PERAWATAN TUBUH

Laki-laki Korea Selatan konsumen perawatan kulit terbesar di dunia

Ilustrasi laki-laki Korea Selatan yang tengah menjalani perawatan kulit.
Ilustrasi laki-laki Korea Selatan yang tengah menjalani perawatan kulit. | Gaukhar Javarova /Shutterstock

Ritual kecantikan kulit tak hanya menjadi andalan kaum perempuan di Korea Selatan (Korsel)

Data baru memperlihatkan, laki-laki Korsel juga rajin mengaplikasikan rangkaian perawatan kecantikan kulit.

Menurut Euromonitor, perusahaan riset independen, selama satu dekade terakhir, laki-laki Korsel adalah konsumen terbesar untuk produk dan perawatan kulit di dunia.

Riset tersebut menyebutkan, 44 persen laki-laki Korsel merupakan produsen produk dan perawatan kecantikan diri.

Persentase tersebut didapatkan dari riset sepanjang tahun 2011 sampai dengan 2017.

GlobalData, perusahaan riset dari Britania Raya, juga menyampaikan bahwa ¾ laki-laki Korsel melakukan perawatan mulai dari rambut dan wajah di salon atau di rumah setidaknya sekali dalam sepekan.

Sebanyak 58 persen laki-laki tersebut datang dari kelompok Generasi Z, lahir antara tahun 1994-2014. Mereka mengaku, menerapkan ritual memanjakan diri dengan perawatan tubuh keseluruhan.

Lalu, 34 persen laki-laki Korsel lainnya yang rajin melakukan perawatan berasal dari kelompok generasi milenial, lahir pada tahun 1982-1992.

Menurut Roald Maliangkay, seorang direktur Korean Institute di The Australian National University, fenomena ini merupakan pengaruh K-Pop.

“Saya terkejut melihat, sekarang banyak pemuda setempat meniru penampilan khas idola laki-laki Korea Selatan,” jelas Maliangkay sembari mengenang pengalaman dari kunjungannya ke distrik pusat kota Seoul, Myeongdong.

Dia mengatakan, banyak melihat laki-laki yang mengenakan pakaian aksen robek-robek dan rambut yang diwarnai dengan teknik sempurna.

Mata para laki-laki di sana, kata dia, telah mendapatkan tindakan operasi plastik karena memiliki lipatan ganda.

“Saya bahkan melihat beberapa laki-laki mengenakan riasan wajah ringan,”imbuhnya.

James Turnbull, seorang penulis dan dosen spesialis feminis Korea dan budaya populer, yang bermukim di Busan, Korsel, mengatakan, tekanan bersaing di bursa kerja bisa jadi memicu tren laki-laki merawat diri dan mengenakan riasan tersebut.

“Dalam persaingan yang sulit, kelompok usia 20 dan 30 tahunan dituntut untuk meningkatkan kualitas diri, misal dengan gelar pendidikan tambahan, kursus, magang, kualifikasi bahasa asing. Industri kecantikan pun menjawab dengan kompetisi tersebut dengan cepat, yakni meningkatkan kualitas lewat penampilan diri,” urai Turnbull.

Riset mengatakan, industri kecantikan di Korsel mencapai $13 juta AS per tahun. Lalu, penjualan tindakan prosedur kosmetik di sana lebih tinggi dibandingkan negara lain.

Generasi laki-laki muda yang sadar akan citra dan penampilan mendukung ledakan industri kosmetika di negara Ginseng tersebut.

Seorang ahli bedah, Jong Jin Yun, mengaku bahwa dirinya melakukan injeksi botoks setiap enam bulan untuk menyempurnakan definisi garis rahangnya.

“Saya mementingkan penyembuhan, tetapi saya juga tak ingin mengusir pasien,”ujar Jong.

Dia menambahkan, tindakan estetika paling populer di klinik Korsel adalah pembesaran mata, koreksi hidung, dan rahang untuk membuat wajah terlihat lebih tirus.

David Cho, pendiri situs kecantikan, Soko Glam Korea, menjelaskan, kosmetik untuk laki-laki tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual.

Tren merawat diri kaum Adam sama dengan definisi metroseksual untuk seorang laki-laki yang menghargai perawatan dan mengenakan busana dengan gaya terkini.

Dia juga memprediksi bahwa hanya masalah waktu sebelum tren perawatan diri dan kosmetika laki-laki merebak di luar Asia.

“Saya yakin, selanjutnya tren ini akan populer di Amerika Utara,” pungkas Cho.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR