Rihanna merancang Fenty untuk Puma
Rihanna merancang Fenty untuk Puma Puma / Puma

Kiprah pesohor di New York Fashion Week 2016

Selain tren terkini, panggung pekan mode New York kali ini menyuguhkan kiprah Kanye West, Rihanna, Lady Gaga, Erykah Badu.

New York Fashion Week menjadi pembuka pekan mode 2016. Yang istimewa pada pagelaran busana musim gugur dan dingin kali ini adalah kiprah para pesohor. Mereka tak lagi sekadar datang, duduk, dan menebar pesona, tapi juga berkarya.

Panggung pekan mode New York kali ini tidak hanya menyuguhkan tren terkini. Namun juga memperlihatkan betapa para selebriti Hollywood ini bertangan dingin. Di dunia tarik suara, panggung sandiwara, pun jadi dalang pagelaran busana.

Kanye West si empunya Yeezy
Kanye West si empunya Yeezy | Peter Foley /EPA

Ini adalah kali ke-3 Kanye West memamerkan karyanya. Suami Kim Kardashian ini makin menjadi.

Vogue mencatat, hanya Kanye yang mampu mengumpulkan 20 ribu orang di dalam Madison Square Garden.

Duduk di barisan depan, para pesohor seperti Jay-Z, Karlie Kloss, Gigi dan Bella Hadid, Tyga, juga Chloe Sevigny. Kecuali undangan, mereka yang hadir merogoh kocek untuk membeli tiket.

Pagelaran ini bukan sekadar ekshibisi koleksi Yeezy musim ke-3, namun sekaligus kali pertama album bertajuk The Life of Pablo diperdengarkan untuk umum.

Tiket nonton bareng pagelaran Kanye ini pun dijual di beberapa negara seperti Inggris.

Untuk pagelaran akbar ini, Kanye menggandeng Vanessa Beecroft. Seniman Italia yang terkenal kontroversial karena karyanya yang hampir selalu mengandung unsur nudisme. Bisa jadi kontroversi adalah kata kunci yang melekatkan keduanya sejak 2008.

Ada yang berbeda dalam peragaan ini. Para model tidak berjalan di titian. Mereka berdiri berbalut koleksi Yeezy. Beberapa berjalan sambil berjoget, atau sesekali mengganti pose berdiri.

Para model kebanyakan Afro-Amerika. Tampak di antaranya model senior Alek Wek dan Naomi Campbell.

Koleksi musim gugur dan dingin 2016 Yeezy masih terinspirasi pakaian jalanan. Tuan West membuat padu padan yang tak biasa untuk koleksi ini. Misalnya saja bodysuit, terusan dan mantel bulu.

Khas New York, dengan sentuhan Kanye yang sedikit gila. Sesuai pesan yang ingin disampaikan sang desainer, kasual ala streetwear tanpa kehilangan kelas layaknya Kanye.

Women's Wear Daily melontarkan kritik pedas untuk pagelaran ini. Menyebutnya tak jauh berbeda dengan pagelaran sebelumnya.

Pun demikian, itu tak mengubah fakta berjayanya Yeezy. Termasuk rilisan sepatu kolaborasi Yeezy dan Adidas, Yeezy Boost 350. Salah satu yang paling dinanti dari ekshibisi Yeezy.

Sepatu rancangan Kanye untuk Adidas ini habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam. Waktu yang sama dibutuhkan untuk mendengarkan album baru Kanye dari awal hingga akhir.

Antrean panjang terlihat di Inggris, dan Amerika. Padahal harga Yeezy Boost 350 tak murah. Sepasang sekitar Rp2,8 juta. Di situs lelang daring eBay, bahkan ada yang nekat buka harga di Rp18,9 juta. Saking langkanya sepatu ini.

Fenomena Yeezy juga didukung oleh klan Kardashian. Hampir seluruh keluarga Kardashian dan Jenner yang senantiasa jadi incaran wartawan, hadir di Madison Square Garden.

Kim, North, Kourtney, Kendall, Kris, dan Caitlyn mengenakan rancangan kolaborasi Yeezy dan Balmain. Kostum mereka didominasi warna putih, kontras dengan koleksi yang ditampilkan sore itu.

Keesokan harinya, (12/02/2016) tak ada media yang luput meliputnya.

Koleksi Fenty karya Rihanna untuk Puma
Koleksi Fenty karya Rihanna untuk Puma | Puma /Puma

Kolaborasi Kanye dan Adidas begitu menyedot perhatian. Padahal di hari terakhir New York Fashion Week, ada Rihanna dengan karyanya, Fenty, untuk jenama keds Puma.

Bagi biduanita kelahiran Barbados, ini adalah pertama kalinya ia menggelar pertunjukan bersama Puma. Sejak Desember 2014, Rihanna menjadi duta sekaligus Direktur Kreatif Perempuan Puma.

Kreativitasnya tumpah di panggung New York Fashion Week, 12 Februari 2016. Karya Rihanna direspons cukup baik oleh para kritikus mode. Meski ada sedikit cibir, banyak yang memuji cara penyajian karya Rihanna.

Efek asap dan cermin di panggung pagelaran, menimbulkan kesan mencekam. Seperti suasana hutan modern di dunia serba canggih. Stefan Beckman si penata panggung menyebutnya The Black-and-White Forest.

Koleksi Fenty, --nama yang diambil dari nama keluarga Rihanna-- didominasi nuansa hitam dan putih. Agaknya, Rihanna juga terjangkit virus athleisure yang belakangan tumbuh subur.

Para model seperti Gigi dan Bella Hadid yang jadi model di titian mengenakan berbagai pakaian bermodel kebesaran. Ragam baju hangat yang didominasi warna hitam, atasan tembus pandang serta jaket panjang menyentuh lantai sungguh mencuri perhatian. Ditambah lagi aksen huruf Jepang yang memiliki arti "Fenty".

Kali ini jenama Jerman itu membiarkan Rihanna larut dalam kreativitas. Ia mengubah koleksi Puma menjadi lebih feminin, berani, unik. Layaknya sosok Rihanna yang dikenal masyarakat.

Layaknya Creepers yang fenomenal tahun lalu, kini Rihanna hadir dengan sepatu yang diramalkan bakal laris manis. Fenty trainer akan tersedia di toko Puma serentak mulai 26 Februari, siap diserbu pencinta fashion.

Selain dari koleksi Fenty, campur tangan Rihanna tampak jelas pada pemilihan riasan para model. Mereka dirias serupa dengan gambaran dirinya. Rambut ditata ke belakang dengan olesan krim berwarna putih, senada dengan riasan mata. Pulasan lipstik hitam yang kontras kian membuat pertunjukan kian misterius tapi menarik.

Puma menginginkan perubahan. Rihanna telah diberi mandat. Ia pun membuktikannya.

Lady Gaga berjalan di titian untuk Marc Jacobs.
Lady Gaga berjalan di titian untuk Marc Jacobs. | Jason Szenes /EPA

Rihanna dan berbagai pengalamannya di dunia mode membuktikan ia tak lagi sepolos anak bawang. Beda dengan Lady Gaga yang meski cinta fashion, untuk pertamakalinya berkiprah sebagai model pertunjukan busana.

Penyanyi Poker Face ini berjalan di panggung membawakan karya Marc Jacobs. Daily Mail menilai, ia berjalan dengan luwes di titian.

Kata Gaga, ia sedang bersiap untuk Grammys ketika ditawari untuk jadi model di peragaan Marc Jacobs. "Aku bilang pada Marc, aku kecewa (hak) sepatunya kurang tinggi," kata Gaga pada Vogue, dilansir SFGate.

Tak banyak aksi seperti biasanya, Gaga tampak pasrah menyerahkan diri ke tangan para penata gaya. Ia didandani serupa dengan model lain yang berjalan untuk Marc Jacobs.

Celak mata dramatis dengan efek grafis. Riasan mata dan bibir berwarna sangat gelap menghiasi wajahnya. Dilengkapi dengan tatanan rambut bergelombang, gaya Lady Gaga terlihat sangat kuno sekaligus mengetren.

Gaga yang baru saja memenangkan Golden Globe ini mengenakan mantel kebesaran berwarna abu-abu. Dilengkapi dengan blus berpita jumbo dan sepatu bot yang juga besar.

Sikap sportif ditunjukkannya dengan sikap rendah diri. Ia tak mau disorot dalam pertunjukan busana. Alih-alih katanya, fokus seharusnya dialihkan pada karya sang desainer.

"Saya di sini untuk Marc, membuat visinya menjadi nyata. Ini bukan tentang saya, melainkan hasil rancangan Marc," paparnya.

Erykah Badu
Erykah Badu | Justin Lane /EPA

Jika Lady Gaga pasrah didandani, Erykah Badu justru tak suka. Itu mengapa ia tak pernah menggunakan jasa penata gaya.

Penyanyi nyentrik yang senang bergaya ini lebih memilih untuk mendandani. Ternyata, hasilnya pun mumpuni.

Di belakang panggung, ia sibuk mengatur seluruh pakaian. Sesekali duduk di lantai sambil berjongkok, menempelkan perekat di kaki para model. Bahkan ia sempat menyampaikan pesan di kemeja model bertuliskan "tolong".

Di New York Fashion Week, Badu mengambil peran penata gaya untuk rumah mode Pyer Moss. Badu dan sahabatnya desainer Kerby Jean-Raymond menjelma jadi duo dinamis.

Ini adalah kiprah perdana Badu jadi orang di balik panggung. Idenya diwujudkan dalam menata gaya para model Pyer Moss untuk peragaan koleksi musim gugur dan dingin 2016.

Sebelumnya, perempuan yang dikenal sebagai aktivis sosial ini juga pernah berpartisipasi dalam kampanye koleksi Givenchy dan Tom Ford.

Proses Badu menjadi penata gaya terbilang unik. Tentu saja ia tak seperti penata gaya lain yang memulai karier dengan memberikan surat lamaran.

Awalnya, artis 44 tahun ini mengenal Jean-Raymond dari seorang teman. Kala itu Badu dipinjami sepasang celana kodok. "Saking sukanya, aku mencurinya," Badu mengaku pada majalah W.

Melihat kesempatan, Jean-Raymond tak berpikir dua kali. Perancang 29 tahun itupun menawarkan kesepakatan.

Badu boleh menyimpan celana itu, asalkan ia bersedia menata gaya model Pyer Moss untuk New York Fashion Week 2016. Gayung bersambut, Badu pun mengangguk sepakat.

Bagi Erykah Badu, menata gaya untuk pertunjukan mode tentu tak semudah ia bernyanyi. Banyak kendala yang ia alami.

Ia mengaku tak banyak pengalaman di bidang mode. Namun selera seninya sangat membantu dalam melakoni peran barunya. Sebagai seorang seniman, ia bekerja dengan hati dan naluri.

Kepada New York Times, Badu berbagi cerita. Pada awal proyek, ia membawa tujuh koper aksesori pribadi miliknya ke New York. Bersama Jean-Raymond mereka menyortirnya. Dari situ, berdua mereka memilah aksesori mana yang paling cocok dengan koleksi Pyer Moss.

Sejak proses sortir itu, Badu bagai terseret arus deras, tenggelam dalam proses rancangan karya. Jean-Raymond mengiriminya sketsa lewat surel, meminta umpan balik dari badu.

Alhasil, kita melihat begitu banyak aksesori khas Badu seperti topi, pin, dan bingkai kacamata bundar dalam pagelaran busana.

Seperti ketiga rekan pesohor lain, Kanye West, Rihanna dan Lady Gaga, Badu pun berhasil menaklukkan panggung New York fashion Week 2016.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR