TEMUAN ILMIAH

Kenapa kita gemar duduk di tempat yang sama

Ilustrasi kursi yang sama.
Ilustrasi kursi yang sama. | Smileus /Shutterstock

Pernahkah Anda menyadari memilih dan menempati tempat duduk yang sama di dalam ruangan rapat rutin? Atau di ruang kuliah? Atau jika diminta untuk memilih kursi di pesawat, Anda akan memilih sisi yang sama?

Menurut Shekhar Chandra, seorang kandidat Doktor di Massachusetts Institute of Technology di bidang kebijakan publik dalam artikelnya di Quartz, hal seperti ini bisa terjadi pada setiap orang. Pasalnya hal tersebut merupakan psikologi lingkungan.

Chandra menjelaskan, perilaku ini merupakan ekspresi teritorialitas. Menurut Charles J. Holahan, dalam bukunya Environmental Psychology, teritorialitas merupakan sejenis perilaku individu atau kelompok yang bertujuan untuk menguasai dan menempati ruang atau area geografis.

Secara umum, teritorialitas adalah suatu fenomena perilaku yang menunjukkan keberadaan diri dengan menandai atau menciptakan batasan-batasan, untuk memperlihatkan pengawasan dan ‘kepemilikan’ suatu tempat.

Dalam laporan penelitian yang berjudul Territorial cues and defensible space theory, Robert Gifford, seorang profesor psikologi dari University of Victoria, Kanada, mengatakan biasanya teritorialitas dianggap suatu agresi dan pertahanan, seperti ketika suatu negara atau geng sedang berperang tetapi tujuan yang paling umum adalah menjaga perdamaian. “Kebanyakan orang melakukan klaim terhadap tempat, dan yang lainnya diam-diam menyetujui,” ujarnya.

Sementara itu, pemilihan dan penetapan tempat duduk yang sama membuat para siswa dapat mengatur dan mengendalikan hubungan mereka dengan sesama siswa lain secara efektif. Keadaan ini membuat para siswa merasa nyaman dengan lingkungannya, dan merasa lebih kuat.

Marco Costa, seorang psikolog dari University of Bologna, mempelajari kebiasaan duduk para siswa secara objektif, berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh para ilmuwan dari West Texas State University.

Laporan penelitian sebelumnya, yang dipublikasikan dalam SAGE Journal dengan judul Classroom Seating, An Expression of Situational Territoriality in Humans, menunjukkan, ‘penguasaan’ yang berlanjut di ruang kelas yang sama dapat diberi label ‘teritorialitas situasional’ untuk menekankan kesementaraan ‘ruang yang dikuasai’, untuk membedakannya dengan wilayah orang atau kelompok lain.

Dalam penelitiannya, Costa menggunakan kamera yang diletakkan di tempat yang tidak menyolok. Dia merekam kebiasaan duduk di dua ruang kuliah di universitas selama empat minggu. Masing-masing ruang memuat 47 dan 31 mahasiswa.

Dijabarkan dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Environment and Behavior, penelitian ini melibatkan para mahasiswa baru di awal semester untuk meminimalisir dampak persahabatan yang mendikte pengaturan tempat duduk. Costa juga memilih ruang kelas dengan jumlah kursi yang lebih banyak daripada jumlah mahasiswa.

Hal ini memungkinkan para mahasiswa memiliki lebih banyak kebebasan, serta mengantisipasi kemungkinan adanya tekanan dari orang banyak. Dengan menggunakan data ini, Costa memperkirakan perpindahan rata-rata dan dimensi wilayah untuk melihat pola tempat duduk.

Hasilnya, Costa menemukan sebagian besar siswa memilih kursi yang sama berulang kali, Perilaku ini mencerminkan tindakan mengembangkan wilayah pribadi kecil di sekitar tempat duduk, dan hal tersebut membuat mereka merasa lebih nyaman.

Costa juga mengamati ketika siswa tidak dapat ‘menempati’ kursinya dan mempertahankannya dari ‘pendudukan’ orang lain ketika mereka tidak masuk, mereka tetap bisa duduk di tempat yang sama. Costa berkesimpulan, pilihan kursi yang sama membantu siswa menguasai lingkungan mereka dan mencapai tujuan akademik dan pribadi nyaris tanpa gangguan.

Penelitian sejenis yang dilakukan Gilles Clement dari Lyon Neuroscience Research Center dan Angie Bukley dari International Space University memperkuat temuan Marco Costa. Mereka mengamati pemilihan tempat duduk mahasiswa di ruang kuliah selama dua program akademik selama 19 dan 44 hari, dan mereka mengumpulkan data setiap jam, dengan menggunakan kamera tersembunyi.

Hasilnya, para mahasiswa tersebut mulai menetapkan kursi pilihan sejak hari kedua di kelas, dan lebih dari separuh mahasiswa duduk di kursi yang sama sampai masa perkuliahan berakhir.

Penelitian yang dilakukan oleh Naz Kaya, seorang psikolog pendidikan independen dan Brigitte Burgess dari University of Southern Mississippi, jauh lebih rinci. Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Environment and Behavior, mereka menemukan beberapa variasi letak duduk tergantung pada tata kelas.

Ternyata, perempuan lebih sering menempati tempat yang sama daripada laki-laki, terlepas dari desain kelasnya. Kaya dan Burgess menyimpulkan ini karena perempuan sering membawa tas selain buku, jadi timbul keinginan untuk mengklaim kursi yang memiliki lebih banyak ruang.

Apa efek dari perilaku ini? Menurut Profesor Ralph B.Taylor, dari Temple University, yang juga penulis buku Human Territorial Functioning, dengan membangun wilayah pribadi, seseorang dapat menghindari keharusan berbasa-basi dengan lingkungan eksternal.

Mereka hanya ingin merasa nyaman, dan tidak ingin membuang energi mental jika setiap saat harus menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kenyamanan ini membuat mereka lebih mudah mencapai tujuan, seperti berkonsentrasi pada kuliah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR