KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Kekerasan seksual ganggu kesehatan fisik perempuan

Ilustrasi korban kekerasan seksual.
Ilustrasi korban kekerasan seksual. | VGstockstudio /Shutterstock

Ribuan perempuan jadi korban kasus kekerasan seksual. Sementara pelaku kejahatan mungkin tak ingat lagi apa yang terjadi, efek peristiwa itu akan menetap bukan hanya dalam ingatan, bahkan juga fisik korban.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2018 mengungkap ada 2.979 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan dan ditangani sepanjang 2017. Entah berapa yang tidak dilaporkan korban.

Korban kekerasan seksual umumnya mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD) sesaat setelah kejadian. Menurut RAINN (Rape, Abuse & Incest National Network), sebanyak 94 persen perempuan yang diperkosa mengalami gejala PTSD dalam dua pekan setelah kejadian.

Namun, apa yang terjadi pada perempuan penyintas kekerasan seksual dalam jangka panjang?

Sebuah studi dari para peneliti di University of Pittsburgh memulai penelitian dengan pertanyaan: Apakah kekerasan seksual mengarah pada efek psikologis dan fisik jangka panjang pada perempuan?

“Selain meningkatkan kesadaran, gerakan #MeToo telah memberi orang-orang suara untuk berbicara ketika mereka merasa dirugikan, dilecehkan, atau diserang,” tulis para peneliti dalam sebuah pernyataan.

"Sebuah penelitian baru menunjukkan, pelecehan dan serangan seksual tidak hanya sangat umum saat ini, tetapi mungkin juga memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif."

Konsekuensi kesehatan negatif yang dimaksud para peneliti bisa termasuk tekanan darah tinggi, kualitas tidur yang buruk, kecemasan, dan gejala depresi.

Untuk mencapai kesimpulan, peneliti merekrut 304 perempuan berusia antara 40 dan 60 tahun. Mereka diminta mengisi kuesioner dan kemudian melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari kelompok ini, 19 persen melaporkan pernah mengalami pelecehan seksual, 22 persen melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual, dan 10 persen melaporkan mengalami keduanya.

Temuannya dinilai para peneliti cukup mengejutkan. Walau ukuran sampel terbilang kecil, signifikansi statistiknya tak bisa diabaikan.

Peneliti mencatat, "angka ini lebih rendah daripada sampel nasional." Fakta bahwa begitu banyak perempuan mengalami hal ini sangat mengganggu. Bukan hanya itu, para peneliti juga melaporkan ada konsekuensi negatif yang lebih dari itu.

Perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual punya kecenderungan hampir tiga kali lebih tinggi menderita gejala depresi. Mereka dua kali lebih mungkin melaporkan kecemasan yang lebih tinggi.

Kualitas tidur para penyintas pun lebih buruk. Mereka punya kecenderungan insomnia.

Sementara perempuan yang melaporkan pelecehan seksual, punya kecenderungan dua kali lebih besar menderita tekanan darah tinggi. Akibatnya lebih berisiko mengalami penyakit jantung.

Para peneliti juga mencatat, perempuan yang melaporkan pelecehan seksual di tempat kerja lebih banyak berasal dari kelompok lulusan perguruan tinggi. Di sisi lain, mereka cenderung menghadapi masalah keuangan yang lebih besar daripada rata-rata kelompok.

Kaitan antara dua hal itu masih belum jelas. Namun, penulis penelitian berspekulasi perempuan yang berpendidikan tinggi lebih cenderung bekerja di bidang yang didominasi laki-laki. Mungkin juga mereka punya wawasan lebih luas tentang apa yang masuk ke dalam pelecehan seksual.

"Telah dipahami secara luas bahwa pelecehan dan serangan seksual dapat berdampak pada kehidupan perempuan dan kesehariannya, tetapi studi ini juga mengevaluasi implikasi dari pengalaman ini untuk kesehatan perempuan," kata Dr. Rebecca Thurston, penulis utama studi dan profesor psikiatri, psikologi, dan epidemiologi di University of Pittsburgh.

Nancy Krieger, profesor di Harvard T.H. Chan School of Public Health yang tidak terlibat dalam penelitian ini berpendapat, "Tidak semua korban bisa dan mau mengungkap apa yang terjadi pada mereka, tapi ini tidak menghalangi tubuh mereka untuk beropini dan berekspresi."

Lebih dari satu dekade lalu, Krieger pernah melakukan riset serupa. Hasil risetnya juga menemukan korban pelecehan seksual berkaitan dengan hipertensi.

Penelitian ini memang baru menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat. Namun, angka-angka kasus pelecehan dan dampaknya ini sulit diabaikan.

Mengingat tingginya prevalensi pelecehan dan kekerasan seksual, para peneliti menyimpulkan, mengatasi masalah ini jadi sangat penting bagi perempuan.

Mereka menyarankan dokter juga mempertimbangkan hal-hal ini ketika meresepkan pengobatan untuk masalah seperti depresi dan kecemasan.

Bagaimanapun, pada akhirnya, ada pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana kita bisa membuat perubahan sehingga perempuan tidak harus mengalami hal seperti ini?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR