Malingering, pura-pura sakit demi kepentingan pribadi

Ilustrasi
Ilustrasi | aslysun /shutterstock

Setya Novanto, Ketua DPR yang juga Ketua Umum Partai Golkar, mengalami kecelakaan pada Kamis (16/11/2017) di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Menurut penuturan pengacaranya, Fredrich Yunadi, Setnov mengalami luka-luka di kepala, sedikit benjol, dan bengkak di tangan.

Rupanya, berita ini meramaikan media sosial. Warganet sampai membuat tagar #papakecelakaan.

Sebagian warganet mengaku tak percaya dengan kecelakaan tersebut. Ada yang menyebut bahwa ini adalah sebuah kecelakaan yang direncanakan untuk menghindari penangkapan atas kasus e-KTP.

Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan itu, dunia psikologi punya istilah tersendiri mana kala seseorang melakukan kesengajaan dalam hal pura-pura sakit, namanya malingering.

Di akun Instagram-nya, psikolog Mellissa Grace, M.Psi., mengunggah foto berisi informasi mengenai malingering yang merupakan gangguan mental ketika seseorang pura-pura menjadi sakit atau dengan sengaja memunculkan gejala penyakit, baik fisik atau mental, untuk menghindari tanggung jawab.

Pada bagian kapsi, ia menjelaskan bahwa gangguan mental tidak sama dengan istilah gila, sakit jiwa, atau seperti gangguan jiwa lain seperti schizophrenia atau gangguan kepribadian.

"Sebuah perilaku disebut sebagai 'gangguan' ketika individu yang bersangkutan tidak lagi dapat sepenuhnya mengendalikan intensitas, durasi, frekuensi perilakunya. Jadi tidak hanya terjadi sesekali," tulis Mellissa.

"Perilakunya sudah mengganggu fungsi adaptif (fungsi perilaku keseharian) individu yang bersangkutan, maupun lingkungan sekitarnya. Perilaku menimbulkan distress (stres yang bersifat negatif) pada individu yang bersangkutan maupun lingkungan sekitarnya," tambahnya.

Mellissa menjelaskan dalam DSM V (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), jika malingering termasuk dalam V-Codes atau kondisi lain yang perlu memperoleh perhatian klinis.

Psychology Today mendefinisikan malingering sebagai tindakan berpura-pura sakit untuk tujuan tertentu.

Hal ini dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan sesuatu, seperti hadiah, uang, obat-obatan terlarang, penghindaran hukuman, pekerjaan, atau dibebaskan dari penahanan.

Pskiater dr. Andri, SpKJ, FAPM, menulis dalam psikosomatik.net, bahwa motivasi untuk seseorang melakukan malingering biasanya bersifat eksternal misalnya menghindari tugas atau mendapatkan kompensasi finansial.

Jadi malingering adalah perilaku yang disengaja untuk tujuan eksternal yang diketahui. Ini tidak dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa atau psikopatologi, meski bisa terjadi dalam konteks gangguan jiwa lainnya.

Kepada Detik.com, Mellissa menjelaskan bahwa ada empat ciri orang malingering, berdasarkan buku Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental atau DSM-5, yaitu:

  • Bertujuan untuk lari dari tanggung jawab biasanya berkaitan dengan dunia hukum.
  • Ada kesenjangan yang dikeluhkan dengan hasil pemeriksaan dokter seperti mengeluh sakit yang berlebihan.
  • Pasien kurang bekerja sama dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan medis.
  • Berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial, yaitu adanya pola menetap dari seseorang yang tidak menghargai hukum dan norma sosial.

Pada saat dilakukan pemeriksaan, biasanya orang malingering mengeluh berlebihan tetapi tidak sesuai dengan yang biasanya dikeluhkan pasien pada umumnya.

Bila pemeriksaan dilakukan berkepanjangan, bisa menyebabkan kelelahan dan mengurangi kemampuan orang yang sedang malingering untuk mempertahankan tipuan tersebut.

Pemeriksaan ini bisa dengan memberikan pertanyaan secara cepat yang akan meningkatkan kemungkinan tanggapan yang kontradiktif atau tidak konsisten.

Cara lain adalah dengan melakukan evaluasi psikologis untuk mendeteksi malingering. Psikolog akan menggunakan beberapa alat penilaian selain wawancara klinis yang dirancang untuk memberikan informasi objektif dan berbasis ilmiah, tentang apakah seseorang telah menanggapi dengan jujur atau apakah dia telah membesar-besarkan, atau meminimalkan masalah psikologis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR