KESEHATAN ANAK

Kenali tanda gangguan pendengaran pada bayi

Masalah pendengaran bayi
Masalah pendengaran bayi | Syda Productions /Shutterstock

Orang tua perlu memperhatikan pendengaran bayi dengan saksama untuk menghindari masalah pendengaran di kemudian hari.

Dikutip CNN Indonesia, ada 34 juta anak mengalami masalah pendengaran. Di Indonesia, diperkirakan ada lima ribu bayi lahir dengan gangguan pendengaran setiap tahun.

Sebagian besar anak-anak dengan gangguan pendengaran lahir dari orang tua dengan pendengaran normal. Gangguan pendengaran pada anak perlu lebih diperhatikan, sebab masalah ini bisa terjadi sejak lahir atau pada kemudian hari.

"Orang tua bisa melakukan observasi respons bayi terhadap suara pada bayi berusia 0-1 bulan," kata Hably Warganegara, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan.

"Coba saja diuji di rumah, didengarkan suara kencang seperti bunyi klakson, suara pintu tertutup, atau tepuk tangan dari belakang," sarannya.

Ketahuilah ada beberapa tanda bila anak mengalami masalah pendengaran, misalnya tidak ada reaksi dan respons terhadap suara, tidak memperhatikan, tidak mengerti arah, punya sedikit energi, sering marah tanpa alasan, juga sering demam dan sakit telinga.

Pada bayi baru lahir dengan pendengaran normal, umumnya ia akan merespons lebih baik. Misalnya, ia bisa kaget bila mendengar suara keras atau memalingkan wajah ke arah suara.

Menjelang dua bulan, pendengaran bayi makin membaik. Ia dapat mendengar suara dalam nada dan intensitas berbeda. Kemudian, pada usia tiga hingga empat bulan, ia mulai mengenali suara orang tuanya.

Mulai usia lima hingga enam bulan, bayi mulai mengoceh. Lalu masuk delapan bulan, bayi mulai memahami hubungan antara kata-kata dan gerakan.

Selanjutnya jelang satu tahun, si buah hati akan memahami kata-kata sederhana seperti "susu" "botol" atau "mandi". Ia juga seharusnya sudah mulai bisa mulai mengucapkan kata-kata seperti "mama" atau "dadah".

Jika anak tidak merespons seperti penjelasan di atas, sebaiknya segera hubungi dokter agar dilakukan pemeriksaan.

Si kecil pun perlu mendapatkan pemeriksaan dari dokter bila mereka tidak menanggapi hal-hal yang dikatakan kepadanya, tidak memperhatikan, perlu menengok ke kanan dan kiri untuk menemukan suara, atau mulai berbicara lebih lambat dari anak-anak pada usia yang sama.

Selain itu, perhatikan bila anak tidak bisa mengucapkan kata dan kalimat dengan cara yang benar, mengalami kesulitan mendengar satu suara ketika beberapa orang sedang berbicara, dan berkinerja buruk di sekolah.

Tak hanya bayi, anak dari segala usia juga perlu melakukan pemeriksaan pendengaran bila memiliki riwayat keluarga dengan masalah pendengaran atau punya penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Agar sang buah hati terhindar dari masalah pendengaran, deteksi dini penting dilakukan. Semakin cepat pemeriksaan dilakukan, semakin cepat juga penanganannya bila memang ada masalah, kemudian peluang sembuh pun semakin besar.

Sebab, masalah pendengaran ini dapat mengganggu kehidupan anak, bahkan bisa memengaruhi perilaku.

Umumnya, anak bisa mudah sedih karena tidak mengerti mengapa orang meneriakinya. Ia juga bisa marah dan frustrasi karena tidak dapat mendengar atau berkomunikasi.

Anak pun bisa merasa malu, terutama di sekitar orang yang tidak ia kenal, karena tidak dapat memahami semua yang orang lain katakan.

Masalah pendengaran pun bisa berdampak pada energinya. Sebab, mendengar membutuhkan banyak energi. Kemudian, perilaku lain ialah tingkat kepercayaan diri yang rendah karena merasa tidak mampu melakukan hal-hal yang teman sebayanya dapat lakukan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR