KESEHATAN ANAK

Kenali beda stunting dan pendek

Ilustrasi tinggi badan anak.
Ilustrasi tinggi badan anak. | Littlekidmoment /Shutterstock

Stunting pasti pendek, tetapi pendek belum tentu stunting. Mari mengenali bedanya.

Stunting mampu merenggut kesejahteraan dan masa depan anak-anak. Di Indonesia, prevalensinya yang sangat tinggi tergolong masalah genting dan perlu segera dituntaskan.

Ini pula yang menjadi sorotan pada debat calon presiden putaran ketiga 2019 pada Minggu, 17 Maret lalu.

Anak stunting biasanya bisa dikenali dari tubuh yang pendek. Namun, bukan berarti semua anak bertubuh pendek menandakan stunting, meski tubuh lebih pendek juga perlu diwaspadai.

Kebingungan soal perbedaan ini pernah diungkap sebuah studi di Tanzania. Peneliti menemukan, banyak orang tua yang sebetulnya menyadari pertumbuhan anak terhambat tetap menganggap normal karena tak bisa membedakan kapan anak yang pendek mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan tertentu.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K)., FAAP., dan Prof. dr. Dodik Briawan MCN berpendapat perbedaan terbesar antara pendek dan stunting terletak pada penyebab.

Menurut mereka, tubuh pendek bisa disebabkan sangat banyak hal, sedangkan stunting lebih disebabkan gizi buruk berkepanjangan (malnutrisi kronis) ditambah sejumlah faktor terkait.

“Selain kurangnya gizi, infeksi berulang dan penyakit kronis menjadi penyebab stunting," kata dr Aman.

Indonesia termasuk negara dengan penderita gizi buruk akut dan kronis. Persentase balita penderita stunting pada 2017 naik dibandingkan dua tahun sebelumnya, berada di angka 29,6 persen dan wasting (kurus) sebanyak 9,5 persen, serta underweight (gizi kurang) yakni 17,8 persen.

Steven Dowshen, MD., menambahkan, agar lebih jeli membedakan pendek dan stunting ada baiknya memahami dulu seperti apa pola pertumbuhan anak berperawakan pendek (short stature), mengingat jenis dan penyebab tubuh pendek cakupannya sangat luas.

Berdasar variasi, papar Dowshen, pola pertumbuhan anak terbagi dua. Normal dan tidak.

Anak bertubuh pendek yang normal, biasanya tidak memiliki gejala penyakit atau gangguan tertentu yang memengaruhi tingkat dan kecepatan pertumbuhan.

Ini bisa terjadi karena turunan (genetik), mereka bisa tumbuh setinggi orang tuanya, atau karena terlambat tumbuh (growth delay), di mana mereka mencapai pubertas lebih lambat, tapi cenderung bisa mengejar tinggi teman-teman di masa dewasa.

Penyebab anak terlambat tumbuh, jelas spesialis anak Karen Gill, MD., karena “memiliki usia tulang tertunda, yang berarti tulang mereka matang lebih lambat daripada usianya.”

Sementara itu, lanjut Dowshen, anak bertubuh pendek dengan pola pertumbuhan tidak normal biasanya memiliki gangguan pertumbuhan (growth disorder) yang bisa mencegah mereka tumbuh secara optimal.

Sekitar lima persen gangguan pertumbuhan disebabkan kondisi medis (faktor patologi) semisal penyakit kronis, hingga penyakit endokrin atau kelainan hormon. Stunting sendiri merupakan salah satu jenis gangguan pertumbuhan dalam kategori gagal tumbuh yang berbeda dari jenis lain.

Dengan demikian, "Kelainan hormon yang ada pada bapak dan ibu pendek itu tidak stunting, kelainan tulang pun tidak stunting,” tegas dr Aman.

Sebagai contoh, gangguan tubuh pendek yang ekstrem atau disebut kerdil (dwarfisme), umumnya dibagi dua kategori. Yakni proporsional—seluruh badan kecil dan pendek tapi pas di tubuh, dan tidak proporsional—beberapa anggota tubuh bisa lebih pendek atau lebih besar dari yang lain.

Meski anak stunting memiliki tubuh proporsional, kerdil yang proporsional biasanya sudah tampak begitu lahir karena kekurangan hormon pertumbuhan. Sementara kerdil nonproporsional yang lebih umum kebanyakan disebabkan kelainan genetik.

Keduanya jelas berbeda dari stunting yang disebabkan kekurangan gizi akibat kemiskinan. Terlebih lagi, dwarfisme dan gangguan pertumbuhan lain cenderung tidak memengaruhi kecerdasan seseorang. "Stunting bukan hanya soal tubuh yang pendek. Anak stunting empat kali lebih mudah meninggal, dan IQ-nya turun 11 poin," tutur Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K)., Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, menerangkan efek stunting.

Selain kerdil, jelas Gill, faktor patologi berbeda menyebabkan anak tumbuh pendek dengan tanda-tanda berbeda pula. Misal, jika anak pendek karena mengalami defisiensi hormon pertumbuhan (GHD), pertumbuhan wajahnya akan terlihat sangat muda secara tidak normal.

Berdasarkan standar WHO, pertumbuhan anak berusia 0-5 tahun dikatakan mengalami gangguan termasuk stunting bila nilai Z -2, atau seperti dibilang dr Aman, jika tinggi badannya hanya sekitar 8,5-11,75 cm--lebih pendek daripada rata-rata normal anak seusianya. Sementara anak bisa disebut dwarfisme dan stunting berat (severely stunting) bila nilai Z -3.

Lebih lanjut, dr Aman menekankan setiap anak bisa tumbuh dengan kecepatan berbeda sekalipun mereka masih satu keluarga.

Oleh sebab itu, saran Francisco J. Rosales, MD, ScD, direktur medis Urusan Ilmiah dan Medis dari Abbott, alih-alih membandingkan pertumbuhan satu anak dengan anak lain di usia yang sama, lebih bijak jika orang tua secara teratur memantau pertumbuhan anak dan segera mengonsultasikan ke dokter jika pertumbuhan melambat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR