Mariyuana membunuh sel kanker

Ilustrasi
Ilustrasi
© visivastudio /Shutterstock

Kasus Fidelis yang berusaha menyembuhkan istrinya dari penyakit syringomyelia membuat sebagian masyarakat Indonesia mengetahui ternyata mariyuana atau ganja dapat bermanfaat untuk mengurangi sakitnya.

Dikutip dari Kumparan, kandungan kimia dalam ganja yang disebut cannabidiol (CBD) yang berdampak pada otak dan tetrahydrocannabinol (THC) yang mengurangi efek rasa sakit, dapat membantu pengobatan beberapa jenis penyakit.

LSM Lingkar Ganja Nusantara (LGN), seperti dilaporkan Kompas, menyebutkan bahwa sejak tahun 2010 mereka telah mendokumentasikan orang-orang yang menggunakan ganja sebagai pengobatan, seperti kanker, diabetes, hepatitis C, AIDS, strok, epilepsi, asam urat hingga asma.

Namun, di Indonesia, ganja merupakan narkotika golongan I. Sehingga siapapun yang memakai, menanam dan memilikinya terancam hukuman penjara 5 sampai 20 tahun.

Sementara, pemerintah Amerika Serikat sejak tahun 2015 telah mengakui manfaat ganja untuk membunuh sel-sel kanker. Padahal sebelumnya menggolongkan ganja atau mariyuana ke dalam Schedule 1 Drugs. Yaitu golongan obat atau zat kimia lain yang berpotensi tinggi disalahgunakan dan manfaat medisnya tidak diakui.

Hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari National Cancer Institute, sebuah lembaga yang merupakan bagian dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat, telah membuktikan bahwa cannabinoid atau kandungan aktif dalam ganja telah membunuh sel-sel kanker pada tikus-tikus percobaan.

Dalam situsnya, National Cancer Institute menyebutkan bahwa penelitian laboratorium dan hewan telah menunjukkan cannabinoid dapat membunuh sel kanker dan sekaligus melindungi sel normal.

"Zat aktif dalam ganja tersebut dapat menghambat pertumbuhan tumor dengan membunuh sel-sel aktif, menghalangi pertumbuhan sel dan menghambat pengembangan pembuluh darah yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh," tulis periset.

Dilansir dari The Telegraph, bahan kimia dalam ganja tersebut terbukti efektif melawan kanker usus besar, kanker hati, kanker payudara dan beberapa penyakit lain. Juga dapat meningkatkan efektivitas kemoterapi, tanpa efek samping yang buruk.

Akan tetapi para ahli menambahkan bahwa sampai saat ini masih belum ada cukup bukti untuk merekomendasikan para pasien kanker untuk menghirup ataupun mengonsumsi ganja sebagai pengobatan penyakit yang terkait gejala kanker atau pun efek samping dari terapi kanker.

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat yang telah melegalkan ganja sebagai obat, para pasien kanker atau epilepsi telah lama menggunakan ganja untuk terapi mereka.

Lembaga Cancer Research bersikap hati-hati dengan hasil penelitian tersebut dan mengatakan bahwa belum ada bukti efek yang sama pada manusia. Seperti yang dikatakan juru bicaranya, "Tidak ada cukup bukti yang meyakinkan untuk membuktikan cannabinoid, baik alami maupun buatan, dapat mengobati kanker secara efektif pada pasien, meskipun penelitian sudah banyak dilakukan di seluruh dunia."

Bahkan ilmuwan Manuel Guzman, ahli biokimia dari Complutense University of Madrid yang melakukan penelitian tentang ganja selama 20 tahun masih merasa skeptis.

Padahal, seperti dilansir National Geographic, Guzman dan beberapa rekannya melakukan percobaan terhadap otak tikus yang telah disuntikkan sel tumor otak manusia. Lalu diberikan pengobatan dengan cannabinoid selama seminggu. Hasilnya, tumor pada otak tikus tersebut lenyap.

Guzman dan rekan-rekannya telah merawat dan mengobati hewan-hewan pengidap kanker dengan senyawa ganja selama 15 tahun. Mereka menemukan bahwa tumor-tumor pada sebagian hewan hilang, dan sebagian lagi terus berkurang.

Namun, Guzman justru merasa khawatir penemuannya ini memberikan harapan palsu bagi penderita kanker. "Tikus bukan manusia," kata Guzman. "Kami belum tahu apakah metode ini bisa sukses diterapkan pada manusia."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.