Kebiasaan orang Indonesia saat berwisata

Ilustrasi melacong
Ilustrasi melacong | Yuganov Konstantin /Shutterstock

Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya gemar melancong. Baik untuk urusan bisnis, rekreasi keluarga, atau liburan untuk melepas penat.

Saat melakukan perjalanan, ada beberapa hal yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, mulai dari saat melakukan pemesanan akomodasi, rekomendasi, hingga kebiasaan untuk tetap berkomunikasi.

Setelah mengamati hal-hal yang diinginkan orang Indonesia saat liburan, Amadeus mengungkapkan data Journey of Me Insights. Data ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada bulan Mei 2017 hasil kolaborasi dengan YouGov.

Amadeus merupakan penyedia solusi teknologi canggih terkemuka untuk industri perjalanan global. Kelompok-kelompok pelanggannya meliputi para penyedia jasa perjalanan, penjual jasa perjalanan, serta pembeli jasa perjalanan.

Riset ini melibatkan 6.870 responden dari 14 negara di Asia-Pasifik yang pernah bepergian dengan pesawat terbang dalam 12 bulan terakhir, termasuk Indonesia, Tiongkok, Jepang, Hong Kong, India, Taiwan, Korea, dan Singapura.

Berikut kebiasaan orang Indonesia saat liburan berdasarkan data dari Amadeus seperti dijelaskan dalam jumpa pers, Kamis (29/3/2018).

Merencanakan perjalanan

Saat meriset serta memesan akomodasi dan transportasi, orang Indonesia lebih banyak menggunakan ponsel daripada komputer. Dibanding negara lain, Indonesia ada di posisi tertinggi dalam penggunaan ponsel untuk meriset perjalanan.

Selain itu, satu dari lima wisatawan Indonesia melakukan sebagian besar perencanaan wisata selagi bekerja. Tetapi kebiasaan ini lebih terlihat pada mereka yang melakukan perjalanan bisnis dibandingkan dengan rekreasi.

Dalam memesan akomodasi, perempuan cenderung lebih suka melakukan pemesanan setelah membeli tiket pesawat, sementara wisatawan laki-laki lebih suka memesan akomodasi sebelum membeli tiket pesawat.

Perjalanan hemat

Jenis rekomendasi wisata paling berguna bagi orang Indonesia adalah yang bisa membantu mereka menghemat uang dan perjalanan yang lebih nyaman. Saat menerima rekomendasi wisata pun, orang Indonesia lebih percaya pada teman, keluarga, atau dari jejaring sosial.

"Orang Indonesia lebih percaya rekomendasi yang diberikan dari mulut ke mulut daripada situs pemesanan online," kata Andi Yeow, General Manager, Amadeus Indonesia.

Andi juga mengatakan bahwa faktor kepercayaan adalah elemen kunci. Saat percaya pada rekomendasi teman atau media sosial, orang Indonesia umumnya lebih merasa nyaman untuk mencoba apa yang direkomendasikan orang tersebut.

Tetap terhubung

Saat sedang berwisata, orang Indonesia lebih senang bila tetap terhubung dengan internet. Ini digunakan untuk mengakses peta dan informasi lokasi, meriset hal-hal untuk dilakukan di tempat tujuan, berbagi foto dan pengalaman wisata dengan teman, memberi kabar orang terdekat, serta untuk tetap mendapat kabar terbaru soal pekerjaan atau bisnis.

Jika berwisata ke luar negeri, sebagian besar wisatawan Indonesia tetap tersambung melalui Wi-Fi atau membeli kartu SIM lokal di tempat tujuan.

Aplikasi favorit

Dalam berwisata, aplikasi paling banyak digunakan wisatawan Indonesia adalah Traveloka, WhatsApp, Facebook, dan Google Maps. Hanya 28 persen responden Indonesia mengatakan mereka tidak menggunakan aplikasi apapun saat berwisata

Penggunaan jasa sharing economy

Enam puluh lima persen wisatawan Indonesia mengatakan mereka jarang atau tidak pernah menggunakan aplikasi dan jasa dengan model sharing economy seperti Uber dan Grab untuk berpindah tempat selama perjalanan.

Sebanyak 78 persen mengatakan mereka tidak pernah memanfaatkan jasa semacam itu untuk mendapatkan akomodasi selama perjalanan seperti Airbnb atau Coach Surfing.

Keselamatan

Saat sedang liburan, wisatawan Indonesia memiliki tiga sumber paling disukai untuk menerima kabar kondisi keselamatan atau keamanan terbaru, yaitu teman dan kerabat, penyedia transportasi, atau biro wisata.

Orang Indonesia tidak terlalu mengandalkan kedutaan atau pemerintah mereka untuk memperoleh kabar kondisi terbaru.

Dari data-data tersebut, Amadeus juga menyimpulkan berbagai hal- hal yang diinginkan orang Indonesia saat berwisata. Misal, alih-alih melihat brosur perjalanan dengan gambar yang menarik mengenai tujuan wisata, orang Indonesia lebih percaya pada rekomendasi orang-orang terdekatnya untuk mendapatkan inspirasi.

Wisatawan Indonesia juga tertarik untuk mendapatkan berbagai rekomendasi perjalanan, dimulai dari saat mereka mempertimbangkan untuk melakukan perjalanan hingga ketika mereka sedang dalam perjalanan.

Penyedia jasa pariwisata mempertimbangkan cara untuk terhubung dengan wisatawan. Melalui media sosial, misalnya. Sebab cukup banyak wisatawan yang senang menerima berita terbaru dan rekomendasi tentang perjalanan mereka melalui media sosial dibandingkan lewat telepon.

Umumnya wisatawan Indonesia sangat terbuka untuk menerima rekomendasi berbasis wisata dalam tahapan perjalanan manapun. Bahkan 75 persen masih berminat menerima rekomendasi bahkan setelah perjalanan wisata mereka telah selesai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR