Kenapa perempuan lebih lelah daripada laki-laki

Ilustrasi
Ilustrasi | Doucefleur /Shutterstock

Sebuah studi baru menunjukkan perempuan secara signifikan lebih terpengaruh oleh gangguan tidur daripada pria.

Perempuan juga memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami gejala depresi parah dan keletihan akibat kurang tidur ketimbang lawan jenisnya.

"Kami menemukan bahwa perempuan cenderung lebih rentan mengalami gangguan tidur yang berhubungan dengan kantuk di siang hari. Perempuan juga cenderung lebih terpengaruh beban yang ditimbulkan oleh gejala-gejala yang mereka alami," ujar Dr. John Malouf pendiri klinik SleepGP di Queensland, Australia yang melakukan studi ini.

Temuan Malouf dan tim, sebenarnya dapat tergambar dari aktivitas kebanyakan perempuan.

Seperti yang sudah diketahui, kaum Hawa harus senantiasa menjaga keseimbangan hidup. Banyak dari mereka yang harus bekerja, berteman, mengurus anak, dan menjaga hubungan dengan pasangan.

Sementara itu, kebanyakan pria mendengkur kala tidur. Hal ini mau tak mau memaksa pasangan mereka untuk tidur di kamar terpisah.

Ini mengakibatkan perempuan harus lebih berjuang melewati hari-harinya yang sangat menantang. Maka, tak heran jika kaum Hawa cenderung lebih pelupa dan kerap kali sulit berkonsentrasi.

Lebih parahnya lagi, depresi dan lelah yang dirasakan bersamaan bisa benar-benar berdampak buruk, misalnya sampai membuat seseorang kehilangan motivasi berbuat sesuatu yang baik untuk diri mereka sendiri.

Kembali ke riset, Dr. Malouf dan tim melakukan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine ini untuk mencapai pemahaman, di mana letak perbedaan kedua gender dalam mencari bantuan atas masalah gangguan tidur.

Mereka melakukan audit klinis terhadap 744 pasien dari tujuh dokter umum yang berbeda di Australia mulai April 2013 sampai Januari 2015. Seluruh pasien ini telah menjalani perawatan yang berhubungan dengan gangguan tidur.

Para pasien diminta mengisi berbagai kuesioner dengan pertanyaan yang berhubungan dengan tidur. Pasien juga menggunakan Epworth Sleepiness Scale, Snoring Severity Scale (SSS), dan Functional Outcomes of Sleep Questionnaire 10.

"Yang mengejutkan dari hasilnya adalah bahwa sementara laki-laki dan perempuan usianya cenderung sama, gejala dan efeknya pada kehidupan mereka sangat berbeda," kata penulis utama riset Allegra Boccabella.

Para periset berharap temuan mereka dapat membantu tenaga medis profesional untuk mengatasi gangguan tidur secara lebih holistik.

"Jika kami dapat mengidentifikasi apa dampaknya dalam hidup mereka, kami dapat membantu mencari jalan keluar yang lebih baik bagi pasien," Boccabella menjelaskan.

Dalam kesempatan lain, Dr. Rajkumar Dasgupta, asisten profesor medis klinis di Keck School of Medicine, University of Southern California--yang tidak terlibat dalam studi ini--menjelaskan bahwa ada beberapa hal berbeda yang mungkin membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan tidur.

Dasgupta mengatakan hormon estrogen dan progestin mungkin berfungsi untuk membantu mengatur waktu tidur. Para dokter, kata Dasgupta belum benar-benar yakin cara kerjanya.

Namun, karena kedua hormon ini berfluktuasi secara teratur setiap bulan, bisa jadi mereka lah yang membuat perempuan susah tidur saat datang bulan.

Kehamilan juga berdampak pada kualitas tidur perempuan. Mual di pagi hari dapat memicu letih dan menyebabkan insomnia. Belum lagi, perempuan hamil biasanya dihadapkan pada pilihan posisi tidur yang sangat terbatas.

Tak hanya itu, anemia dan restless leg syndrome (RLS) juga dapat membuat perempuan hamil terjaga di malam hari.

Saran dari Dasgupta untuk memperbaiki kualitas tidur, perempuan sebaiknya menentukan waktu tidur secara konsisten. Hindari penggunaan gawai di tempat tidur, atau makan besar sesaat sebelum beranjak ke peraduan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR