Lupakan buku mewarnai, kini origami mulai mengetren

Keindahan dan keunikan aktivitas origami terletak pada kemampuannya untuk menguasai pikiran dan melepaskannya dari kehidupan dunia luar.
Keindahan dan keunikan aktivitas origami terletak pada kemampuannya untuk menguasai pikiran dan melepaskannya dari kehidupan dunia luar. | Shutterstock

Pada 2015 muncul tren buku mewarnai untuk orang dewasa. Meledaknya tren ini tidak lepas dari efek terapi pelepas stres yang terkandung di dalam kegiatan mewarnai. Namun, kini tren mewarnai itu, seperti diwartakan oleh Telegraph, digantikan oleh sebuah aktvitas yang lebih menantang, yaitu origami.

Tren buku origami makin menanjak. Pada Februari 2016 diterbitkan buku Zen Doodle Origami oleh Carolyn Scrace. Sebulan kemudian pada April ada sederet buku-buku bertema origami yang akan muncul, yaitu Colour-Gami: Colour and Fold Your Way to Calm; The Book of Mindful Origami: Fold Paper, Unfold Your Mind; and Zen Origami: 20 Modular Forms for Meditation and Calm.

Gulfnews menyebutkan beberapa dari buku itu akan dilengkapi oleh lembaran-lembaran kertas yang bisa dipakai untuk mempraktikkan origami yang bisa diwarnai sebelum dilipat-lipat menjadi bentuk burung bangau, bunga teratai, helm Samurai, dan lain-lain.

Tentu saja buku-buku itu akan membanjiri toko buku dan juga toko daring (online) seperti Amazon. Selain itu, ada pula event TED Talk (perbincangan satu arah dari seorang ahli yang direkam video) yang bertema matematika dan keajaiban origami oleh ahli matematika sekaligus seniman origami, Robert Lang.

Origami muncul di Jepang sejak abad ke-17. Origami berasal dari dua kata yaitu "ori" yang berarti "melipat" dan "kami" yang berarti "kertas". Seni melipat kertas tradisional ini melibatkan proses melipat kertas menjadi benda tiga dimensi tanpa memotong, mengelem atau memberi penanda apapun di atas kertas.

Kompas.com menyebutkan meski awalnya hanya digunakan sebagai penutup sake, origami lantas berevolusi menjadi unsur wajib dalam beragam pesta adat, keagamaan, dan penanda status. Bentuknya pun makin beragam, dari dinosaurus, serangga, kerbau, hingga boneka.

Kini, seperti diwartakan oleh Body & Soul, origami juga memiliki gaya modular (menggabungkan origami-origami kecil menjadi sebuah origami besar) dan gaya teselasi (tessellation, tampilan geometris).

Bagi para pemula dan anak-anak, kegiatan origami biasanya mengajarkan cara melipat kertas menjadi berbagai macam bentuk, misalnya perahu, kodok, pesawat terbang, dan lain-lain.

Robert Lang, psikolog sekaligus pengarang buku seni melipat kertas, mengatakan bahwa keindahan dan keunikan aktivitas origami terletak pada kemampuannya untuk menguasai pikiran dan melepaskannya dari kehidupan dunia luar.

"Melipat tidak hanya menguasai tangan saya sementara pikiran melayang ke tempat lain," ujar Lang. "Origami bisa menyerap semua perhatian dan pikiran saya."

"Bagi saya, origami telah menjadi alat untuk melepas stres sekaligus alat penyebab stres. Ini mirip pedang bermata dua. Namun Anda bisa memilih sisi mana yang Anda suka. Ini adalah tantangan yang bisa menarik mereka, namun origami bisa pula membuat orang frustrasi," kata Dr Darryl Cross.

Step-By-Step Zen Doodle Origami: Includes 20 Sheets of Origami Paper

Carolyn Scrace, seorang pengarang buku-buku origami, mengatakan bahwa origami lebih menantang daripada mewarnai.

"Ada elemen konsentrasi yang kental dalam origami. Konsentrasi inilah yang bisa melepaskan gangguan sehari-hari. Bisa menciptakan bentuk sederhana sangat memuaskan dan kemudian akhirnya kita ceria," ujar Scrace kepada National Post.

Robert Lang: The math and magic of origami /TED
BACA JUGA