Kenapa Anda perlu bergerak setiap 30 menit

Ilustrasi
Ilustrasi
© Pathdoc /Shutterstock

Riset membuktikan, rutin berolahraga tidak lantas membuat Anda luput dari efek buruk kebiasaan duduk berlama-lama.

Gaya hidup sedentari atau jarang bergerak telah lama dikaitkan dengan beragam efek buruk bagi kesehatan. Obesitas, depresi, diabetes, sindrom metabolisme, juga penyakit jantung.

Ada begitu banyak penelitian yang mengungkap betapa kurang gerak itu merugikan. Pubmed, arsip NIH yang memuat katalog literatur biomedis saja memiliki 4.386 makalah tentang perilaku sedentari yang diterbitkan sejak awal tahun 2016.

Namun, sebuah studi yang dipublikasikan (11/9) dalam Annals of Internal Medicine menyibak fakta baru perihal gaya hidup sedentari. Studi tersebut menyadarkan kita akan risiko kesehatan jangka panjang akibat duduk terlalu lama, bahkan jika Anda termasuk orang yang rutin berolahraga.

Lewat penelitian ini, Keith Diaz, asisten profesor di Columbia University Medical Center ingin mempelajari lebih lanjut hubungan antara perilaku sedentari dan risiko kematian prematur.

Lebih spesifik lagi, mereka ingin menentukan bagaimana perilaku tanpa aktivitas dapat memengaruhi risiko semua penyebab kematian, sesuatu yang mereka yakini telah diabaikan penelitian sebelumnya.

Sebanyak 7.985 orang berusia 45 tahun ke atas untuk mengenakan akselerometer Actical buatan Philips Respironics. Alat ini mengukur pergerakan tubuh dan dan pengeluaran energi.

Para partisipan mengenakannya di pinggang kanan selama lebih dari 10 jam dalam sehari, selama paling tidak empat hari. Kebanyakan dari mereka menggunakannya selama enam sampai tujuh hari.

Setelah itu, tim peneliti mengolah data di dalamnya untuk menentukan seberapa sering partisipan tersebut bergerak dalam periode tertentu, serta berapa lama durasinya. Apakah saat itu mereka di rumah, di kantor, atau berada di tempat lain.

Secara keseluruhan, dalam waktu aktif kebanyakan orang--16 jam, empat kelompok menghabiskan rata-rata 12,3 jam tak bergerak, dan rata-rata 11,4 menit duduk dalam posisi yang sama.

Diaz dan tim kemudian membagi periode sedentari tersebut menjadi empat berdasarkan pola gerakan non-duduk. Mereka lalu menunggu beberapa tahun untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat mortalitas antar kelompok.

Studi kemudian ditindaklanjuti empat tahun kemudian. Dalam periode tersebut, 340 partisipan meninggal dunia.

Hasil tindak lanjut penelitian mengungkap, kelompok yang menghabiskan waktu paling sedikit dalam diam, memiliki tingkat kematian paling rendah dari semua kelompok sedentari lain.

Kelompok yang lebih aktif, cenderung kelihatan lebih muda, memiliki massa tubuh yang lebih sedikit, juga tak punya banyak keluhan kesehatan seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Untuk meneliti perbedaan ini lebih lanjut, peneliti melakukan beberapa analisis post-hoc. Mereka mengontrol beberapa faktor seperti konsumsi alkohol, rokok, daerah domisili, dan tingkat pendidikan dengan tiga model statistik yang berbeda.

Dalam masing-masing model, mereka yang paling jarang duduk--dan duduk dalam periode paling pendek--memiliki tingkat kematian paling rendah dibandingkan semua.

Mereka yang lebih sering beranjak, bahkan sekadar berdiri untuk mengambil remote, atau minum di dapur cenderung memiliki risiko kesehatan lebih rendah. Sementara mereka yang duduk dalam diam selama 30 menit atau lebih memiliki risiko kematian lebih tinggi.

David Alter, periset asal Toronto, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengungkap, hal yang sama juga berlaku jika total waktu sedentari melebihi 12,5 jam per hari.

Jadi, mengapa duduk dalam waktu lama tanpa beranjak sedikitpun begitu berbahaya?

Diaz dan timnya berhipotesis bahwa kondisi tersebut kemungkinan mengganggu pengaturan glukosa, mendorong transformasi patologis pada jaringan otot yang mungkin mirip kondisi diabetes.

"Otot berhenti bekerja seperti seharusnya dan mereka berhenti membongkar glukosa seperti seharusnya," jelas Diaz.

Dari penelitian Diaz dan tim, terungkap bahwa mereka yang masuk kelompok berisiko paling rendah, maksimal duduk diam selama 30 menit. Jadi, beranjak dan bergerak setiap 30 menit adalah sesuatu yang dapat membantu mengimbangi risiko kesehatan yang terkait dengan duduk lama.

Kini, panduan olahraga di AS merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas aerobik intensitas tinggi selama 75 menit, atau aerobik dengan intensitas sedang selama 150 menit setiap pekan. Selain itu juga melakukan aktivitas yang memperkuat otot sebanyak dua hari dalam sepekan.

Berdasarkan penelitian ini, periset mengimbau perlunya penyesuaian panduan untuk memasukkan rekomendasi yang menargetkan dan mengurangi periode perilaku sedentari.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.