HUBUNGAN SOSIAL

Kenapa kita mudah dibohongi orang dekat

Ilustrasi orang penasaran.
Ilustrasi orang penasaran. | Khosro /Shutterstock

Begitu banyak hal kita percayai meskipun bukti pendukungnya hanya sedikit. Padahal, konsekuensi terburuk dari mudah percaya adalah dibohongi.

Kebohongan yang disampaikan orang dekat seperti teman, keluarga, atau pasangan pun cenderung lebih mudah dipercaya. Kenapa begitu?

Secara evolusioner, manusia belajar bertahan hidup dan bekerja sama membangun hubungan sosial dimulai dengan memercayai orang terdekatnya.

Kepercayaan itu lantas berkembang pada nonkerabat dan menjadi kecenderungan alami manusia untuk berkomunikasi langsung dengan orang lain. Ini menunjukkan bahwa seseorang bisa diandalkan dan dipercaya.

Di sisi lain, membuatnya mudah tertipu karena kedekatan juga bisa dipupuk hingga titik tertentu lewat tindakan berbohong.

Contohnya kebohongan tanggal 1 April (April mop). Bila tidak sadar itu tanggal 1 April, mungkin reaksi pertama Anda ketika dibohongi adalah percaya, alih-alih merasa dibohongi.

Ini sangat lazim karena otak manusia memproses informasi dengan cara yang bias. Ada banyak teori yang mengemukakan kecenderungan bias manusia.

Salah satunya yang disebut psikolog evolusioner sebagai “bias positif”, di mana otak dirancang untuk menganggap kebanyakan orang bertindak dengan cara yang jujur dan tulus.

Bias positif, selain memungkinkan kita lebih disukai orang lain, juga membuat ambang penerimaan lebih rendah alias tidak kritis, sehingga lebih mudah percaya pada suatu kebohongan.

Tentu saja bias positif tidak berlaku terus menerus karena kita hanya menerapkannya pada orang yang dikenal atau layak menurut kita. Ada kalanya pula seseorang sadar—meskipun hanya secara intuitif--bahwa orang lain sedang memanipulasinya demi tujuan pribadi.

Pasalnya, tiap manusia memiliki rasa takut akan kebodohan atau sugrofobia. Selain itu, menurut psikolog pemenang Nobel, Daniel Kahneman, kita telah berevolusi dengan dua konsep pemikiran, yakni sistem pemikiran pertama yang intuitif layaknya nenek moyang kita, dan sistem pemikiran kedua yang analitik dan lebih rasional.

Akan tetapi, kata Paul Ekman, seorang profesor emeritus psikologi di University of California, San Francisco, sekalipun mampu berpikir rasional, jika sumbernya adalah orang yang dikenal, seseorang tetap saja bisa mudah dibohongi karena adanya keinginan untuk percaya. Bahkan sampai memberi kesempatan kedua.

Faktor keinginan ini mengacu pada konstruksi psikologis yang disebut “disonansi kognitif”, yakni ketika Anda meyakinkan diri sendiri untuk percaya—sekalipun tidak benar--pada hal-hal yang ingin Anda percayai, dan mengabaikan fakta yang tidak ingin Anda yakini.

Ekman mencontohkan, ketika Anda tidak yakin pada kesetiaan pasangan lalu ditawari cara untuk mengetahui apakah ia mengkhianati Anda, kemungkinan besar Anda akan tertarik. Namun, ketika cara itu siap dilancarkan, boleh jadi Anda urung dan lebih memilih ingin percaya. Jadi, semacam melakukan penyangkalan disengaja.

Secara teknis, teori dan contoh yang dikemukakan Ekman senada dengan dua teori lain yang menjelaskan alasan orang mudah dibohongi.

Pertama, bias konfirmasi. Yakni aksi mencari pembenaran untuk mengonfirmasi keyakinan, dengan mengabaikan informasi (valid) yang bertentangan dan justru memilih informasi yang meragukan.

Bias konfirmasi ditemukan dalam satu studi sebagai pemicu kabar hoax.

Kedua, “cognitive misers” atau kikir secara kognitif, yang menggambarkan otak kita lebih memilih memercayai intuisi ketimbang analisa sebagai cara instan tanpa repot.

Contoh terkenal dari teori ini adalah suatu kondisi yang disebut “ilusi Musa”—disimpulkan berdasarkan pertanyaan survei "Berapa banyak jenis hewan yang dibawa Musa ke bahteranya?"

Ilusi Musa menjelaskan bahwa kita begitu mudah mengacuhkan detail sebuah pernyataan, karena ada hal lain yang dinilai lebih menarik. Sekitar 10-50 persen orang yang disurvei gagal menyadari bahwa yang memiliki bahtera itu adalah Nuh, bukan Musa.

Jadi, walaupun kita tahu harus merunut fakta dan bukti, kita tetap menggunakan perasaan berdasarkan penilaian diri sendiri terhadap apa yang benar dan salah.

Efek kebohongan dari ilusi Musa ini, meski awalnya bisa saja menimbulkan keraguan, akan diyakini sebagai kebenaran mutlak bila disampaikan berulang-ulang.

Selain penjelasan di atas, ada banyak faktor yang membuat kita lebih mudah dibohongi.

Suasana hati misalnya, bisa memengaruhi cara kita memproses kebohongan. Orang yang sedang senang justru lebih sembrono dibanding orang yang marah saat dibohongi. Suasana hati negatif membantu kita lebih fokus dan berhati-hati dalam memilh informasi.

Lalu, orang yang merasa lebih cerdas ketimbang orang lain juga cenderung lebih mudah dibohongi. Sebabnya, karena merasa lebih banyak tahu mereka cenderung enggan memperhatikan fakta.

Orang pun cenderung mudah dibohongi jika berkaitan dengan status dan identitas sosial. Cara ini sering dimanfaatkan dunia pemasaran dan periklanan.

Misalnya, iklan barang bermerek secara halus bisa menarik kita untuk memenuhi kebutuhan sosial tadi, walau nyatanya status dan identitas nyata tak bisa diperoleh hanya dengan membeli produk.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR