TEMUAN ILMIAH

Lagu-lagu populer zaman sekarang sarat amarah

Ilustrasi musik pop
Ilustrasi musik pop | Poznyakov /Shutterstock

Musik populer atau musik pop mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Studi menunjukkan bahwa perbedaan bukan pada nuansa musik saja, tetapi juga gaya penulisan lirik.

Para ilmuwan data di Lawrence Technology University di Michigan, Amerika Serikat, menggunakan analisis kuantitatif untuk mempelajari perubahan dalam lirik musik pop selama tujuh dekade, mulai dari tahun 1950 sampai 2016.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi kemarahan dan kesedihan dalam musik populer telah meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu, sementara ekspresi sukacita dan inspiratif menurun.

Dalam sebuah makalah penelitian yang diterbitkan dalam edisi terbaru Journal of Popular Music Studies, Kathleen Napier dan Lior Shamir menganalisis lebih dari 6000 lirik lagu dari tangga musik Billboard Hot 100 setiap tahun.

Lagu-lagu Billboard Hot 100 adalah tangga lagu paling populer di dunia dan mencerminkan preferensi penggemar musik.

Dahulu, ukuran popularitas sebuah lagu berdasarkan peringkat di tangga lagu, penjualan album, permintaan di stasiun radio, dan jukebox.

Sekarang, setidaknya dalam beberapa tahun belakangan, popularitas juga dianalisis dari beberapa indikator tambahan, yakni jumlah streaming di internet dan media sosial.

Nada yang diungkapkan dalam setiap lagu diteliti dengan menggunakan analisis sentimen kuantitatif otomatis.

Analisis sentimen otomatis mengaitkan setiap kata atau frasa dalam lagu dengan serangkaian nada musik.

Kombinasi nada yang diekspresikan oleh semua kata dan frasa lirik menentukan sentimen sebuah lagu.

Sentimen dari semua lagu yang ada di Billboard Hot 100 setiap tahunnya memungkinkan untuk pengukuran ekspresi, apakah meningkat, menurun, atau konstan.

Analisis menunjukkan bahwa ekspresi amarah dalam lirik lagu pop terus meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu.

Peneliti menuliskan, lagu-lagu yang dirilis pada pertengahan 1950-an mengandung lirik sarat romansa dan jauh dari ekspresi kemarahan.

Lirik lagu provokatif dan mengandung unsur amarah pada lagu pop terus meningkat dan memuncak pada tahun 2015.

Peneliti membagi hasil studi dalam beberapa variasi kelompok.

Lagu pop yang dirilis pada 1982-1984 tidak mengandung lirik agresif atau marah-marah dibandingkan periode lainnya, kecuali tahun 1950-an.

Pada pertengahan 1990-an, lirik-lirik tajam dan berapi-api semakin terasa daripada tahun sebelumnya.

Selain ekspresi amarah, lagu-lagu pop pada tahun 90-an sampai dengan sekarang juga ramai dengan kata-kata yang mengekspresikan kesedihan, rasa muak, dan ketakutan, meski peningkatannya tidak pesat.

Studi pun menyimpulkan bahwa nada dan nuansa yang diekspresikan dalam musik pop mengalami perubahan yang bertahap sekaligus konsisten.

Namun, penelitian mencatat, hasil studi hanya berlaku pada lagu-lagu pop terpopuler setiap tahun.

Jadi, studi ini tidak menunjukkan bahwa musik secara umum berubah, tetapi memang kenyataannya preferensi konsumen terhadap musik terus bergulir tidak sama dari waktu ke waktu.

Peneliti melihat, masih ada kelompok penggemar yang lebih menyukai lagu-lagu yang bahagia yang banyak dirilis pada era 50-an. Sementara konsumen musik modern lebih tertarik dengan lagu-lagu yang mengekspresikan kemarahan.

“Perubahan dalam sentimen lirik tidak selalu mencerminkan apa yang ingin diekspresikan oleh musisi dan penulis lagu. Namun, terkait dengan apa yang laris di pasar,” jelas Lior Shamir, salah satu peneliti dalam studi terurai di atas.

Selain lirik yang mengalami perubahan, peneliti dari Austria juga pernah mengungkapkan bahwa kebanyakan musik pop terdengar sama.

Peneliti mendapatkan kesimpulan tersebut melalui pengamatan terhadap 15 genre dan 374 subgenre. Mereka menilai ketika satu genre semakin populer, maka "citarasa" musiknya menjadi lebih umum.

"Formula instrumen musik menjadi sama ketika ada peningkatan penjualan pada satu genre tertentu. Variasi musik pun menjadi minimum dan keterampilan bermusik terasa sama," tulis hasil penelitian dari Medical University of Vienna tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR