KESEHATAN PANGAN

Larangan konsumsi nasi dan pasta berumur lima hari

Ilustrasi spageti
Ilustrasi spageti | Anatolii Riepin /Shutterstock

Kita semua tahu bahwa sisa daging matang yang sudah terlalu lama tertinggal harus segera dibuang. Namun, bagaimana dengan nasi atau pasta?

Berdasarkan penelitian dari Australian National University, nasi dan pasta yang sudah berumur lima hari juga wajib dibuang karena telah terkontaminasi bakteri Bacillus Cereus.

Bakteri tersebut bukan jenis langka. Sebaliknya, mudah ditemukan di mana pun, mulai dari tanah, makanan, sampai usus makhluk hidup.

"Habitat alami B. cereus yang diketahui sangat luas, termasuk tanah, hewan, serangga, debu dan tanaman," ungkap Anukriti Mathur, seorang peneliti bioteknologi di Australian National University, kepada Science Alert.

"Bakteri akan bereproduksi dengan memanfaatkan nutrisi dari produk makanan, termasuk beras, produk susu, rempah-rempah, makanan kering dan sayuran."

Beberapa jenis bakteri ini sangat membantu untuk probiotik, tetapi yang lain dapat mengakibatkan keracunan makanan jika diberikan “kesempatan” untuk tumbuh dan berkembang biak, misalnya seperti ketika Anda menyimpan makanan dalam kondisi yang salah.

Skenario terburuk bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Pada tahun 2005, satu kasus kematian akibat bakteri tersebut dicatat oleh Journal of Clinical Microbiology, lima anak dalam satu keluarga sakit karena makan salad pasta yang telah disimpan empat hari.

Berdasarkan kronologi kasus, keluarga tersebut menyiapkan salad pasta pada hari Jumat. Lalu, dibawa piknik pada hari Sabtu dan masih tersisa. Pihak orang tua sesampainya kembali ke rumah menyimpan makanan tersebut dalam lemari es. Pada hari Senin malam, mereka menghangatkannya untuk makan malam anak-anak.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Kelima anak mulai mengalami muntah-muntah. Mereka pun segera dibawa ke rumah sakit. Tragis, anak bungsu mereka tewas. Anak-anak lainnya menderita gagal hati tetapi selamat. Salah satu anak dilaporkan keracunan makanan yang lebih ringan dan bisa diobati dengan cairan.

Kasus lain yang baru saja terjadi adalah seorang mahasiswa yang tewas akibat keracunan karbohidrat yang telah disimpan lebih dari dua hari.

Mahasiswa tersebut keracunan spageti yang telah dia siapkan lima hari sebelumnya untuk makanan selama sepekan ke depan.

Naas, dia mengalami diare, sakit perut, muntah-muntah, dan tewas pada malam dia menghabiskan spageti yang telah disimpan berhari-hari tersebut.

"B. cereus adalah penyebab penyakit bawaan makanan yang terkenal, tetapi infeksi pada organisme ini tidak umum dan variatif. Gejalanya dilaporkan bisa saja ringan,” imbuhnya.

"Kasus fatal akibat gagal hati setelah konsumsi salad pasta menunjukkan tingkat keparahan yang mungkin terjadi."

Mathur menambahkan, kasus kematian cenderung jarang terjadi, tetapi telah tercatat pada literatur kesehatan terjadi lebih dari satu kali.

Dia menjelaskan bahwa B.cereus bisa berujung pada kondisi keracunan parah sampai meninggal karena mampu mengeluarkan racun berbahaya dalam makanan dan menyebarkannya pada organ internal.

Sejumlah racun, kata dia, sulit untuk dibunuh dengan suhu panas microwave. Salah satunya racun yang menyebabkan manusia muntah bisa bertahan hidup dalam suhu panas 121 derajat Celcius selama 90 menit.

“Sistem kekebalan tubuh manusia bisa mengenali racun haemosyin BL yang dikeluarkan bakteri B.cereus dan menyebabkan peradangan,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR