KESEHATAN ANAK

Kekurangan zinc berkaitan dengan autisme

Ilustrasi anak dengan autisme.
Ilustrasi anak dengan autisme. | LightField Studios /Shutterstock

Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara zinc (seng) dan autisme. Hingga saat ini para ilmuwan masih mencoba memahami hubungan keduanya.

Masih ada banyak hal tentang cara kerja otak yang belum diketahui para ahli dan dokter. Penyebab sebenarnya dari kondisi seperti autisme pun belum sepenuhnya diketahui.

Sekarang, penelitian baru menunjukkan defisiensi seng selama kehamilan dan tahap awal perkembangan anak dapat berdampak pada autisme. Lewat penelitian ini para ilmuwan mungkin menemukan wawasan baru tentang apa yang sebenarnya menghubungkan keduanya.

Seperti dijelaskan Mayo Clinic, gangguan spektrum autisme mengacu pada sekelompok kondisi terkait dengan perkembangan otak yang memiliki berbagai karakteristik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat, autisme bisa sulit didiagnosis, karena tidak ada tes medis yang menegaskan diagnosis. Selain itu, perilaku orang dengan autisme bisa sangat berbeda satu dan lainnya.

Menurut perkiraan terbaru dari Autism and Developmental Disabilities Monitoring (ADDM) Network CDC, sekitar satu dari 59 anak bisa memenuhi kriteria gangguan spektrum autisme.

Meskipun beberapa laporan menunjukkan autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki, banyak peneliti menunjukkan bahwa autisme pada anak perempuan mungkin terabaikan. Pasalnya gejala autisme pada perempuan sering tidak sesuai dengan stereotip anak laki-laki dengan autisme. Alhasil, diagnosis pun tak tepat.

Hingga saat ini, belum ditemukan penyebab autisme yang jelas. Dokter percaya, baik faktor genetik maupun lingkungan dapat berperan. Menurut riset terbaru, tingkat seng seorang anak mungkin merupakan salah satu faktor lingkungan tersebut.

Riset baru ini diterbitkan di Frontiers dalam Molecular Neuroscience. Para ilmuwan di baliknya meneliti kemungkinan hubungan antara defisiensi seng sejak janin berkembang dan autisme.

Para peneliti menemukan lebih banyak informasi tentang bagaimana seng dapat memengaruhi hubungan antara sel-sel otak yang terbentuk sejak masa awal perkembangan serta bagaimana itu dapat berpengaruh pada tingkat molekuler.

Seng membentuk hubungan atau sinapsis antara sel-sel otak (neuron) yang terbentuk pada masa awal perkembangan melalui mesin molekuler kompleks, dikendalikan gen yang berhubungan dengan autisme.

Autisme cenderung muncul dalam tiga tahun pertama kehidupan. Selama masa ini, sinapsis terbentuk dan berubah dengan cepat.

Penulis senior studi, Dr. Sally Kim mengatakan, "Autisme dikaitkan dengan varian gen tertentu yang terlibat dalam pembentukan, pematangan, dan stabilisasi sinapsis selama perkembangan awal. Temuan kami menghubungkan kadar seng dalam neuron--lewat interaksi dengan protein yang dikodekan oleh gen ini--dengan perkembangan autisme," terang Dr. Kim.

Ketika sinyal otak ditransfer melalui sinapsis, seng memasuki neuron target. Seng dapat mengikat dua protein yang dikenal sebagai SHANK2 dan SHANK3.

Protein tersebut menyebabkan perubahan dalam komposisi dan fungsi reseptor sinyal yang berdekatan, disebut AMPAR, pada permukaan neuron di sinapsnya.

Temuan bahwa seng membentuk properti pengembangan sinaps melalui protein SHANK menunjukkan bahwa kurangnya mineral sejak janin berkembang punya potensi berkontribusi pada autisme dengan merusak fungsi sinapsis, yang memungkinkan sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain.

"Memahami interaksi antara seng dan protein SHANK dapat mengarah pada strategi diagnostik, pengobatan dan pencegahan untuk autisme," kata John Huguenard, penulis senior studi, dari Stanford University School of Medicine.

Namun, Dr. Kim dan tim mencatat penelitian masih dalam tahap awal. Perlu lebih banyak penelitian untuk menentukan seberapa besar kaitannya.

Penulis riset Profesor Craig Garner menjelaskan, "Saat ini, tidak ada studi terkontrol tentang risiko autisme dan suplementasi seng pada ibu hamil atau bayi, sehingga hasilnya belum pasti. Kami tidak bisa menarik kesimpulan atau membuat rekomendasi suplemen seng, tetapi hasil eksperimen pada model autisme yang diterbitkan dalam Frontiers Research Topic ini menjanjikan," papar Garner.

Salah satu kontroversi terbesar seputar autisme dan kemungkinan penyebabnya adalah pemikiran bahwa vaksin menyebabkan autisme. CDC telah menegaskan tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.

Pemikiran ini telah dibantah tetapi masih digunakan oleh gerakan anti-vaksin. Padahal ini menyebabkan komunitas rentan mengalami wabah penyakit.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan "ratusan varian genetik" memengaruhi perkembangan autisme. Meskipun beberapa peneliti berpendapat tingkat autisme meningkat dalam beberapa dekade terakhir, yang lain berpendapat tingkat autisme secara umum konstan.

Bagaimanapun, kesadaran masyarakat tentang kondisi ini terus meningkat.

Apa peran defisiensi seng dalam risiko autisme belum sejernih air. Harapannya dengan penelitian lebih lanjut, para ilmuwan bisa menyelisik lebih dalam dan memperjelas semuanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR