Kopi Lintong, salah satu unggulan dari Sumatera

Menikmati kopi panas sambil memandang alam.
Menikmati kopi panas sambil memandang alam. | DONOT6_STUDIO /Shutterstock

Berkunjung ke Danau Toba, Sumatera Utara, belum lengkap jika belum memadukan keindahan alamnya dengan kenikmatan secangkir kopi Lintong. Setidaknya demikian yang dikatakan Reynold Ando Hasibuan, Manajer Pemasaran Sumatera Lintong 'Coffee' kepada Antaranews, Selasa (31/10/2017).

Kopi Lintong yang telah dikemas apik, saat ini menjadi oleh-oleh favorit pilihan para wisatawan yang datang ke Danau Toba. Para petani kopi setempat berharap, dengan menikmati kopi Lintong di daerah masing-masing, para wisatawan teringat pada Danau Toba, dan akan merasakan kerinduan untuk kembali ke sana.

Saat ini, kopi Lintong memang cukup terkenal. Dilansir Kompas.com, kopi arabika lintong, atau biasa disebut kopi lintong, merupakan salah satu dari tiga brand kopi arabika terkenal di dunia yang ditanam di Pulau Sumatera. Kopi lainnya adalah mandheling dan gayo.

Di kalangan pencinta kopi, nama kopi lintong sudah tidak asing lagi. Kopi arabika yang beraroma khas; spicy, herba, rempah serta kacang atau cokelat, ini berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Sejak tahun 1800-an, masyarakat di daerah Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara diyakini sudah mengenal tanaman kopi. Bibitnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditanam dengan cara tanam paksa. Bibit kopi arabika yang tumbuh dengan baik pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut ini pada akhirnya dikenal sebagai kopi lintong.

Namun tidak banyak yang mengetahui secara pasti sejak kapan kopi lintong dibudidayakan di kawasan Bukit Barisan, Lintong Nihuta Humbahas.

Akan tetapi, berdasarkan keterangan beberapa pengelola perkebunan, kopi lintong sudah dikembangkan sejak Kabupaten Humbahas masih merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara. Kabupaten Humbahas merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 2003.

Baru-baru ini Masyarakat Pemerhati Kopi Arabika Sumatera Lintong (Maspekal) mengajukan upaya perlindungan indikasi geografis atas Kopi Arabika Sumatera Lintong kepada Direktorat Merek Ditjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Dikutip dari Bisnis.com, permohonan yang sedang dalam proses pengumuman ke publik 3 Oktober-3 Desember 2017 ini bertujuan untuk memperoleh pengakuan soal keaslian asal-usul produk, sehingga terhindar dari pemalsuan, dan nama lintong terlindung sebagai merek kolektif masyarakat setempat.

Di dalam permohonan bernomor agenda IG.00.2017.000007, tercantum enam kecamatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Humbang Hasundutan, penghasil kopi dengan kualitas yang sangat baik. Keenam kecamatan tersebut adalah Parangginan, Lintongnihuta, Doloksanggul, Pollung, Onanganjang dan Sijamapolang.

Dikutip dari Antaranews, Bupati Humbahas, Dosmar Banjarnahor, mengatakan bahwa sertifikasi ini memang mendesak dilakukan untuk melindungi kopi lintong, terkait rasa dan kualitas, serta petani, pengolah dan pedagang kopi pada masa yang akan datang.

Kualitas kopi lintong yang sudah terkenal di manca negara ini diyakini karena pengaruh kondisi tanah yang subur akibat letusan Gunung Toba sekitar 73.000 tahun lalu. Didukung pula dengan ketinggian wilayah, sekitar 1.000 - 1.000 meter di atas permukan laut.

Sementara, varietas tanaman kopi yang digunakan adalah varietas Sigararutang, Lini S 795, USDA 762, Lasuna dan Garunggang, yang menjadi varietas lokal unggulan.

Sementara itu, menurut Madre Coffee, kopi lintong sudah menembus pasar Eropa dan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari Sumut. Aroma khas kopi lintong menjadi daya tarik di berbagai negara Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan Hong Kong. Begitu juga beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, Rusia dan Amerika.

Isner Manalu, Manajer Proyek Volkopi Indonesia, eksportir kopi, menjelaskan bahwa kopi lintong sudah memiliki spesifikasi khusus bagi para penikmat kopi dunia. Hal ini yang menyebabkan kopi lintong dikelola dengan maksimal di pasar dunia.

Menurutnya, belum pernah ada penolakan dari pasar dunia terhadap kopi lintong, bahkan permintaannya cenderung tinggi.

Kendati sampai saat ini pasar kopi tertinggi masih dipegang oleh kopi gayo, namun kopi lintong sudah memiliki tempat tersendiri di dunia kopi internasional, dan semakin digemari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR