HIDUP SEHAT

Kebiasaan buruk di kamar mandi yang harus Anda hentikan

Ilustasi menggunakan toilet
Ilustasi menggunakan toilet | Shutterstock /Kittisak Jirasittichai

Kamar mandi atau toilet merupakan bagian dari rumah dan kantor yang biasa kita kunjungi. Oleh karena itu, sebagian orang merasa begitu terbiasa sehingga suka lalai dalam menjaga kebersihan dan etika yang benar dalam menggunakannya.

Padahal, kamar mandi merupakan “sarang” bakteri dan penyakit yang bisa saja mudah terpapar pada tubuh Anda.

Salah satu aturan di kamar mandi yang sering diabaikan banyak orang adalah cara menyiram toilet dengan benar.

Kebanyakan orang setelah buang air kecil dan air besar menyiram toilet dengan kondisi terbuka. Maksudnya, toilet seat tidak diturunkan untuk menutup toilet.

“Anda bisa menyebarkan kotoran ke udara,” ujar Charles P.Gerba, seorang profesor mikrobiologi di University of Arizona, Amerika Serikat.

Dia mengatakan hal yang demikian merupakan cara terbaik untuk bakteri dan kuman berterbangan di sekitar kamar mandi Anda. Kondisi ini disebut juga dengan efek aerosol.

Aerosol secara teknis merupakan partikel padat yang ada di udara, biasa disebut abu atau partikulat, maupun tetesan cair.

“Ketika cairan kotoran dalam tubuh Anda menetes ke dalam toilet, itu seperti ‘perayaan’ bakteri di udara,” imbuhnya.

Bakteri yang umum ditemukan di kamar mandi, kata Gerba, adalah E.coli, streptococcus (bakteri di bagian mulut usus manusia dan hewan), dan salmonela. Ketiganya bisa memicu serangan keracunan makanan yang buruk.

“Aerosol terjadi karena dorongan siraman air ke dalam lubang toilet,” jelas Jason Tetro, seorang ilmuwan dari University of Guelph di Kanada dan penulis buku berjudul The Germ Files: The Surprising Way Microbes Can Improve Health and Life (and How to Protect Yourself From the Bad Ones).

“Ketika proses itu terjadi, semua mikroba yang berada dalam toilet bisa terbang dan menyebar di udara sekitar Anda,” terangnya.

Rata-rata satu orang menyiram toilet sebanyak lima hingga enam setiap hari. Jadi, total 2.000 siraman selama satu tahun.

Berdasarkan studi dari Leeds Teaching Hospital di Inggris, bakteri bisa terbang setinggi 10 inci di udara.

Jadi, sangat disarankan agar Anda menutup toilet ketika menyiramnya. Hal ini untuk melindungi diri Anda terjangkit penyakit yang tidak diinginkan.

Selain itu, Tetro juga menganjurkan supaya Anda meletakkan sikat gigi setidaknya sejauh tiga kaki dari toilet. Sebab, jika terlalu dekat, bakteri dan kuman dalam toilet bisa menempel pada sikat gigi yang Anda gunakan untuk menjaga kebersihan mulut.

Kemudian, biasakan juga untuk meneteskan pembersih toilet demi menjaganya tetap bersih dan segar setiap waktu.

Kebiasaan buruk lainnya yang dilakukan banyak orang, terutama warga Barat, dan harus disetop adalah membersihkan organ intim Anda hanya dengan kertas tisu.

Umumnya, orang Asia sedari kecil terbiasa untuk membersihkan area intim dengan air, tetapi sudah banyak dari kita yang mulai mengaplikasikan kebiasaan orang Barat yang tidak sehat tersebut dalam keseharian.

Ahli medis mengatakan bahwa menyeka dengan kertas tisu tidak bisa membersihkan area intim Anda dengan maksimal. Kemungkinan besar masih ada sisa kotoran tertinggal.

“Saya merasa frustrasi melihat miliaran orang memiliki anus yang kotor dan berjalan tanpa beban, tetapi mereka berpikir bahwa mereka sudah bersih,” ujar Rose George, author of The Big Necessity: The Unmentionable World of Human Waste and Why It Matters, told Tonic why using toilet paper doesn’t remove poo properly.

Dia menambahkan bahwa kertas tisu tidak bisa benar-benar membersihkan tubuh Anda dari kotoran, Anda harus menggunakan air.

Dr Sejal Shah seorang dermatolog mengungkapkan kebiasaan kurang baik lainnya yang kerap tidak dipedulikan adalah menggantung loofah yang masih basah di dalam kamar mandi.

Loofah merupakan sabut mandi yang banyak digunakan perempuan untuk membalurkan sabun ke tubuh.

Dr Shah mengatakan, loofah yang basah bisa “menjaring” bakteri dan kuman untuk menempel dan berkembang biak di sekitaran sabut.

“Saat Anda menggunakan loofah, sel kulit mati Anda bersarang di dalam ceruknya. Kemudian, berkembang biak menjadi bakteri,” jelas Dr Shah.

Dia merekomendasikan bahwa setelah usai menggunakan loofah, pastikan Anda mencucinya, keringkan, dan simpan dalam ruang yang berangin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR