Beberapa pengunjung tampak berbincang di depan pintu masuk M Bloc di Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019).
Beberapa pengunjung tampak berbincang di depan pintu masuk M Bloc di Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019). Graceldis Loanardo / Beritagar.id

M Bloc coba hidupkan lagi suasana gaul di Blok M

Bekas gudang uang dan perumahan Peruri di Blok M disulap jadi tempat nongkrong baru bagi kawula muda kreatif. M Bloc, namanya.

Kawasan Blok M, khususnya Lintas Melawai, adalah tempat nongkrong anak muda Jakarta era 1980-1990an. Tetapi kemudian pamornya meredup, dengan munculnya berbagai tempat nongkrong lain yang lebih hype, kekinian, di seantero Ibu Kota.

Kini ada upaya menghidupkan kembali jiwa muda dan gaul di Blok M. Sejak 26 September 2019, muncul M Bloc Space, sebuah ruang kreatif publik baru di sebelah terminal bus Blok M. Kehadiran tempat bernuansa retro dengan warna-warni lampu yang cerah pada malam hari itu langsung mengundang perhatian, utamanya anak muda Jakarta.

Letaknya yang strategis, tepat di antara dua stasiun MRT--Blok M dan ASEAN--membuat M Bloc segera jadi perbincangan dan ramai dikunjungi.

M Bloc Space merupakan hasil kerja sama Perusahaan Umum Percetakan Uang Negara Indonesia (Perum Peruri) dan PT Ruang Riang Milenial (RRM). Mereka bersepakat untuk menciptakan ruang publik baru di Jakarta, memanfaatkan lahan seluas 7.000 meter persegi milik Peruri.

Peruri menguasai lahan itu sejak 1971. Perusahaan milik negara tersebut membangun rumah dinas pegawai dan percetakan pada lahan tersebut. Namun, ketika pabrik percetakan uang dipindah ke Karawang, Jawa Barat, pada 1991, sebagian besar kawasan itu jadi kosong, tersisa kantor beberapa rumah pegawai. Kantor dan rumah itupun kemudian ditinggalkan pada 2005. Lahan itupun mati.

Wendi Putranto, program director RRM, bercerita bahwa keterlibatan perusahaan itu dalam penciptaan M Bloc berawal dari tawaran yang datang dari Peruri kepada Handoko Hendroyono untuk mengelola lahan itu dan memugarnya menjadi ruang publik.

Handoko, pebisnis dan produser film, lantas mengajak Wendy, musikus Glenn Fredly, arsitek Jacob Gatot Sura, sutradara Lance Mengong, dan Mario Sugianto. Mereka lalu mendirikan RRM untuk menjadi perusahaan yang mengelola M Bloc Space.

Karena para pendiri RRM berasal dari berbagai bidang industri kreatif, tutur Wendi, akhirnya mereka bersepakat untuk membangun ruang kreatif publik. Ruang tersebut akan menjadi wadah bagi anak muda untuk berkreasi--mulai dari musik hingga membicarakan segala macam bisnis kreatif.

Walau telah dibuka sejak 26 September, tetapi Beritagar.id melihat banyak ruang yang belum selesai. Bahkan bau cat dan pelitur masih tercium di udara. Wendi mengakui bahwa renovasi di M Bloc, termasuk 16 bekas rumah karyawan yang diubah menjadi gerai barang dan makanan, belum selesai sepenuhnya.

"Renovasi (lahan ini) kami mulai sejak 17 Mei 2019," kata Wendi, saat ditemui Beritagar.id, di kantornya di M Bloc Space, Jumat (4/10).

Peruri awalnya meminta arena itu dibuka untuk umum pada 15 September, bertepatan dengan ulang tahun ke-48 perusahaan itu. Artinya, RRM hanya diberi waktu sekitar 3,5 bulan untuk merenovasi, lalu membukanya untuk publik. "Kami seperti dapat pe-er bikin candi nih," canda Wendi.

Tenggat tersebut tak berhasil dipenuhi. Baru seminggu kemudian, 26 September, kondisi M Bloc dinyatakan layak untuk diperlihatkan kepada publik.

"Pokoknya selama 3,5 bulan kemarin, wah benar-benar kelimpungan untuk mengejar target dan akhirnya selesai 26 September. Jadi telat satu minggu dari jadwal yang direncanakan. Dan 3,5 bulan itu ya kaki di atas kepala, kepala di kaki, jumpalitan kemarin,” jelas Wendi.

Dia enggan mengungkap berapa besar investasi yang ditanamkan untuk merombak tempat tersebut, hanya menyebut "miliaran". Namun, menurut hitungan RRM, break even point (BEP), bahkan keuntungan, bisa dicapai dalam tiga tahun.

Peruri, tentu saja, senang dengan kerja sama tersebut. Ketimbang gedung mangkrak, sementara pajak bangunan dan biaya perawatan tetap harus dibayar.

“Proyek ini merupakan bagian dari optimalisasi aset Peruri yang selama ini idle, dan tawaran kerjasama ini sangat menarik karena mengusung tema kreatif untuk pemberdayaan generasi milenial,” ujar Nungki Indraty, Direktur Keuangan Peruri, kepada Tirto.id.

Tak ada konser gratis

Gudang uang yang disulap menjadi arena konser dan pertunjukan lainnya di M Bloc, Blok M, Jakarta (4/10/2019).
Gudang uang yang disulap menjadi arena konser dan pertunjukan lainnya di M Bloc, Blok M, Jakarta (4/10/2019). | Graceldis Loanardo /Beritagar.id

Keuntungan bisa diraup dari hasil menyewakan gerai yang tersedia dan menyelenggarakan konser musik di arena tersebut. Menurut Wendi, sudah ada 100 musisi/kelompok musik yang tengah didekati untuk mau mengadakan konser di M Bloc.

Wendi adalah mantan wartawan majalah musik Rolling Stones. Tak heran jika ia memiliki jaringan luas dan kedekatan dengan banyak musisi di Indonesia. Walau demikian, ia menegaskan takkan memilih sembarang musisi untuk mengisi panggung M Bloc.

Musisi tersebut, jelasnya, harus punya fan base besar dan loyal, yang rela membeli tiket. Panggung musik M Bloc berada dalam ruangan bekas gudang uang. Kapasitas penontonnya mencapai 350 orang, tetapi masih bisa diekspansi hingga sekitar 500 orang.

"Kami tidak ingin konser gratis. Tujuannya untuk edukasi ke penggemar bahwa kalian harus membayar kalau ingin mendapatkan hiburan. Ada kualitas, ada harga," tuturnya.

Hal tersebut, lanjutnya, penting untuk keberlangsungan bisnis dari tempat itu sendiri. Apalagi M Bloc dibangun sebagai sebuah kawasan bisnis murni. Kerja sama RRM dengan Peruri pun murni kerja sama bisnis.

"Pola bisnisnya tetap berbayar. Harus. Biar suistain, biar berkelanjutan. Jangan yang menunggu donasi dari perusahaan apa untuk bikin kegiatan," tegas Wendi.

Selain musik, M Bloc Space juga akan mengalokasikan 20 persen dari waktu tersedia untuk acara lainnya, seperti stand up comedy, buat movie screening, diskusi, hingga pergelaran busana, alias fashion show.

Khusus produsen lokal

Beragam mural tampak menghiasi dinding M Bloc, Jakarta (4/10/2019).
Beragam mural tampak menghiasi dinding M Bloc, Jakarta (4/10/2019). | Graceldis Loanardo /Beritagar.id

Uang juga akan datang dari hasil menyewakan gerai. Beritagar.id melihat semua pengisi gerai tersebut adalah produsen lokal. Ada Connectoon yang fokus pada produksi kartun lokal, Kedai Tjikini dan Padang Tugo untuk wisata kuliner, clothing line Union Well milik David Naif, toko rilisan fisik musik Demajors, dan masih banyak lagi.

"Nah, semua ini memang brand lokal. Kita tidak mau ada brand luar negeri dan juga gak mau ada yang kaya chain restaurant. Kemarin yang nelpon saya ada J.Co (penjual donat). udah penuh kita, gak ada tempat," jelas Wendi.

Para pengisi gerai (tenant) itu diwajibkan dalam kontrak membuat kegiatan seperti workshop dan talk show untuk membagi ilmu mereka.

“Visi kita, ini jadi melting pot buat orang-orang kreatif di Jakarta. Masing-masing tenant di sini dua bulan sekali harus bikin activity, wajib. Misalnya di Demajors pasti ngomongnya musik, di Kedai Tjikini ngomongin kuliner indonesia khas lokal, Kebon Ide Gelato, misalnya bagaimana bikin es krim," jelas Wendi.

Beberapa pengunjung yang ditemui Beritagar.id pada Jumat (4/10) malam menyambut baik kehadiran M Bloc Space. Mereka sepakat bahwa ruang kreatif dibutuhkan untuk hadir pada sebuah kota, terutama bagi para anak muda.

"Ini kawasan lama terus dibuat creative space. Anak-anak sekarang kan butuh tempat berkreasi, ada tempat buat live music juga, udah mulai kekurangan kita. Untuk yang idealis-idealis kayaknya bisa di sini tempatnya," jelas Putu Sutha, seorang pengunjung asal BSD ketika ditemui di M Bloc Space, Jumat (4/10).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR