Klik, pertemanan yang bisa berkembang jadi perisakan

Ilustrasi
Ilustrasi
© runzelkorn /Shutterstock

Pernah menonton film Mean Girls yang dibintangi Lindsay Lohan?

Film komedi remaja yang ditulis oleh Rosalind Wiseman, penulis buku Queen Bees and Wannabes ini menceritakan seorang remaja perempuan di suatu sekolah, yang mengalami bullying atau perisakan dari sekelompok remaja perempuan yang disebut klik.

Klik, atau geng untuk kelompok pertemanan anak laki-laki, adalah kelompok kecil dan eksklusif. Terdiri dari beberapa orang yang memiliki berbagai kesamaan, mulai dari minat, status sosial, kegiatan, gaya berbusana, potongan rambut, serta tidak menerima teman lain yang tidak sesuai standar mereka ke dalam kelompok mereka

Hal ini sering terjadi di sekolah-sekolah menengah, namun tidak jarang terjadi juga di tingkat sekolah dasar.

Ada satu orang anak yang populer di sekolah yang selalu dikelilingi oleh beberapa orang teman. Mereka nyaris tidak pernah berpisah, gaya berjalan mereka sama, selalu duduk di meja kantin yang sama. Tidak ada anak lain yang berani bergabung tanpa undangan dari mereka.

Apapun yang dilakukan oleh anggota kelompok itu benar-benar tergantung pada anak yang populer, atau yang disebut queen bee itu. Bahkan dia bisa membuat salah seorang anggota kelompok dijauhi, tidak lagi diajak duduk bersama atau pergi bersama. Bahkan 'dibuang' dari kelompok tersebut.

Kendati hal ini merupakan hal yang biasa dalam pertemanan, tetapi bagi anak yang mengalami penolakan ini pasti akan merasa malu, marah dan tidak mengerti. Selain itu apa yang dilakukan mereka sudah menjurus ke arah perisakan, yang harus dicegah sebelum berkembang menjadi semakin parah.

Sebagai orang tua, Anda dapat melihatnya sebagai sarana untuk menempa kepribadian anak menjadi lebih tangguh. Meski demikian orang tua juga harus tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya perisakan tersebut.

Apakah Anda akan melakukan pembelaan secara langsung? Membiarkannya menyelesaikan sendiri masalahnya? Atau mendampinginya dalam menyelesaikan masalah?

Rosalind Wiseman memberikan beberapa kiat bagi orang tua ketika menghadapi situasi ini:

Jika anak tidak dalam kondisi serius, misalnya mengalami kekerasan fisik, Anda dapat mendorong mereka untuk bangkit.

  • Ciptakan waktu dan tempat untuk bicara. Sering kali para remaja itu tidak mau membicarakan masalahnya dengan orang tua. Kendati kita mengetahui mereka sedang mengalami masalah, tetapi memaksa untuk bercerita justru akan membuat mereka tutup mulut.

    Gunakan strategi tarik ulur, sembari meyakinkan mereka bahwa mempunyai masalah dalam pertemanan merupakan hal yang biasa, dan mereka dapat bercerita pada orang yang mereka percaya. Akan tetapi jangan katakan apa yang seharusnya mereka lakukan. Dengan membiarkan dia bercerita dan jadi pendengar yang baik, bisa jadi dia dapat menemukan solusi untuk dirinya.

  • Tulis semua yang dialaminya, pilihlah masalah apa yang paling penting dan bantulah dia untuk menghadapi situasinya, bukan dengan menyelesaikan masalahnya menurut versi Anda.

  • Dorong dia untuk berteman dengan banyak orang, dan tidak terikat oleh satu atau sekelompok teman. Terlibat dengan teman-teman di luar sekolah dengan berbagai kegiatan akan sangat membantu mengembalikan kepercayaan dirinya.

  • Pastikan bukan dia si 'queen bee'nya. Salah satu ciri 'queen bee' atau ketua klik adalah manipulatif. Orang tua lebih mudah menerima laporan anaknya korban perisakan, daripada sebagai pelaku perisakan.

    Terimalah kenyataan jika faktanya justru anak Anda adalah seorang queen bee. Belum terlambat melaksanakan tugas sebagai orang tua untuk menyadarkan anak bahwa apa yang dia lakukan salah.

Perilaku anak biasanya meniru orang tuanya. Ajarkan rasa saling menghormati dan empati, serta jadilah contoh yang baik dalam berteman.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.