KESEHATAN

Makanan organik belum tentu kurangi risiko kanker

Makanan organik
Makanan organik | pilipphoto /Shutterstock

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine, mengonsumsi makanan organik dapat mengurangi risiko kanker. Namun, ini bukan sesuatu yang pasti.

Istilah makanan organik mengacu pada proses bagaimana makanan tertentu diproduksi. Makanan organik ditanam tanpa menggunakan bahan kimia buatan, hormon, antibiotik atau organisme yang dimodifikasi secara genetik.

Agar sah diberi label organik, produk makanan harus bebas aditif makanan buatan. Ini termasuk pemanis buatan, pengawet, pewarna, penyedap, dan monosodium glutamat (MSG).

Tanaman yang ditanam secara organik cenderung menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Produk hewani organik juga tidak diberikan antibiotik atau hormon.

Makanan organik yang paling sering dibeli adalah buah-buahan, sayuran, biji-bijian, produk susu dan daging.

Dalam penemuan ini, peneliti memeriksa data dari hampir 70.000 orang dewasa di Prancis. Penelitian ini dilakukan dari 2009 hingga 2016. Peserta diminta untuk melaporkan jika mereka menderita kanker.

Temuannya menyatakan bahwa orang yang mengonsumsi makanan organik dan tidak terkena pestisida kimia dan obat-obatan yang umumnya digunakan untuk mengobati buah, sayuran, daging, dan ikan, memiliki risiko kanker payudara dan limfoma non-hodgkin lebih rendah.

Bahkan partisipan yang hanya makan organik pada tingkat rendah hingga menengah ditemukan mengalami penurunan risiko kanker.

“Karena paparan yang lebih rendah terhadap residu pestisida, dapat dihipotesiskan bahwa orang yang mengonsumsi makanan organik memiliki risiko lebih rendah terkena kanker,” kata penulis utama penelitian, Julia Baudry.

"Jika temuan dikonfirmasi, mempromosikan konsumsi makanan organik pada populasi umum bisa menjadi strategi pencegahan yang menjanjikan melawan kanker."

Julia menambahkan bahwa makanan organik tampaknya tidak berpengaruh pada risiko tertular usus atau kanker prostat.

Produk non-organik memang sering disemprot dengan pestisida yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu. Saat seseorang memilih makanan organik, ia akan mengurangi paparan residu pestisida.

Sebelum mengganti asupan dengan makanan organik--yang biasanya dibanderol lebih mahal--perlu diketahui, penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Di antara 68.946 peserta, ada hubungan terbalik antara diet tinggi makanan organik dan risiko kanker secara keseluruhan.

Dari semua peserta, ada 1.340 yang menderita kanker untuk pertama kalinya sepanjang durasi penelitian. Tak hanya itu, penelitian ini juga tidak menyediakan rincian lebih konkret tentang pola makan peserta.

Para peneliti menulis studi ini berdasarkan laporan kebiasaan makan peserta melalui kuesioner, metode pengumpulan data yang memiliki banyak ruang untuk kesalahan.

Kesalahan yang mungkin dilakukan misalnya bisa saja peserta mengklasifikasikan makanan non-organik sebagai organik, mungkin mereka sengaja salah mengartikan apa yang mereka makan. Ada banyak variabel yang tidak diketahui.

“Asupan makanan organik sangat sulit untuk dinilai, dan laporannya sendiri sangat rentan terhadap perancu oleh perilaku kesehatan positif dan faktor sosial ekonomi,” kata Frank Hu, dari departemen nutrisi di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Kata Hu, semua orang dalam penelitian ini dianggap sama. Padahal, mengingat harga makanan organik lebih mahal, orang-orang yang mampu makan makanan organik biasanya menikmati kesehatan yang lebih baik selama hidup mereka.

Namun tidak semua dari 68.946 peserta asli berasal dari kelompok pendapatan sosial ekonomi tinggi. Faktanya, penelitian ini tidak memberikan data sosioekonomi tentang para peserta sama sekali.

Penelitian ini ditulis dengan cara yang mungkin menyiratkan bahwa orang-orang yang melaporkan makan lebih banyak makanan organik kurang terpapar untuk residu pestisida.

Namun, itu adalah implikasi yang sepenuhnya tidak terbukti. Seseorang bisa saja mendaftarkan makan tomat organik setiap hari dalam seminggu, tetapi mereka mungkin juga terdaftar makan apel non-organik setiap hari dalam seminggu.

Untuk mengonsumsi makanan organik dalam pola makan sehari-hari, tampaknya masih banyak halangan. Kata Hu, mungkin kita bisa memulainya dengan meyakinkan orang agar makan lebih banyak buah dan sayuran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR