatan umum para lelaki.

Lebih penting lagi, kata dia, pengobatan infertilitas pada lelaki harusnya tidak berfokus pada risiko kesehatan lain, "Laki-laki dari pasangan yang memiliki kesulitan dalam melaksanakan kehamilan perlu didiagnosis dengan benar. Berdasarkan tingkat kesuburan pasangan, juga morbiditas dan mortalitasnya," imbuhnya.

Lantas, apakah ini jadi pertanda bagi para lelaki untuk mencegah masalah kesehatan dengan meningkatkan jumlah sperma?

Tampaknya tidak. Kepada BBC.com, Allan Pacey, profesor andrologi di University of Sheffield menyatakan temuan ini lebih mirip ungkapan populer di barat "Canary in coal mine" (kenari dalam tambang batu bara).

Ungkapan itu merujuk pada peringatan awal akan munculnya potensi bahaya, atau masalah penurunan kesehatan dan kesejahteraan di masa mendatang. Dengan begitu, kata Pacey, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami hubungan antara masalah kesuburan pada lelaki dan masalah kesehatan lainnya.

Hal senada juga disampaikan Bruce Lee, profesor kesehatan internasional di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Pada Forbes, ia menyatakan, bukan jumlah spermanya yang jadi masalah, tapi sebab akibat munculnya masalah kesehatan tertentu.

Menurut Lee, boleh jadi obesitas, tekanan darah tinggi dan diabetes menyebabkan atau terkait dengan kelainan metabolik. Berikutnya, semua itu berkontribusi terhadap testosteron rendah, yang kemudian menyebabkan jumlah sperma jadi sedikit.

Lee bilang, ada banyak bukti bahwa masalah metabolik lebih kompleks dari yang kita sadari. Meski begitu, bukan berarti pemilik sperma sedikit identik dengan memiliki masah metabolik.

Lagipula sejauh ini, mengutip Dailystar.co.uk, para ilmuwan telah mencatat bahwa jumlah sperma menurun drastis dalam empat dekade terakhir di seluruh dunia. Masalah ketidaksuburan pun banyak datang dari laki-laki. Akan tetapi, belum ada penanggulangan tepat bagi lelaki--kebanyakan studi dan solusi dilakukan lewat perempuan.

Karenanya, ketimbang berfokus meningkatkan jumlah sperma, untuk mempertahankan kualitas sperma sekaligus mencegah terserang penyakit, memperbaiki gaya hidup lebih penting. Bagaimana caranya?

Dr Lee menganjurkan agar lelaki tidak menggunakan celana terlalu ketat. Hellosehat.com menjelaskan, pakaian ketat bisa membungkus testis menempel dekat tubuh, memicu tekanan dan meningkatkan suhu di sekitar area genital.

Bagian vital lelaki pun sebaiknya tidak terpapar suhu panas berlebih. Seperti berendam air hangat, memangku laptop terlalu lama, atau terpapar mesin panas akibat mengemudikan motor.

Kurangi juga konsumsi rokok dan alkohol. Pun menjaga berat badan sehat dan tingkat stres lewat olahraga rutin serta pola makan bernutrisi.

"Banyak makan buah dan sayur yang mengandung mikronutrien. Kurangi junk food, makanan yang banyak mengandung MSG, dan makanan yang diproses minyak," pungkas Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Yassin Yanuar pada Kompas.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR