Mainan anak tak mengenal jenis kelamin

Mainan hanyalah mainan
Mainan hanyalah mainan
© Pixabay

Ketika memilih mainan untuk anak, secara sadar atau tidak, Anda mungkin akan mengklasifikasikan jenis mainan tertentu sesuai jenis kelaminnya. Misalnya boneka untuk anak perempuan, dan mobil-mobilan untuk anak laki-laki. Tampak wajar dan alami, bukan?

Hal ini dilandasi oleh pembentukan persepsi yang terjadi sekian lama, terutama lewat media dan pemasaran produk. Untuk mengubah persepsi, akan butuh upaya, karena bisa dinilai berlawanan dengan norma sosial, misalnya.

Sosiolog Elizabeth Sweet mengatakan, pada era 70-an, anak kecil bermain beragam mainan dengan warna-warna terang seperti merah, hijau, dan kuning. Sementara pada 80-an, setelah feminisme mencuat, mainan berdasar jenis kelamin mulai diklasifikasikan, walau belum seperinci saat ini--biru untuk laki-laki dan merah muda untuk perempuan.

Lantas, bagaimana jika anak perempuan justru lebih suka main mobil-mobilan, atau sebaliknya? Haruskah mainan anak disesuaikan dengan jenis kelamin?

Penelitian menemukan bahwa memisahkan mainan berdasar jenis kelamin bisa memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang. Menyadari hal ini, sejak 2015 silam banyak produsen mainan di A.S dan Inggris telah menghentikan mengategorikan mainan untuk satu jenis kelamin saja lewat kampanye "Mainan hanyalah mainan".

Di satu sisi tidak membedakan jenis kelamin untuk pilihan mainan memang baik, tapi di sisi lain mungkin tidak. Kini, ada lagi masalah baru: orang tua netral gender. Beberapa orangtua kekinian khawatir jika anak-anaknya menciptakan ketidakadilan gender.

Alih-alih berlaku netral dengan membebaskan, mereka justru membatasi pilihan mainan--yang bisa dimainkan anak laki-laki dan perempuan sekaligus.

Mainan atau pakaian tak membentuk preferensi anak soal gender

Menanggapi polemik tentang klasifikasi mainan, Debra Soh, dokter ahli saraf seksual di York University di Toronto, Amerika Serikat, berpendapat dalam kolom di Los Angeles Times. Menurutnya, sia-sia belaka bagi orang tua yang membatasi dan membentuk preferensi anak soal gender lewat pilihan mainan atau pakaian.

Sebabnya, faktor biologis bawaan lah yang menentukan. Anak kecil melihat segala sesuatunya secara hitam putih, bukan dibangun secara sosial atau dibentuk orang tua. Itu sebabnya, anak perempuan lebih tertarik pada mainan sosial seperti boneka, sedangkan anak laki-laki lebih tertarik pada mainan mekanis seperti mobil-mobilan.

Psikolog perkembangan Lisa Dinella juga mengatakan, walau tampak sepele, mainan membantu anak belajar keterampilan baru dan mengembangkan intelektual. Bermain boneka dan masak-masakan melatih kemampuan sosial dan lisan anak.

Sementara membuat bangunan seperti menyusun lego dan puzzle membina keterampilan spasial, yang mendasari pembelajaran matematika. Jika dibatasi, anak akan kesulitan mengeksplorasi dan berkurang kreativitasnya, kata Dinella.

Soh menyebutkan bukti lain terkait faktor biologis bawaan. Yaitu kondisi genetik yang disebut congenital adrenal hyperplasia (CAH). Menurut Soh, anak perempuan dengan CAH (memiliki testosterone tinggi sebelum lahir) cenderung tidak berlaku seperti anak perempuan lainnya. Mereka lebih memilih mainan yang khas untuk anak laki-laki. Ini membuktikan bahwa hormon berperan penting sebagai penentu perilaku.

Melawan persepsi yang telanjur kuat

Sayangnya, orang tua kekinian banyak yang menolak kenyataan tersebut. Mereka salah mengartikannya sebagai norma, dan justru lebih khawatir saat kebiasaan bermain anak merujuk pada hal yang tak normal.

Bagi orang tua liberal, masalahnya mungkin peran kesetaraan gender. Anak perempuan diharapkan tumbuh dan bersaing dengan rekan kerja laki-laki, dan anak laki-laki tumbuh dengan keterampilan sosial dan komunikasi yang kuat.

Sementara orang tua yang konservatif, khawatir anaknya berperilaku menyimpang, misalnya tomboy atau "kewanita-wanitaan". Seorang psikiater di Fox News misalnya, menyebut seorang ibu gila hanya karena memberi anak laki-lakinya boneka, dan anak perempuannya pahlawan super.

Padahal, itu bukan masalah, dan tidak ada yang salah. Seperti dikatakan Soh tadi, faktor biologis bawaan dalam gen itu sudah ada bahkan sebelum lahir. Lagipula, pada usia 4-5 tahun anak kecil mulai belajar mengenai adanya perbedaan jenis kelamin. Dengan sendirinya mereka lebih fleksibel terhadap jenis mainan yang dipilih.

Untuk itu, orang tua perlu lebih santai menanggapi masalah ini dan jangan membingungkan anak dengan beragam batasan. Berikan anak berbagai jenis mainan, sehingga banyak referensi yang mereka dapat. Selama, anak dapat menikmati permainan, dan orang tua menunjukkan kasih sayang lewat mainan itu.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.