SURVEI BPS

Laki-laki, lajang, tinggal di perkotaan, mengaku lebih bahagia

Ilustrasi orang-orang bahagia.
Ilustrasi orang-orang bahagia. | DisobeyArt /Shutterstock

Menjadi bahagia adalah sebuah tujuan universal. Sampai hari ini para pakar dan ilmuwan tak henti mencari jalan menuju kebahagiaan. Indeks Badan Pusat Statistik tahun 2017 bisa memperlihatkan tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Penelitian yang begitu banyak jumlahnya mengungkap beragam temuan. Banyak hal perlu dipertimbangkan saat membicarakan hal ini. Pasalnya, kebahagiaan adalah sebuah gagasan kompleks.

World Happiness Report membuktikan belum semua rakyat Indonesia merasa bahagia. Dari 156 negara dalam daftar, negeri ini bercokol pada nomor 96. Terhimpit antara Vietnam dan Bhutan.

Jika laporan tersebut memberi gambaran besar, mari menilik kondisi kebahagiaan orang Indonesia secara lebih detail.

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menggambarkan kebahagiaan terdiri atas berbagai karakteristik. Semakin tinggi nilai indeksnya, semakin bahagia.

Para lajang yang bisa dengan leluasa menjalani hidup dan punya lebih sedikit tanggung jawab, mengaku lebih bahagia. Mereka bisa mengisi waktu dengan hal-hal serta aktivitas yang membahagiakan diri sendiri.

Lain halnya saat punya pasangan. Mereka harus membagi waktu, kebutuhan, dan energi untuk dirinya sendiri dan pasangan. Menurut skor BPS, mereka yang lajang "sedikit" lebih bahagia--dengan selisih hanya nol koma.

Psikolog Kasandra Putranto dalam perbincangan dengan Beritagar.id, Sabtu (19/1/2019) menilai hal ini wajar. "Orang yang belum menikah lebih bahagia karena punya kesempatan, waktu, dan tenaga untuk diri sendiri," ujarnya.

Indeks kebahagiaan menurut karakteristik jenis kelamin penduduk laki-laki sebesar 71,12. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan perempuan sebesar 70,3. Artinya laki-laki lebih bahagia dibandingkan perempuan.

"Kebahagiaan itu diatur neurotransmitter yang namanya dopamine, laki-laki Indonesia ternyata lebih mampu menciptakan dopamine dalam otaknya," jelas Kasandra.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. "Pertama adalah pola pikir yang tidak terlalu membebani pikiran. Kedua, karena laki-laki Indonesia mendapat kesempatan lebih besar untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai," papar Kasandra.

Temuan lainnya, kebahagiaan orang Indonesia cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Usia 25 tahun adalah batasannya. Hal ini diperlihatkan karakteristik indeks kebahagiaan menurut kelompok usia-- usia di bawah 25 tahun lebih bahagia.

Pada usia ini, sebagian orang mengalami quarter life crisis. Mereka bingung dengan identitas diri, memikirkan tujuan hidup yang salah arah, dan merasa telah melalui masa transisi yang sia-sia.

Perasaan cemas, takut, dan bingung, mau tak mau menimbulkan kegelisahan yang mengusik kebahagiaan. Ini fase hidup yang biasa dilalui kebanyakan orang.

Sementara itu, dari sisi pendapatan, 76 persen responden yang memiliki pendapatan lebih dari Rp7,2 juta per bulan menyatakan bahagia, lebih banyak dari pada pengakuan mereka yang memiliki pendapatan kurang dari angka tersebut.

Secara keseluruhan, tiga dimensi ukuran indeks kebahagiaan yakni kepuasan hidup (personal dan sosial), makna hidup, dan perasaan, memperlihatkan bagaimana orang memiliki kebahagiaannya masing-masing.

Penduduk yang belum menikah mungkin merasa lebih bahagia, tapi mereka yang sudah menikah memiliki indeks perasaan lebih tinggi. Dimensi ini terdiri dari perasaan tidak tertekan, perasaan tidak khawatir atau cemas, dan perasaan senang.

Dimensi dan indikator ini mungkin bisa menjelaskan, mengapa indeks kebahagiaan berlaku tinggi atau rendah. Misalnya dalam kasus penduduk lajang di atas--merasa bahagia belum tentu tidak khawatir, atau tidak tertekan.

Stres yang datang dan pergi seiring kerasnya kehidupan kota besar, misalnya, ternyata tak membuat kebahagiaan orang kota terpuruk. Yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat perkotaan (71,64) lebih bahagia dibanding perdesaan (69,57).

Meskipun demikian, masyarakat perdesaan punya indeks kepuasan hidup sosial lebih tinggi. Indikator kepuasan hidup sosial ini contohnya keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Begitu juga penduduk dengan kelompok usia di bawah 25 tahun. Indeks menunjukkan mereka lebih bahagia, tetapi penduduk dengan kelompok usia di atas 25 tahun punya indeks kepuasan hidup sosial lebih tinggi.

Menurut penulis The Happiness Project, Gretchen Rubin, kadang menjadi bahagia terasa seperti tujuan yang mustahil. Tak ada solusi yang berlaku sama rata untuk semua orang agar bisa mencapai kebahagiaan.

Pun demikian, ada hal-hal tertentu yang bisa membantu. Antara lain, tidur yang cukup, berolah raga, lingkungan bersih dan teratur, serta menjalin hubungan dengan sesama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR