PANGGUNG TITIAN

Karya 4 kesatria dunia mode tutup JFW 2019

Karya Rinaldy A. Yunardi yang bertajuk "The Faces" di panggung Jakarta Fashion Week 2019, Jumat (26/10/2018).
Karya Rinaldy A. Yunardi yang bertajuk "The Faces" di panggung Jakarta Fashion Week 2019, Jumat (26/10/2018). | Magnifique PR

Rangkaian acara di Jakarta Fashion Week 2019 akhirnya rampung sudah. Penutupan perhelatan yang dilaksanakan pada 20-26 Oktober 2018 ini diwarnai dengan berbagai kolaborasi.

Seperti biasanya, peragaan busana dari sesi Dewi Fashion Knights (DFK) selalu dinanti. DFK merupakan puncak acara yang menampilkan beberapa nama yang dianggap sebagai "pahlawan" dalam dunia mode pada tahun berlangsungnya JFW itu.

Tahun ini, ada empat label busana yang ditampilkan di atas panggung pada malam penutupan. Mereka ialah Sejauh Mata Memandang, Rinaldy A. Yunardi, Sean Sheila, serta Byo.

"Empat desainer yang dipilih jadi kesatria tahun ini, punya gaya yang sangat berbeda satu sama lain. Jadi sangat menarik untuk melihat interpretasi tema 'Heroes' ala mereka dengan gaya masing-masing," jelas Margaretha Untoro, Editor in-Chief majalah Dewi, seperti dikutip Okezone, Jumat (26/10).

Sejauh Mata Memandang hadir sebagai pembuka. Chitra Subyakto sebagai perancang, mengangkat wastra Indonesia khususnya batik tulis sebagai benang merah karyanya. Sebab, Chitra menganggap bahwa ibu-ibu pengrajin batik adalah pahlawan. Lewat kain, mereka bisa menuliskan cerita dan cintanya.

Ada 15 tampilan yang dihadirkan dalam bentuk luaran sederhana, atasan bertali, rok panjang, hingga obi sebagai aksesori.

Menyusul kemudian, ada Byo, label aksesori yang kali ini berkreasi dengan inovasi teknologi, kreativitas, dan seni dalam satu kesatuan. Sang perancang, Tommy Ambiyo Tedji, pada koleksinya kali ini banyak bermain dengan unsur budaya Palembang dan Riau, daerah asalnya.

"Karya terinspirasi dari Sumatra, di mana darah Palembang dan Riau mengalir di tubuh saya. Tema 'Heroes' kembali mengingatkan saya akan pentingnya sebuah dukungan. Orang tua, keluarga dan sahabat terdekat adalah heroes bagi saya," jelas Tedji, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Jumat (26/10).

Kemudian ada juga Sheila Agatha dan Sean Loh yang berkarya di balik label Sean Sheila. Keduanya berusaha menyentil masyarakat terkait soal kelestarian lingkungan.

Sean Sheila menghadirkan 15 look yang tampak menggunakan material plastik. Bahan tersebut diubahnya menjadi berbagai busana, seperti celana, atasan, hingga luaran.

Sebagai penutup, perancang aksesori Rinaldy A. Yunardi menghadirkan 15 tampilan dalam peragaan bertajuk "The Faces".

"Pengertiannya adalah, "The Faces" ini mencerminkan banyaknya karakter manusia yang berbeda-beda tetapi sebetulnya punya hati yang baik. Siapapun dia, kalangan apapun dia tidak dinilai dari penampilannya," ungkap Rinaldy, seperti dikutip Okezone, Jumat (26/10).

Ada berbagai macam aksesori seperti hiasan kepala (headpiece), kalung, hingga topeng bergaya avant garde yang dibuat sedemikian detail. Para model yang berbalut busana berbahan tile membuat rancangan lelaki yang akrab disapa Yungyung ini kian dramatis.

Salah satu aksesori yang juga mencuri perhatian malam itu berupa topeng merah yang dilengkapi dengan perhiasan bahu dan kalung beraksen rumbai yang menjuntai hingga pinggang.

Sederet koleksi aksesori perancang yang namanya tengah dilirik di Hollywood ini tampak glamor sekaligus feminin dengan cara yang berbeda.

"Karya ini saya tujukan untuk wanita. Menceritakan karakter wanita dari berbagai tingkatan. Dalam karya ini saya membawa misi kebersamaan yang positif untuk kebaikan," jelas Yungyung sesaat sebelum peragaan, seperti dilansir Wolipop, di Fashion Tent, Senayan City, Jakarta Selatan, Jumat (26/10) malam.

Pembuatan seluruh karya yang ditampilkan malam itu menurut Yungyung memakan waktu yang cukup lama, yakni sekitar dua hingga dua setengah bulan. Hal ini diakuinya karena pengerjaan koleksi untuk DFK berbarengan dengan pembuatan karyanya yang lain.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR