Kenapa penduduk Indonesia malas jalan kaki

Ilustrasi pejalan kaki.
Ilustrasi pejalan kaki.
© ultramansk /Shutterstock

Data ponsel dari ratusan ribu orang di seluruh dunia menunjukkan bahwa orang Indonesia ternyata paling jarang jalan kaki. Benarkah karena malas, atau ada faktor lain yang memengaruhi?

Temuan ini merupakan hasil studi yang dilakukan oleh para peneliti di Stanford University, Amerika Serikat.

Para peneliti di universitas tersebut menganalisis data menit ke menit terhadap sekitar 717.000 orang dari 111 negara yang menggunakan aplikasi Argus, suatu aplikasi yang dapat mencatat langkah penggunanya, selama kurang lebih 95 hari.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature (10/7) menyatakan bahwa penduduk Hong Kong menempati posisi pertama dalam daftar orang yang paling rajin berjalan kaki. Rata-rata mereka berjalan kaki 6.880 langkah setiap hari.

Sementara penduduk yang paling malas berjalan kaki adalah orang Indonesia, setiap harinya hanya berjalan sebanyak 3.513 langkah.

Dikutip dari BBC, Scott Dep, seorang profesor di bidang bioteknik dan merupakan salah satu peneliti mengatakan bahwa penelitian ini 1.000 kali lebih besar dari penelitian tentang pergerakan manusia yang pernah ada sebelumnya.

"Ada banyak survei tentang kesehatan yang hasilnya luar biasa," jelasnya. "Tetapi penelitian terbaru kami menyajikan data dari lebih banyak negara, lebih banyak subjek dan melacak kegiatan orang-orang secara berkelanjutan. Penelitian ini juga membuka jalan baru dalam penelitian ilmiah dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita lakukan sebelumnya."

Penelitian ini juga memberikan wawasan penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Situs Daily Mail melansir bahwa rata-rata jumlah langkah harian adalah 4.961 atau empat kilometer. Akan tetapi, ternyata jumlah langkah harian tidak terlalu memengaruhi tingkat obesitas suatu negara.

Dengan menggali beberapa faktor, seperti ketidaksetaraan aktivitas, para ahli juga meneliti taraf obesitas penduduk. Mereka menemukan bahwa semakin besar ketidaksetaraan aktivitas, maka semakin tinggi tingkat obesitas. Antara penduduk yang rajin beraktivitas atau bergerak dengan yang malas.

Dikutip dari situs BBC Indonesia, salah seorang peneliti, Tim Althoff, memberikan contoh negara Swedia. Negara tersebut merupakan salah satu negara dengan celah kesenjangan aktivitas yang sempit. "Swedia merupakan negara dengan taraf obesitas yang rendah," jelas Tim.

Para ahli juga menemukan bahwa kesenjangan aktivitas sebagian besar didorong oleh perbedaan gender. Misalnya di Jepang yang memiliki tingkat obesitas dan kesenjangan rendah, pria dan wanitanya beraktivitas dengan derajat yang sama.

Sementara di negara-negara dengan tingkat kesenjangan yang tinggi, seperti Amerika Serikat dan Arab Saudi, para wanitanya lebih sedikit beraktivitas.

Faktor lain yang diteliti adalah infrastruktur. Penelitian dengan menggunakan data telepon pintar ini menunjukkan bahwa kota-kota yang memiliki pedestrian yang bagus dan memadai, memiliki jumlah pejalan kaki yang lebih banyak. Para periset mengatakan temuan ini dapat membantu merancang pembangunan kota untuk meningkatkan aktivitas fisik yang lebih besar.

Kenapa penduduk Indonesia malas berjalan kaki?

Tentu saja hal ini bukan tanpa sebab. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan sudah semakin meningkat.

Ternyata ada beberapa penyebab malasnya penduduk Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, untuk berjalan kaki, seperti dilansir dari Detik.

Jeleknya trotoar atau sarana pedestrian merupakan salah satu alasan. Banyaknya penggalian yang menyebabkan rusaknya trotoar, bersaing dengan warung kaki lima maupun bersaing dengan kendaraan roda dua yang naik ke atasnya juga merupakan penyebab ketidaknyamanan berjalan di trotoar.

Belum ada transportasi umum yang memadai, cuaca yang panas dan polusi juga merupakan penyebab penduduk Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik berjalan kaki.

Faktor terpenting lainnya adalah keamanan. Tindak kriminalitas yang cukup tinggi di kendaraan-kendaraan umum maupun di jalan akhirnya membuat orang malas meninggalkan kendaraan pribadi mereka.

Sementara bagi banyak perempuan maraknya pelecehan seksual, mulai dari siulan atau catcalling sampai menyentuh bagian tubuh, yang terjadi di jalan dan di tempat-tempat umum, membuat mereka bukan malas tapi takut berjalan kaki.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.