KESEHATAN ANAK

Kenali tanda gangguan mental pada anak

Ilustrasi gangguan mental pada anak.
Ilustrasi gangguan mental pada anak. | A3pfamily /Shutterstock

Bukan hanya pada orang dewasa, ternyata banyak anak kecil yang mengalami gangguan mental. Namun, menurut studi baru yang dirilis dalam JAMA Pediatrics, terbatasnya akses dan pengetahuan, juga stigma negatif, dan kekhawatiran finansial membuat keberadaannya diabaikan.

Padahal, jika tidak segera ditangani, ini akan memengaruhi perkembangan dan keberlangsungan pendidikan, serta potensi anak untuk hidup sejahtera. Mari mengenali tanda-tandanya.

Danielle Rannazzisi, Ph.D., seorang psikolog anak mengatakan, banyak orang tua sebetulnya sadar ada sesuatu yang tak beres dengan anaknya, tapi bingung dan harus berjuang keras menyimpulkan apa arti ketidakberesan itu.

Sering kali, kata dia, para orang tua salah paham soal tanda awal gangguan kesehatan mental sebagai tipikal perilaku balita tantrum yang kelewat batas. Misal, ketika anak 2 tahun mengamuk tak henti selama lebih dari satu jam, disertai melempar barang, memukul, bahkan menggigit ketika didekati.

Lanjut Rannazzisi, orang tua juga salah paham saat menilai gangguan kecemasan adalah kemalasan yang parah. Contohnya ketika anak 7 tahun tidak mau sekolah, setiap pagi memohon membolos dan tiap hari pulang menangis. Walau orang tua tahu ini masalah nyata karena ada kepanikan di mata anaknya, mereka abai.

WHO memperkirakan 10-20 persen anak-anak dan remaja di seluruh dunia mengalami setidaknya satu gangguan kesehatan mental. Sayangnya, sekitar 76-85 persen dari mereka yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak menerima perawatan.

Di Indonesia, meski pemerintah telah mengakui psikolog sebagai pekerja kesehatan sejak 2008, jumlahnya masih sangat terbatas. Apalagi sangat jarang sekali ada praktisi kesehatan mental yang menjangkau masyarakat di puskesmas.

Lalu, bagi orang yang tidak punya asuransi kesehatan, biaya perawatan kesehatan mental bisa sangat mahal. Punya asuransi pun, bukan berarti seluruh biaya terapi dan obat-obatan yang terus bertambah akan ditanggung sepenuhnya.

Lebih-lebih, anggapan umum mengenai gangguan mental adalah orang gila. Banyak orang tua takut anaknnya dilabeli begitu dan didiskriminasi, sehingga urung memeriksakan lebih lanjut.

Padahal, menukil WebMD, gangguan mental punya spektrum luas dan anak-anak lazim memiliki lebih dari satu gangguan.

Paling umum adalah yang bersifat sementara, seperti gangguan perilaku dan perkembangan, gangguan eliminasi (berhubungan dengan pembuangan kotoran tubuh), serta gangguan belajar dan komunikasi.

Namun, gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan suasana hati, serta skizofrenia, gangguan Tic dan ADHD, seluruhnya bisa berkembang hingga dewasa.

Penyebabnya bisa dipicu berbagai kombinasi seperti tekanan lingkungan, hingga trauma akibat bencana atau bahkan kekerasan oleh orang tua yang juga punya gangguan mental tak disadari.

Singkatnya, sambung psikolog sosial Susan Newman, Ph.D., tiap gangguan mental anak punya tanda-tanda serupa. Untuk meyakinkan apakah itu bukan sekadar perilaku buruk, orang tua hanya perlu melihat dua hal: keparahan dan durasi.

Ia menjelaskan, jika perilaku anak "cukup parah hingga berdampak signifikan" pada fungsi sehari-hari mereka di rumah atau sekolah, semisal perilaku buruknya dirasa terlalu mengganggu, berlangsung cukup lama, atau nilai jelek tidak berubah meski berbagai cara telah dicoba, ada baiknya persoalan ini ditangani dengan serius.

Berikut tanda-tanda gangguan mental pada anak mengutip Mayo Clinic beserta keterangan para ahli.

Pertama, perubahan suasana hati signifikan seperti merasa sangat sedih, tidak termotivasi, dan menarik diri, sampai sangat parah seperti merusak hubungan.

“Semua remaja merasa galau dari waktu ke waktu. Tetapi spesifik dua minggu memberi orang tua target yang sangat jelas untuk diingat,” kata Dr. Laura Stith, Kepala Staf Klinis Child Focus di Ohio.

Lanjut dia, “Perhatikan dengan saksama jika anak mendadak tidak berteman dengan sahabatnya atau merenggang tiba-tiba dari kerabat.”

Curigai pula jika anak kehilangan minat pada orang, benda, dan aktivitas yang biasa mereka nikmati. Termasuk sering menolak pergi sekolah tanpa alasan.

Kedua, perubahan emosi yang intens. Waspadai ketakutan, kekhawatiran, atau kemarahan berlebih yang tanpa alasan. Terutama jika sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai jantung berdebar dan napas tersengal.

Ketiga, perubahan perilaku atau kepribadian. Misal, nilai memburuk, atau melakukan hal berbahaya dan di luar kendali seperti jadi sering berkelahi, pun mengekspresikan keinginan untuk menyakiti orang lain.

Keempat, kata Newman, jika anak sulit berkonsentrasi seperti tidak mau duduk diam atau melamun, susah tidur, dan sering mimpi buruk, atau mendadak jorok seperti menolak mandi dan mengabaikan penampilan.

Kelima, gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut, penurunan atau kenaikan berat badan tiba-tiba, dan kehilangan nafsu makan.

Keenam, adalah munculnya perilaku merugikan diri sendiri seperti mencederai diri hingga berpikir bunuh diri. Termasuk penggunaan narkoba dan alkohol.

Terakhir, jika masih ragu, selain lebih terbuka membicarakan kesehatan mental pada anak, para ahli menganjurkan mengonsultasikan permasalahan dengan dokter anak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR