KESEHATAN MENTAL

Konsumsi antibiotik bisa tingkatkan risiko gangguan mental

Ilustrasi gangguan mental.
Ilustrasi gangguan mental. | Orawan Pattarawimonchai /Shutterstock

Peneliti menemukan konsekuensi lain dari penggunaan antibiotik pada anak-anak. Mereka berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mental yang serius seperti skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif.

Antibiotik memang berguna, Namun, terlalu banyak mengandalkan antibiotik pun bisa berbahaya. Penggunaannya secara berlebihan bisa membantu menciptakan bakteri super yang kebal terhadap antibiotik di masa depan.

Kini, studi baru yang diterbitkan di JAMA Psychiatry menunjukkan ada konsekuensi lain. Penelitian menemukan bukti kuat tentang hubungan antara infeksi anak, penggunaan antibiotik, dan gangguan neuropsikiatri di kemudian hari.

Peneliti menemukan, risiko mengembangkan gangguan mental meningkat lebih dari 84 persen setelah anak dirawat di rumah sakit karena infeksi parah. Penggunaan anti-infeksi--khususnya antibiotik--untuk mengobati infeksi dikaitkan dengan sekitar 42 persen peningkatan risiko untuk gangguan mental.

"Temuan ini meningkatkan pemahaman tentang fakta bahwa ada hubungan erat antara tubuh dan otak, dan bahwa sistem kekebalan tubuh bisa berperan dalam perkembangan gangguan mental. Sekali lagi penelitian menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental berhubungan erat," ujar Ole Köhler-Forsberg.

"Kami juga menemukan bahwa risiko gangguan mental paling tinggi setelah infeksi, yang mendukung bahwa sampai batas tertentu infeksi memainkan peran dalam pengembangan gangguan mental," jelas pemimpin penelitian dari Aarhus University ini.

Pun demikian, riset ini hanya menemukan korelasi. Jadi, temuan Köhler-Forsberg tidak menunjukkan bahwa infeksi atau dirawat karenanya bisa menyebabkan gangguan mental.

Tim peneliti menganalisis data kesehatan semua individu di Denmark, sejak lahir hingga usia 18 tahun dalam kurun waktu 1995 hingga 2012. Hampir empat persen dari individu ini dirawat di rumah sakit karena gangguan mental, lebih dari lima persen mengonsumsi antibiotik.

Gangguan spektrum skizofrenia, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kepribadian dan perilaku, keterbelakangan mental, kelainan spektrum autisme, hiperaktivitas, kelainan perilaku, dikaitkan dengan risiko tertinggi setelah anak terkena infeksi parah.

Risiko untuk gangguan mental setelah infeksi parah meningkat seiring jumlah infeksi dan jarak dari infeksi terakhir. Peningkatan risiko terbesar terjadi pada 0 hingga tiga bulan setelah infeksi.

Hasil analisis primer para peneliti juga didukung oleh analisis yang mencakup berbagai kelompok referensi dan saudara kandung.

Pun demikian CNN melaporkan, riset ini memiliki keterbatasan. Data yang dianalisis hanya sampai usia 18 tahun.

Peneliti juga tidak bisa mengonfirmasi apakah pasien benar-benar mengalami infeksi atau salah diagnosis. "Kami tidak bisa menyimpulkan kausalitas. Kami tidak bisa mengatakan infeksi ini menyebabkan gangguan mental. Kami hanya bisa berspekulasi," tutur Kohler-Forsberg.

William Eaton, profesor kesehatan mental di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan, orang dengan gangguan mental umumnya memiliki tingkat peradangan lebih tinggi. "Ada kemungkinan keterlibatan sitokin inflamasi dalam kelainan ini, mengapa demikian kami belum tahu," tukas Eaton yang tak terlibat dalam penelitian.

Sitokin pro-inflamasi adalah molekul yang terlibat dalam reaksi inflamasi ubuh. Kadar tinggi molekul semacam ini, atau disfungsi kekebalan tubuh mungkin bisa menjelaskan kaitan antara infeksi dan gangguan mental.

Namun, penelitian lebih lanjut dibutuhkan. Oleh karena itu riset berikutnya perlu menyelisik lebih rinci apa dan bagaimana infeksi tertentu dapat menyebabkan gangguan mental.

Pemahaman yang lebih baik tentang peran infeksi dan terapi antimikroba dalam gangguan mental bisa mengarah pada metode baru untuk pencegahan dan antisipasi kondisi ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR