Kiat mengatasi marah pada rekan kerja

Saat mengalami masalah dengan salah satu rekan, tak perlu menyebarkan gosipnya ke seluruh kantor. Mengumumkan konflik pada rekan kerja yang lain membuat Anda terlihat tidak profesional. Bisa jadi, kata-kata Anda akan berbalik menyerang suatu saat nanti.
Saat mengalami masalah dengan salah satu rekan, tak perlu menyebarkan gosipnya ke seluruh kantor. Mengumumkan konflik pada rekan kerja yang lain membuat Anda terlihat tidak profesional. Bisa jadi, kata-kata Anda akan berbalik menyerang suatu saat nanti. | Antonio Guillem /Shutterstock

Baik cinta atau tidak terhadap pekerjaan, konflik dengan sesama rekan kerja yang membuat Anda jadi sangat marah bisa saja terjadi. Meski Anda sudah berusaha menghindari, masalah tetap saja bisa muncul selama Anda bekerja dan berhubungan dengan banyak orang.

Agar masalah tak menjadi semakin rumit dan kemarahan bisa mereda, berikut cara yang bisa dilakukan, seperti dijelaskan oleh Brit+Co dan Bustle berikut ini:

Mengakui bahwa konflik terjadi karena Anda peduli

Ketidaksepakatan di tempat kerja tidak dapat dihindari, terutama jika perusahaan Anda di tengah-tengah perubahan besar seperti merger atau sedang menyelaraskan strategi bisnis. Bila Anda merasa bersemangat melakukan pekerjaan, adu pendapat dengan rekan kerja tak selalu buruk, selama masih dilakukan dengan dasar saling menghormati.

Pikir matang-matang

Jika Anda berencana untuk bertahan di pekerjaan saat ini, jelas layak untuk menyelesaikan konflik dengan baik. Bahkan jika Anda berpikir untuk meninggalkan pekerjaan pun, tidak disarankan bertengkar dengan rekan kerja.

Anda akan terjebak dengan pertanyaan "Bagaimana Anda menyelesaikan konflik?" saat wawancara kerja. Harus diingat bahwa perusahaan tempat Anda bekerja bisa jadi referensi untuk pekerjaan selanjutnya.

Jangan menyebarkan informasi konflik

Saat mengalami masalah dengan salah satu rekan, tak perlu menyebarkan gosipnya ke seluruh kantor. Mengumumkan konflik pada rekan kerja yang lain membuat Anda terlihat tidak profesional. Bisa jadi, kata-kata Anda akan berbalik menyerang suatu saat nanti.

Tatap muka

Perang kata-kata di surel atau media lain bukan jalan yang tepat untuk mengatasi konflik. Lebih baik atur waktu untuk bertatap muka dan saling menjelaskan pendapat masing-masing akibat konflik tersebut.

Berhati-hatilah dengan kata-kata

Jangan pernah mengeluarkan kata-kata tidak layak saat mengatasi konflik. Meski masih adu argumen, Anda harus tetap bisa menjaga perkataan, bahkan meminta maaf bila perlu.

Berpikiran terbuka

Saat bertemu dengan rekan kerja dan membahas konflik ini, Anda harus tetap berpikiran terbuka dan mau mendengarkan apa yang sedang dijelaskan oleh rekan Anda itu. Ini bisa membuat Anda memahami mengapa pemikiran orang bisa berbeda saat memandang sesuatu.

Cari penengah

Bila konflik dirasa terlalu besar, carilah orang ketiga yang bisa membantu, mungkin atasan atau pihak personalia. Mediator akan membantu Anda untuk menjelaskan konflik dan mendapatkan solusi untuk kebaikan bersama.

Belajar dari konflik

Bila konflik telah selesai, pelajarilah mengapa konflik bisa terjadi beserta solusinya. Siapa tahu ada hal yang tanpa disadari telah Anda buat dan berkontribusi menimbulkan masalah. Ini akan berguna bila ke depannya Anda terlibat kembali ke dalam masalah di kantor.

Menurut Laurie Weingart, Ph.D., seorang profesor perilaku organisasi dan teori di Carnegie Mellon Tepper School of Business, dikutip Business Insider Indonesia, ketika rekan kerja terlibat dalam perdebatan, konflik yang terjadi dapat memiliki energi positif. Pada akhirnya, rekan kerja dapat belajar dari proses dan lebih puas terhadap rekan kerja lainnya dan juga terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR