Kiat berdamai dengan perubahan

Ilustrasi
Ilustrasi
© Antonio Guillem /shutterstock

Kehilangan pekerjaan, putus cinta, sakit atau pindah ke tempat baru akan membawa perubahan dalam hidup seseorang. Ada kalanya perubahan itu masih dapat dikendalikan, tapi bisa juga sebaliknya.

Tentu bukan hal mudah untuk menghadapi sebuah perubahan. Apalagi bagi mereka yang baru saja merasakannya. Namun, perubahan tidak bisa dihentikan dan harus tetap dihadapi.

M.J Ryan dalam buku How to Survive Change You Didn't Ask For, memaparkan bahwa perubahan harus diterima.

Menolak perubahan sama saja dengan membebani pikiran dan membuat diri terbelenggu. Penolakan juga dapat membuat seseorang tidak dapat mencari cara untuk bisa mengatasi masalah.

Dalam bukunya yang berjudul Who Moved My Cheese, Dr. Spencer Johnson mengungkapkan, jika dihadapkan pada perubahan yang buruk hindari untuk terus mencari tahu penyebabnya. Sebab, fokus pada pertanyaan mengapa hidup menjadi tidak sama seperti sebelumnya akan membuang waktu dan energi.

Tidak hanya itu, perasaan sedih dan kecewa pun akan semakin kuat dirasakan. Jadi apa yang sebaiknya dilakukan agar bisa berdamai dengan perubahan?

Sama seperti nasihat Ryan, hadapilah. Karena tidak semua perubahan berakibat buruk. Kabar baiknya, jika seseorang mau berusaha menjalani dan beradaptasi dengan perubahan, hal itu juga bisa memberikan manfaat.

Sisi positif dari menerima perubahan adalah mampu memperkuat pikiran. Cara latihannya sederhana.

Luangkan waktu minimal 10 menit untuk menulis tentang hal-hal yang berpengaruh positif bagi diri sendiri. Hal positif dapat dirasakan jika seseorang fokus pada nilai dan bukan ketakutan yang menghantui diri sendiri.

Tanyakan kepada diri sendiri akan apa yang penting dalam hidup. Apakah keluarga, teman, dan keyakinan religius, dapat menciptakan penyangga yang sangat kuat melawan masalah apapun termasuk perubahan yang dianggap jelek.

Sebuah perubahan yang memberikan dampak buruk bisa membuat seseorang stres. Tapi, Nick Tasler seorang psikolog organisasi yang juga penulis buku mengungkapkan bahwa tidak semua stres itu buruk. Stres bisa menjadi hal yang baik, jika Anda memilih untuk melihatnya dari sisi positif

Meski diakui tidak mudah untuk mengelola stres. Tetapi dengan bertanya pada diri sendiri, apakah stres akan membuat situasi lebih baik. Apakah perasaan tertekan bisa membantu Anda mengakhiri perasaan sedih dan kecewa?

Menghadapi perubahan pun tidak selalu harus membuat pikiran ruwet. Cobalah sejenak untuk mencari sisi jenaka dari situasi yang tidak biasa. Cara yang terkesan nyeleneh ini laik coba karena membuat Anda melihat masalah dari perspektif baru.

Peneliti Rod A. Martin telah mempelajari efek dari gaya humor yang berbeda. Martin telah menemukan bahwa olok-olok yang menyenangkan, dapat meringankan gundah gulana dan memperbaiki interaksi sosial.

Selanjutnya upaya berdamai dengan perubahan juga perlu didukung oleh diri sendiri caranya dengan membuka diri. Yaitu, menerima masa lalu dan berjuang untuk masa depan lebih baik.

Seperti kisah hidup, seorang mantan tawanan Nazi pada Perang Dunia II, Viktor Frankl. Setelah ia kembali ke rumah setelah menghabiskan tiga tahun yang mengerikan di kamp konsentrasi Nazi, dia menemukan bahwa ibunya, saudara laki-laki, istri, dan anaknya yang belum lahir semuanya telah meninggal.

Tapi seiring musim berganti, Frankl mulai menemukan bahwa meski dia tidak pernah bisa kembali ke kehidupan yang pernah dia miliki, dia masih bebas untuk bertemu dengan teman baru, menemukan cinta baru, menjadi ayah lagi dan bekerja.

Kisah Frankl ini mengajarkan hal tentang membuka diri.

Perubahan memang tidak selalu positif, tetapi bagaimana kita menyikapinya dengan positif lah yang dapat mengantar kita pada kebebasan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.