TUMBUH KEMBANG

Masa dewasa dimulai pada usia 30-an

Ilustrasi orang dewasa.
Ilustrasi orang dewasa. | Interstid /Shutterstock

Banyak yang menganggap usia 17 tahun menandakan kedewasaan. Namun, ilmuwan otak menemukan masa dewasa baru dimulai pada usia 30-an.

Standar usia dewasa berbeda di berbagai negara. Termasuk batas usia minimal untuk ikut pemilihan, menikah, sampai mendapatkan surat izin mengemudi.

Jangankan bicara antar-negara, dalam perundangan di Indonesia pun usia dewasa seseorang berbeda secara hukum. Ada yang mengelompokkan usia 17 tahun sudah termasuk dewasa, sementara UU lain menyatakan usia dewasa adalah 21 tahun.

Dari aspek psikologis, masa peralihan dari anak menuju dewasa juga berbeda bagi setiap orang. Ada yang berlangsung perlahan tapi pasti, namun ada pula yang transisinya begitu cepat karena tuntutan keadaan.

Para pakar otak kini mengemukakan fakta lain dari perspektif ilmiah. Meskipun banyak negara menyatakan secara hukum usia 18 tahun berarti sudah dewasa, gagasan ini dinilai kurang tepat.

"Apa yang sebenarnya kami katakan adalah bahwa memiliki definisi kapan Anda beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa terlihat semakin tidak masuk akal. Ini transisi yang jauh lebih bernuansa yang berlangsung selama tiga dekade," kata Profesor Peter Jones dari Cambridge University.

Jones mengklaim, wawasan baru soal bagaimana otak dihubungkan dan berubah bentuk seiring usia punya implikasi besar bagi masyarakat. Perubahan ini belum berhenti pada usia 18 tahun. Malah kala itu, otak masih mengalami perubahan besar.

Johanna Jarcho, Ph.D., dari National Institute of Mental Health menyatakan, usia 20-an adalah masa rentan gangguan kesehatan mental. "Kami pernah mengira otak tidak berubah banyak setelah masa kanak-kanak awal, tetapi apa yang kami lihat adalah bahwa otak terus mengalami perubahan yang sangat luar biasa hingga awal usia 20-an," papar Jarcho.

Tak berarti semua orang labil dan goyah sampai terganggu mentalnya pada usia 20-an. Pengaruh berbeda di lingkungan sosial benar-benar memiliki dampak mendalam pada perkembangan otak.

Berbicara sebelum pertemuan ilmu saraf internasional yang diselenggarakan oleh Academy of Medical Sciences di Oxford, Profesor Jones mengatakan, "Sistem seperti pendidikan, kesehatan, dan hukum merasa nyaman dengan adanya definisi dewasa."

Contohnya batas usia ikut pemilihan umum, hingga status individu di mata hukum. Namun, Jones yakin para hakim juga bisa membedakan terdakwa usia 19 tahun dan seorang kriminal berusia 30-an.

"Peristiwa penting pematangan sedang terjadi di otak sejak pubertas, pertengahan, hingga akhir 20-an. Ini adalah proses, bukan sesuatu yang dilakukan dan siap pada usia 18 tahun, meskipun orang memiliki jalannya masing-masing," jelas Jones.

Dalam pertemuan yang sama, Profesor Daniel Geschwind, dari University of California di Los Angeles, menekankan tingkat variabilitas individu dalam perkembangan otak. Menurutnya, sistem pendidikan cenderung berfokus pada kelompok, bukan individu. Padahal ini salah.

Pertemuan itu juga membahas penelitian gangguan mental serius. Skizofrenia dan kondisi psikotik lain sekarang diketahui muncul dari interaksi gen dan lingkungan yang kompleks.

Skizofrenia biasanya didiagnosis pada remaja yang lebih tua. Risiko seseorang mengalami skizofrenia kini turun secara dramatis mulai akhir 20-an. Pola ini diduga terkait dengan perkembangan otak.

Riset sebelumnya telah mengungkap bahwa sebagian besar otak manusia butuh waktu 25 tahun untuk berkembang. Terutama bagian otak yang bertanggung jawab atas mekanisme berpikir rasional.

Jadi, otak berkembang secara bertahap selama beberapa dekade. Kecepatannya pun berbeda antar individu.

Oleh karena itu kita perlu mempertimbangkan lagi, bagaimana kita mengelompokkan anak-anak dan orang dewasa.

Menurut Laras Susanti, dosen di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, untuk ini dibutuhkan harmonisasi peraturan. Tujuannya, memberi kepastian hukum batas usia dewasa, sekaligus perlindungan anak.

Jika masa dewasa baru dimulai pada usia 30-an. Masihkah jargon "Life begins at 40 " berlaku?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR