Manfaat mengajarkan matematika pada anak prasekolah

Ilustrasi
Ilustrasi
© Asada Nami /Shutterstock

Orang tua membentuk dasar pendidikan anak bahkan sebelum mereka duduk di bangku sekolah. Membaca bersama merupakan bagian penting dari rutinitas malam hari, namun orang tua mungkin perlu mempertimbangkan untuk menyisipkan matematika dalam keseharian.

Pasalnya, sebuah studi baru menunjukkan bahwa mengajarkan matematika pada anak-anak prasekolah di rumah membantu mereka mempelajari lebih dari sekadar angka.

Periset di University of Purdue menemukan bahwa anak-anak berusia antara 3 dan 5 tahun yang melakukan aktivitas berbau matematika di rumah dengan orang tua mereka, tidak hanya terasah keterampilan aritmatikanya, tapi juga memperkaya kosa kata.

Peneliti utama dalam studi ini, Amy Napoli, yang juga seorang mahasiswa doktoral di Purdue Department of Human Development and Family Studies, mengatakan bahwa aktivitas berbau matematika menambah lebih banyak kosa kata, bahkan lebih dari pelajaran bahasa Inggris.

Napoli mengatakan hal ini bisa jadi disebabkan karena banyaknya komunikasi yang terjadi dalam proses belajar matematika.

"Paparan bilangan dasar dan konsep matematika di rumah dapat diprediksi--bahkan lebih daripada membaca buku cerita atau interaksi kaya pengetahuan lainnya--memperbaiki kosa kata umum anak prasekolah. Salah satu alasan pemikiran ini adalah dialog yang terjadi ketika orang tua mengajari anak-anak mereka tentang matematika dan mengajukan pertanyaan tentang nilai dan perbandingan, yang membantu anak-anak belia ini memperbaiki kemampuan bahasa lisan mereka," papar Napoli.

Penelitian Napoli dan tim melibatkan 116 anak prasekolah, berusia antara 3 dan 5 tahun. Para periset menilai kemampuan matematika dan bahasa mereka pada musim gugur dan lagi pada musim semi tahun ajaran.

Mereka juga melihat laporan orang tua dalam bidang matematika dan kemampuan baca tulis di rumah untuk memperkirakan perkembangan anak sepanjang tahun.

Periset mengingatkan bahwa temuan penelitian tersebut benar-benar bersifat korelasional dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi penyebabnya. Atas alasan tersebut, penelitian masih dilanjutkan di Department of Human Development and Family Studies Purdue University.

Temuan yang dipublikasikan secara daring dalam Journal of Experimental Child Psychology, ini juga memasukkan rekomendasi agar orang tua mulai mengekspos anak-anak pada matematika dasar sejak dini dalam kehidupan mereka.

Penulis senior studi dan asisten profesor di Department of Human Development and Family Studies, David Purpura mengatakan, menurut University of Purdue, tidak pernah terlalu dini untuk mengajarkan anak matematika dan angka. Apalagi mengingat bahwa salah satu kata pertama yang bisa diucapkan anak adalah "lagi".

Memasukkan istilah paling dasar yang berhubungan dengan hitung-hitungan--misal angka, lebih, dan kurang--dapat menciptakan interaksi terfokus pada matematika sekaligus pada tujuan. Sebagai contoh, alih-alih bilang "Ada kue untuk camilan," katakanlah pada anak "Ada tiga kue untuk camilan."

Karena belajar matematika sejak dini sebenarnya menguntungkan bagi anak, Napoli menyayangkan realita bahwa hitung-hitungan justru jarang jadi topik bahasan di rumah. Menurutnya, boleh jadi ini disebabkan karena orang tua merasa kurang mampu mengajarkannya.

Belajar matematika seperti apa yang dimaksud para periset? Anda bisa memulainya dengan membacakan cerita bergambar dengan bahasa matematika. Memperkenalkan mereka pada istilah "lagi", "banyak", "beberapa", dan "lebih sedikit",

Terbukti lewat eksperimen, setelah membaca dan membahas konsep spesifik dalam kelompok kecil, anak-anak prasekolah mendapat nilai lebih tinggi dalam tes matematika. Bukan hanya kata-kata spesifik tersebut, tetapi juga keterampilan matematika yang tidak disebutkan dalam buku.

Contoh buku yang digunakan dalam eksperimen ini adalah Many is How Many? oleh Illa Podendorf, Albert is Not Scared oleh Eleanor May, Just Enough Carrots oleh Stuart J. Murphy, Rosie's Walk oleh Pat Hutchins, Albert's Bigger than Big Idea oleh Eleanor May dan Little White Rabbit oleh Kevin Henkes.

Tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa, matematika juga mengajarkan anak logika dan kemampuan berpikir kritis. Dua hal yang akan sangat penting bagi mereka di kemudian hari.

Dr. Jie-Qi (Jackie) Chen, profesor tumbuh kembang di Erikson Institute, yang juga penulis serta peneliti utama Early Math Collaborative mengatakan kepada GreatSchool bahwa pendidikan awal adalah kunci untuk membekali anak-anak keterampilan ini.

Matematika adalah bahasa logika. Matematika membangun penalaran, yang mengarah pada pemahaman. Mengembangkan cara pikir yang terorganisir secara mental sangat penting. Orang tua perlu memberikan pendidikan matematika berkualitas tinggi sejak usia dini.

Mengingat keuntungan menyisipkan matematika dalam keseharian anak untuk masa depan, rasanya meluangkan lebih banyak waktu dan usaha perlu diwujudkan.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.