Generasi milenial yang gemar belanja

Masing-masing zodiak memperlihatkan selera berbeda dalam hal berpakaian.
Masing-masing zodiak memperlihatkan selera berbeda dalam hal berpakaian. | Pressmaster /Shutterstock

Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada rentang 1980-2000. Mereka diramalkan bakal menjadi bagian yang terbesar dari populasi di Indonesia pada 2020 mendatang.

Menurut catatan Yoris Sebastian dari OMG Consulting, pada 2020, jumlah usia produktif melonjak hingga 50-60 persen. Kini jumlah usia produktif 15-35 tahun sudah mencapai 40 persen.

Salah satu ciri generasi milenial adalah mereka sangat paham dunia digital. Bisa dikatakan mereka adalah pengguna terbesar media sosial.

Selain itu mereka juga sangat konsumtif sehingga menjadi sasaran pemasaran yang sangat potensial.

Berdasarkan data yang didapat dari obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic, rentang usia 20-24 tahun menjadi usia pengguna terbesar (45 persen) dari total responden sebanyak 4670 akun.

Data tersebut juga mendapati bahwa keinginan terbesar para milenial ini merupakan perilaku konsumtif. Mulai dari belanja, melancong, membeli tiket konser dan film jadi prioritas.

Ivan Sudjana M.Psi., Dosen Fakultas Psikologi UI, menyoroti generasi milenial yang sangat konsumtif.

Pandangannya ia sampaikan dalam diskusi Forum Ngobras bertema "Survival Guide Generasi Millennial Menuju Tahun 2020" di Traffique Coffee, Jakarta, Rabu (13/04/2016).

Sifat konsumtif mereka ini tidak bisa dipisahkan dari berbagai kemudahan yang mereka temukan saat berbelanja.

Misalnya, generasi milenial sangat menikmati sistem kredit yang jauh lebih mudah. Selain itu, maraknya belanja daring juga mendorong mereka untuk berbelanja semakin sering dan semakin banyak.

Sementara itu, Anton Wirjono, penggagas Brightspot Market dan The Goods Dept. menambahkan bahwa ada keunikan dari perilaku belanja generasi yang konsumtif ini.

"Banyak mereka yang belanja atau makan di kafe karena bisa diekpresikan ke media sosial, terutama Instagram. Perilaku ini semakin menambah tingkat konsumsi generasi milenial," kata Anton.

Anton menambahkan, bahkan ada anak dari generasi milenial yang belanja sampai di luar kemampuan anggarannya. Menurut Anton, semakin terbatas barangnya, maka mereka akan merasa semakin bergaya jika bisa mengunggahnya ke media sosial.

Perilaku "ekonomi" generasi milenial sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Baik generasi X atau bahkan generasi yang lebih jauh lagi.

Kebiasaan menabung bisa menjadi contoh paling mudah. Generasi sebelum milenial menabung untuk jaga-jaga di masa depan. Dalam arti sebagai cadangan keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga.

Sementara generasi milenial menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Menabungnya lebih bersifat jangka pendek.

"Easy come easy go. Jadi lebih mudah membelanjakan uang tabungan dan cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan. Tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau, dan selalu berusaha keras mewujudkannya," jelas Ivan.

Anton mencontohkan perilaku easy come easy go, terlihat di Brightspot melalui program Brightlab yang menunjukkan tren pembelian yang meningkat pada tanggal-tanggal gajian.

Dalam program ini selama 4 hari beberapa jenama lokal memasarkan produknya untuk uji pasar konsumen yang mencapai 80.000. Ternyata memang belanja paling banyak dilakukan ketika tanggal gajian.

Ini menunjukkan generasi milenial memang sangat konsumtif dan tidak berpikir panjang untuk menabung sebagai cadangan di masa yang akan datang.

Perilaku konsumtif generasi milenial, terkadang menimbulkan gesekan dengan orang tua. Menurut Ivan, memang agak susah menggeser persepsi generasi milenial ini, karena mereka berpikir uang mudah dicari.

Milenial dan wirausaha

Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng tak lagi menjadi daya tarik bagi generasi milenial. Mereka lebih tertarik berwirausaha.

Ini dipicu berbagai faktor. Kemudahan hidup, terutama di dunia digital, dan begitu banyak cerita-cerita sukses para pengusaha rintisan.

Sayangnya, menurut Ivan, keinginan kuat menjadi wirausahawan kadang dilakukan tanpa persiapan. Pada akhirnya berakhir dengan kegagalan.

Seandainya tidak gagal, tidak jarang mereka menemui usaha rintisan mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Hanya semangat di awal saja. Ada usaha keras yang mereka lakukan, namun ada tahapan lain yang terlewat, yakni how to-nya tidak dipikirkan. Misalnya, mereka malas mencari informasi, padahal kemudahan sudah ada. Selain itu kemampuan pendukung atau keterampilan mereka kurang. Kemalasan ini yang menghambat kesuksesan mereka," papar Ivan.

Sementara menurut Anton, berwirausaha saat ini memang lebih mudah. Promosi bisa dilakukan tanpa keluar banyak biaya, cukup melalui media sosial.

Namun data menunjukkan 90 persen usaha rintisan gagal di tengah jalan. Hal ini karena mereka hanya membyangkan hasil akhir, tetapi melupakan proses. "Semua orang melihat Google yang sukses tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat," ujar Anton memberikan contoh.

Ivan mengatakan, tidak semua orang cocok menjadi wirausahawan. Diperlukan karakteristik kepribadian yang kuat, terutama dalam hal saya tahan atau resilent (daya lenting).

Kegagalan, tidak selalu dijadikan pelajaran bagi generasi milenial. Karakter mereka berbeda dengan generasi sebelumnya yang memiliki daya lenting yang kuat.

Menurut Ivan, generasi milenial bisa tumbuh dengan benar ketika orang tua menghayati bahwa setiap individu berbeda, sehingga harus ditangani berbeda. Hukuman fisik pada anak sangat berkurang, sehingga kekokohannya pun berbeda.

Untuk mengetahui apakah seseorang cocok menjadi pengusaha atau tidak, menurut Ivan ada satu strategi yang bisa dilakukan.

Caranya dengan meminta pengusaha sukses untuk menilai apakah bisnis rintisan itu bisa sukses. Hanya seorang ahli yang sudah melalui itu semua yang bisa memiliki indra yang lebih dalam.

Sementara itu, generasi milenial yang memilih bekerja di korporasi cenderung menghadapi gesekan dengan karyawan atau atasan dari generasi sebelumnya.

Mereka lebih berorientasi pada hasil dan bukan proses. Padahal, menurut generasi yang lebih tua, ada batasan prosedur dan moral yang harus dipatuhi.

Anton mencontohkan, karyawan generasi milenial perlu diperlakukan berbeda. Mereka lebih menginginkan kebebasan di kantor dan cenderung lebih mementingkan fasilitas dibandingkan gaji besar.

Generasi milenial tentu punya kelebihan dan kekurangan. Meski demikian menurut Ivan, karakteristik mereka tak harus selalu dilihat sebagai ancaman bagi generasi sebelumnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR