KESEHATAN

Manfaat tajin untuk demam berdarah

Tajin dari air rebusan beras kaya elektrolit
Tajin dari air rebusan beras kaya elektrolit | Supaleka_P /Shutterstock

Tajin atau air rebusan beras ternyata punya manfaat mengatasi sakit demam berdarah dengue (DBD).

Tajin termasuk salah satu cairan elektrolit karena kaya dengan nutrisi seperti karbohidrat, magnesium, dan vitamin E.

Cairan elektrolit, seperti tajin, sebaiknya diberikan saat seseorang dicurigai terinfeksi DBD.

Gejala yang harus diwaspadai adalah suhu tubuh yang naik tiba-tiba selama 2-7 hari, sakit kepala, mual, muntah, dan sakit perut. Kecurigaan makin kuat bila ada orang di sekitar pasien yang juga mengalami DBD.

Beberapa sumber makanan alami dapat juga menjadi sumber elektrolit, misal air kelapa, aneka produk olahan susu, kacang-kacangan, dan sayur serta buah seperti kentang, pisang, bayam, kismis.

Beberapa makanan yang bercita rasa asin dalam produk olahan, seperti ikan tuna dan salmon dalam kemasan, juga memberi asupan sodium sebagai salah satu unsur elektrolit.

Untuk diketahui, elektrolit berperan menjaga aktivitas saraf, otak dan otot hingga pembentukan jaringan baru dalam tubuh berjalan baik. Kekurangan elektrolit membuat denyut jantung tidak stabil, mudah lelah, kejang otot, hingga terjadi kekacauan sistem saraf.

Menurut dokter spesialis penyakit tropik infeksi, Leonard Nainggolan SpPD-KPTI dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), elektrolit ikut terbuang dari dalam tubuh ketika virus DBD menyerang.

“Konsepnya adalah mengganti cairan plasma darah yang keluar saat infeksi virus dengue. Plasma tidak hanya mengandung air biasa tapi juga gula dan eletrolit. Cairan pengganti harus memiliki komponen tersebut salah satunya air tajin.”

Keluarnya cairan plasma merupakan bukti adanya aktivitas virus dengue di dalam tubuh pasien. Virus akan menyebabkan celah pada pembuluh kapiler melebar, sehingga bisa dilewati komponen gula dan elektrolit.

Menurut Leonard, pemberian cairan elektrolit seperti tajin dapat diberikan pada pasien sesering mungkin, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan pasien.

Di negara Barat, tajin dikenal dengan nama rice milk atau jika diartikan secara harafiah berarti susu yang terbuat dari beras. Proses pembuatannya pun hampir sama dengan yang dikenal di Indonesia. Namun, orang Barat menambahkan tajin dengan madu untuk memberi rasa dan manfaat.

Seperti diungkapkan oleh pakar beras yang juga peneliti pengolahan hasil pertanian, profesor Djoko Said Damardjati, bahwa tajin kaya nutrisi karena mengandung diantaranya adalah enzim, mineral, anti oksidan, serta vitamin B dan E. Selain itu, ada mikro selenium yang sangat bermanfaat untuk tubuh.

“Banyak kandungan fungsional yang masuk ke dalam air tajin berasal dari lapisan terluar kulit beras. Jadi, jika sudah disosoh, manfaatnya banyak hilang dan yang tertinggal hanya karbohidrat," ujar Djoko.

Menurut Djoko yang sehari-hari bekerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Kota Bogor, kandungan dalam tajin lebih mudah didapatkan saat memasak beras merah. Hal itu karena saat ini beras putih yang ada di pasaran cenderung sudah melalui proses sosoh. Sementara, beras merah tidak melalui proses tersebut hingga dikatakan masih utuh dan bagian kulit arinya masih menempel.

Dalam tajin yang berasal dari beras merah terdapat 10 jenis enzim. Belum lagi kandungan antioksidan, vitamin B dan E yang jauh lebih banyak dibandingkan tajin dari beras putih.

Selain beras merah, Djoko menuturkan, beras hitam juga sangat baik untuk diambil menjadi tajin.

"Kandungan dalam tajin dari beras hitam hampir sama banyak dengan beras merah, tapi kelebihannya di sini terkandung zat yang mampu mencegah alergi kulit serta hipertensi," tambah dia.

Tajin dapat dikonsumsi mulai usia balita hingga orang dewasa. Anda dapat membuat tajin dengan merebus beras putih, beras merah atau beras hitam sesuai selera. Lihat resep mudah dan cara membuat tajin pada tautan ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR