Kenapa ada orang kembali bugar sebelum meninggal

Ilustrasi
Ilustrasi | Benlat /Shutterstock

Ketika mendengar berita duka, tidak jarang ada komentar semacam, "Padahal dia tampak sehat-sehat saja," atau "Padahal kondisinya sudah membaik."

Misalnya saat selebritas Yana Zein meninggal karena kanker payudara beberapa waktu lalu, Ayu Azhari mengungkapkan kondisi Yana sebelum meninggal dunia sebenarnya sudah jauh lebih baik. Yana bahkan kelihatan lebih segar dibandingkan saat dirawat di Jakarta.

Dilansir Intisari, seorang perempuan penderita alzheimer yang selama setahun tidak pernah berbicara, tidak bisa mengenali orang dan tidak menunjukkan ekspresi, tiba-tiba memanggil anak perempuannya dan mengucapkan terima kasih. Dia juga menelepon cucu-cucunya. Tak lama kemudian perempuan itu meninggal dunia.

Kondisi segar bugar yang singkat sesaat sebelum kematian, oleh dokter dan peneliti Michael Nahm disebut terminal lucidity. Istilah ini ditemukannya pada 2009.

Sebenarnya, menurut Sara Manning Peskin, M.D, fenomena 'bugar sebelum meninggal' ini sudah dilaporkan sejak zaman Hippocrates, Plutarch dan Galen.

Dan dokter Nahm telah mengumpulkan 83 catatan tentang terminal lucidity yang ditulis selama 250 tahun. Sebagian besar disaksikan oleh para ahli kesehatan, dan dipaparkan Nahm dalam laporan yang berjudul Terminal lucidity: a review and a case collection.

Menurutnya, ada dua jenis terminal lucidity. Pertama, sebanyak 90 persen kasus terminal lucidity terjadi dalam waktu seminggu sebelum waktu kematian, dan hampir separuhnya terjadi pada hari terakhir kehidupan, atau terjadi hanya beberapa jam sebelum kematian.

Sementara itu, Alexander Batthyany, PhD, seorang pengamat kematian dan pengajar ilmu kognitif di University of Vienna dan International Academy of Philosophy, mengatakan bahwa sebenarnya fenomena ini tidak sering terjadi. Batthyany menyebutnya sebagai fenomena "the light before the end of the tunnel".

Dalam makalah berjudul Terminal Lucidity: Preliminary Data 2014 yang dipresentasikan dalam kongres tahunan International Association for Near Death Studies di California pada 2015, dikutip dari Huffington Post, Batthyany menyampaikan bahwa sekalipun dalam keadaan sakit dan kondisi otak yang rusak parah, namun kognisi normal atau kejernihan berpikir dapat terjadi, meskipun dalam jumlah kecil. Sekitar 5 sampai 10 persen penderita Alzheimer. Dan hanya pada saat kematian sudah dekat.

Hal ini membuatnya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya proses terjadinya terminal lucidity. Batthyany menggambarkan terminal lucidity sebagai 'mendekati keajaiban, mengingat apa yang kita ketahui tentang fungsi otak dan kognisi'.

Menurut Batthyany, tidak ada perubahan yang dapat diamati di otak, korteks serebral tidak dengan tiba-tiba menumbuhkan miliaran neuron baru. Jadi apa yang menyebabkan terminal lucidity?

Ilmu konvensional tentang otak tidak memiliki penjelasan mengenai hal itu. Penelitian yang dilakukan Batthyany sendiri masih dalam tahap awal. Dia berharap ribuan kuesioner lainnya dapat membawa kejelasan dan mengarah ke satu arah, untuk menjelaskan

Sementara itu, kasus terminal lucidity terus terjadi, dan ada pelajaran yang bisa ditarik darinya. Salah seorang responden Batthyany mengatakan bahwa setelah selama ini dia menganggap pasien Alzheimer sebagai manusia yang hidup tetapi tidak berfungsi apa-apa. Terminal lucidity mengubah cara pandangnya.

"Seandainya Anda melihat apa yang saya lihat, Anda dapat memahami bahwa Alzheimer dapat memengaruhi jiwa namun tidak menghancurkannya. Seandainya saya dapat mengetahui hal ini sebelumnya."

Lebih jauh lagi, dokter Nahm berpendapat, terminal lucidity tidak pandang bulu siapa korbannya. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien kanker atau tumor, strok, demensia, hingga gangguan kejiwaan. Akan tetapi, kondisi terminal lucidity dapat berbeda dari satu penyakit dengan penyakit lainnya.

BACA JUGA