Kelelawar berpotensi menyebar penyakit baru di Indonesia

Ilustrasi kelelawar
Ilustrasi kelelawar | Rudmer Zwerver /Shutterstock

Antisipasi penyakit bersumber dari hewan atau zoonosis sedang menjadi perhatian Kementerian kesehatan RI, bahkan dunia. Kelelawar disebut sebagai salah satu yang berpotensi menyebar penyakit baru.

"Indonesia itu daerah migrasi burung, kemarin di dalam riset yang dilakukan oleh badan Litbang ternyata ada kelelawar yang sudah menjadi sumber penyakit tertentu yang sebelumnya tidak disebutkan di Indonesia pernah ada," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono dikutip detikHealth.

Anung berujar, meski ancaman penyakit tersebut masih terbatas pada hewan dan belum terdeteksi secara pasti apa jenisnya, antisipasi tetap perlu dilakukan demi menghindari penularan terhadap manusia.

Penyakit apa yang mungkin disebarkan kelelawar, bagaimana penyebaran dan pencegahannya?

Menurut Bat Conservation International, Indonesia memiliki 219 dari total 1.300 spesies kelelawar di dunia, paling banyak dibanding negara lain.

Ada dua tipe utama kelelawar, yaitu Microbatsyang umumnya memakan serangga—atau menghisap darah hewan, dan Megabatssi pemakan buah.

Spesies pemakan buah selain membantu penyebaran benih dan penyerbukan, juga membawa virus. Jika kelelawar sakit dan air liurnya mengandung virus, maka virus yang tertinggal akan menempel pada buah yang jatuh dan dimakan manusia.

"Kelelawar merupakan reservoir utama atau agen pembawa berbagai penyakit zoonosis,” jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet kepada Antara News.

VPada 2017, studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature menemukan bahwa kelelawar membawa paling banyak virus daripada spesies mamalia lainnya di Bumi.

Lalu, pada 2013, Live Science melaporkan bahwa kelelawar bertindak sebagai inang untuk lebih dari 60 virus berbeda yang dapat menginfeksi manusia. Beberapa tergolong sangat patogen seperti rabies dan virus yang berhubungan dengan SARS (sindrom pernapasan akut), ebola dan nipah, juga virus Hendra dan Marburg.

Prof Agus menambahkan, dari hasil penelitian biomedis yang dilakukan menunjukkan, kelelawar pemakan buah berpotensi menyebar penyakit lewat beberapa jenis virus baru yang belum pernah terdeteksi di Indonesia, antara lain "paramyxovirus" jenis anyar, Alphaherpesvirus, Coronovirus, Polymavirus, dan yang terbaru Bufavirus.

Para peneliti tidak sepenuhnya yakin mengapa kelelawar sangat pandai menyimpan penyakit, tetapi ada bukti yang menunjukkan bahwa kelelawar adalah spesies berumur panjang dan mereka suka hidup berdekatan di tempat sempit.

Menariknya, walau memiliki kemampuan tinggi menyebar penyakit, kelelawar tidak akan terinfeksi virus bawaan berkat kemampuan terbang yang dimilikinya.

Tim ilmuwan dari Institut Virologi Wuhan di Tiongkok menerangkan, kemampuan terbang kelelawar mungkin telah membuatnya berevolusi mengembangkan mekanisme pertahanan canggih yang juga membantu mencegahnya dari penyakit, yakni dengan meredam jalur kekebalan antivirus yang disebut STING-interferon.

Sementara itu, tulis Ifl Science, virus berbeda dari bakteri. Untuk bereplikasi, virus membutuhkan kondisi spesifik yang sepenuhnya bergantung pada inang. Ketika kelelawar terbang, suhu internalnya meningkat dan menjadi terlalu panas bagi virus.

Sayangnya, meskipun virus yang berpotensi menyerang kelelawar mati, virus berbahaya bagi manusia tetap ada. Apalagi kemampuan terbang kelelawar yang sangat jauh hingga mampu melintas batas negara memungkinkan penyebaran virus menjadi jauh lebih cepat.

Habitat dan sumber makanan mereka kini juga cenderung tumpang tindih dengan manusia.

Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, memaparkan, perubahan iklim hinga peningkatan mobilisasi manusia seperti urbanisasi dan penambahan populasi yang begitu cepat, menyebabkan peningkatan risiko kontak dengan virus kelelawar semakin besar.

Artinya, itu memungkinkan manusia memasuki wilayah kelelawar atau sebaliknya. Sebagai contoh, di Malaysia, peternakan babi komersial yang sengaja dikembangkan di tengah hutan mengakibatkan wabah manusia pertama virus Nipah pada tahun 1998, melalui babi.

Selain itu, Profesor Agus dan Anung sepakat bahwa risiko penularan dari kelelawar ke manusia semakin tinggi karena masyarakat di beberapa daerah Indonesia punya kebiasaan mengonsumsi daging kelelawar.

Di Sulawesi Utara, daging kelelawar yang dalam bahasa lokal disebut paniki dijual bebas di sejumlah pasar kuliner ekstrem yang berpusat di Pasar Tomohon.

Studi 2015 dalam jurnal Global Ecology and Conservation mengungkap, ada 45-75 ekor kelelawar yang diburu setiap hari dengan peningkatan jumlah di akhir pekan dan perayaan hari besar, sebanyak 85 persen pembeli adalah etnis lokal dari suku Minahasa dan Sangir.

Tirto menulis, hobi masyarakat menyantap daging kelelawar lantaran tiga hal. Pertama, faktor sosial dan tradisi yang disebut bushmeat atau makan hewan buruan. Kedua, faktor ekonomi karena harga belinya lebih murah daripada hewan ternak, apalagi jika diburu sendiri.

Ketiga, adanya kepercayaan bahwa hati dan jantung kelelawar dapat menyembuhkan asma, sekaligus sumber protein tinggi nan sehat karena hewan nokturnal ini tinggal di hutan dan hanya memakan buah.

Oleh sebab itu, mengingat potensi penyakit dan beberapa vaksin penangkal virus kelelawar, pun pemberantas penyakit pada kelelawar—menggunakan sinar ultraviolet—masih dikembangkan, Prof Agus menyarankan, masyarakat tidak lagi mengonsumsi daging kelelawar.

Pasalnya, menyingkirkan kelelawar bukanlah cara untuk mencegah dan menghindari penyakit.

Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa membunuh kelelawar tidak mengurangi penularan penyakit, tetapi justru meningkatkan jumlah kelelawar yang rentan menularkan penyakit.

BACA JUGA