Memahami diet ketogenic

Ilustrasi menu sarat lemak sehat untuk diet keto.
Ilustrasi menu sarat lemak sehat untuk diet keto. | Elena Shashkina /Shutterstock

Anda mungkin kerap mendengar orang menyebut diet keto belakangan ini. Diet ketogenic merupakan pola diet tinggi lemak dan protein sedang, dengan kandungan karbohidrat sangat rendah, bahkan nyaris tak ada.

Diet ketogenic atau kerap disebut diet keto mengetren pada tahun 2016, dan bertambah populer pada tahun 2017. Penurunan berat badan drastis beberapa selebriti dunia seperti Kim Kardashian dan Melissa McCarthy, juga banyak bintang olahraga dunia, ikut mengangkat popularitas diet satu ini, demikian laporan Inquistr.

Walau baru mengetren sebagai kiat sukses langsing, diet keto sebetulnya sudah lama dikenal dunia medis sebagai alternatif penyembuhan epilepsi. Bahkan, diet ini telah digunakan sejak seabad lalu untuk mengatasi kejang, walau belum terbukti ilmiah. Barulah pada tahun 2014, ada penelitian neurobiologi yang membuktikan bahwa hal tersebut benar.

Berikut kami sarikan berbagai pemahaman mengenai diet keto

Benarkah diet ketogenic dapat menurunkan berat badan?

Awalnya, periset meragukan fungsi diet ketogenic yang disinyalir dapat menurunkan berat badan. Mereka berkesimpulan bahwa penggunaan diet ketogenic untuk menurunkan berat badan tidak dibenarkan.

Dalam studi, periset membandingkan diet keto dengan diet nonketo rendah karbohidrat (40 persen kalori dari karbohidrat). Hasilnya, tidak ditemukan adanya perbedaan dalam penurunan berat badan dan rasa lapar. Bahkan, peserta studi pada diet nonketo memiliki suasana hati yang lebih baik, lebih banyak energi, dan menurun kadar penanda inflamasinya.

Namun, berbagai studi yang dilakukan setelah studi tersebut ternyata tidak menemukan hal yang sama. Justru, semakin menemukan gagasan bahwa diet keto memang efektif menurunkan berat badan sekaligus bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Apa yang salah dari studi pertama?

Persepsi. Begitu kata Paul Salter, ahli strategi nutrisi di Body Building. Ia mengatakan, walau sangat mirip, ada perbedaan besar antara diet keto dengan diet rendah karbohidrat lainnya--seperti diet Atkins atau LCHF (rendah karbohidrat, lemak tinggi). Pertama, pada jumlah karbohidrat--ini termasuk memperhitungkan sumber karbohidratnya; kedua, pada batasan protein; ketiga, pengoptimalan lemak (70-75 persen). Intinya, kata Salter, lemak makanan tidak membuat gemuk. Asalkan, karbohidrat dikonsumsi sangat rendah (di bawah 20 gram)--atau ditiadakan sama sekali.

Bagaimana cara kerja diet ketogenic?

Tanpa gula dan karbohidrat, tubuh akan membakar lemak dalam bentuk keton yang diproduksi di hati. Ketika tubuh menggunakan keton sebagai sumber energi, atau disebut juga kondisi ketosis, inilah tandanya diet ketobekerja.

Kondisi ketosis terjadi sementara, dan bisa dikenali lewat gejala berikut: mulut kering dan haus berlebih, lebih sering pipis, bau mulut atau keringat beraroma buah-buahan atau mirip pembersih kutek, jarang merasa lapar, dan tubuh terasa berenergi.

Apakah manfaat diet ketogenic?

Mindbodygreen melansir, ada 5 alasan ilmiah mengapa diet keto direkomendasikan banyak praktisi kesehatan:

  1. Meningkatkan sensitivitas insulin sebanyak 75 persen dan menurunkan gula darah. Artinya, mengurangi risiko diabetes tipe 2, penyakit arteri koroner, dan bahkan Alzheimer.
  2. Mengobati dan mencegah penyakit neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer, parkinson, dan epilepsi.
  3. Menurunkan berat badan lebih baik dibanding jenis diet lainnya, karena mendorong mengendalikan rasa lapar dan mengatur nafsu makan. Ini menekan obesitas penyebab penyakit arteri koroner, diabetes, Alzheimer, dan kanker.
  4. Mengurangi peradangan, penyebab nomor satu kematian di dunia. WHO menyebutkan, peradangan mendasari semua kondisi degeneratif kronis seperti penyakit Alzheimer, arteri koroner, diabetes, dan kanker.
  5. Mengurangi radikal bebas dalam tubuh, molekul yang dapat merusak protein, lemak, dan juga DNA.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR