Kekurangan vitamin D pada bayi picu risiko skizofrenia

Ilustrasi bayi baru lahir
Ilustrasi bayi baru lahir | LittleDogKorat /Shutterstock

Penelitian terbaru memaparkan ringkasan mengenai dampak buruk kekurangan vitamin D pada bayi yang baru lahir.

Kita pasti mengenal ritual ibu hamil berjemur pada pagi hari. Tujuannya agar ibu hamil mendapatkan vitamin D dari paparan mentari.

Sinar matahari pagi telah terbukti membantu perkembangan otot pada janin.

Pada tahun 2016, tim peneliti dari University of Southampton membuktikan, kecukupan vitamin D pada ibu hamil berbanding lurus dengan kekuatan genggam (otot) bayi.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Endocrine Research tersebut menyebutkan, paparan vitamin D sejak dalam kandungan memberikan manfaat sampai dengan anak tumbuh dewasa.

Peneliti mengamati sampel darah partisipan ibu hamil dan mengukur level vitamin D para ibu selama 34 minggu kehamilan. Lalu, mereka membandingkan daya genggam anak yang dilahirkan sampai usianya mencapai empat tahun.

Hasil penelitian memperlihatkan, ibu hamil dengan kecukupan level vitamin D lebih berpotensi melahirkan anak dengan otot yang kuat.

Kini, penelitian terbaru mengungkapkan tentang dampak merugikan kekurangan vitamin D pada bayi yang baru lahir.

Studi yang dilakukan di Denmark dan telah diterbitkan dalam Scientific Reports ini menemukan, bayi baru lahir yang kekurangan vitamin D memiliki risiko 44 persen lebih besar menderita skizofrenia saat mereka lanjut usia.

Penulis utama studi, John McGrath, seorang psikiater dan profesor di Aarhus University di Denmark bersama dengan tim peneliti dari University of Queensland di Australia, mencatat bahwa penelitian ini memang menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dan skizofrenia, tapi tidak membuktikan sebab dan akibat.

"Skizofrenia adalah gangguan otak yang cukup serius, masih banyak orang yang kekurangan informasi mengenai penyakit ini, padahal telah memengaruhi sekitar satu dari 100 orang di dunia,” jelas McGrath.

Dia menjelaskan, ada sejumlah kemungkinan penyebab skizofrenia, termasuk faktor genetik dan lingkungan.

Hasil penelitian McGrath menunjukkan bahwa penderita delapan persen kasus skizofrenia di Denmark kekurangan vitamin D saat baru lahir.

Hasil penemuan tersebut, kata McGrath, dipandang sebagai faktor risiko oleh peneliti. Sebab, kebanyakan penderita skizofrenia di Denmark lahir saat musim dingin atau musim semi. Selain itu, mereka pun bermukim di area utara yang lebih dingin.

“Temuan ini adalah petunjuk dari potongan teka-teki yang membuat kami menindaklanjuti penelitian ini,” terangnya.

Peneliti menyimpulkan temuan ini berdasarkan analisis sampel darah acak yang diambil dari 2.602 bayi Denmark. Mereka lahir antara tahun 1981 sampai 2000.

Studi kasus-kontrol skala besar dilaksanakan pada tahun 2010 yang menghubungkan antara kekurangan vitamin D dan skizofrenia.

Sekarang, McGrath tengah mengembangkan replikasi penelitian dengan 80.000 sampel darah neonatal dari Denmark. Rencananya akan selesai sekitar dua tahun mendatang.

McGrath mengatakan temuan ini menyiratkan bahwa beberapa kasus skizofrenia dapat dicegah melalui suplemen vitamin D.

Menurut dia hal tersebut sangat masuk akal, mengingat banyak suplemen yang efektif mencegah terjadinya masalah kesehatan, misalnya asam folat untuk masalah spina bifida.

"Temuan ini adalah contoh vitamin murah yang aman mampu mencegah gangguan perkembangan otak sangat serius,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR