POLA ASUH

Membantu anak melawan cyberbullying

Ilustrasi cyberbullying.
Ilustrasi cyberbullying. | Vinnstock /Shutterstock

Orang tua memiliki peran paling penting membantu pemberantasan perundungan siber (cyberbullying). Mulai dari pencegahan hingga menghentikan perundungan. Bagaimana caranya?

Kompas mengabarkan, selebritas Ussy Sulistyawaty resmi melaporkan nyaris 20 akun warganet yang melakukan perundungan siber terhadap kedua putrinya di Instagram ke Polda Metro Jaya.

Akun-akun tersebut terancam hukuman empat tahun penjara terkait pencemaran nama baik melalui media elektronik, sesuai UU ITE Pasal 27 (3) Jo Pasal 45 (3) UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 Tahun 2008, serta Pasal 310 KUHP dan 311 KUHP.

Ussy menuturkan, ia ingin memberi efek jera pada seluruh akun yang sudah berulang kali melontarkan kalimat hinaan dengan kata tidak pantas sehingga menyakiti perasaan dan menganggu psikologis anak-anaknya.

"Anak-anakku tidak punya akun. Tapi, mereka tahu juga dari teman dan kerabat. Anak-anakku enggak salah apa-apa,” ungkapnya.

Perundungan siber menurut dokter anak Larissa Hirsch dalam Kidshealth merujuk pada penggunaan teknologi untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan, atau menargetkan orang lain. Perkara ini merupakan persoalan serius.

Menurut laman Verywell Family, melaporkan perundungan siber ke pihak berwajib dengan tidak lupa mengumpulkan bukti merupakan cara tepat yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak ketika menghadapi perundungan yang semakin menjadi-jadi.

Pasalnya, sambung Hirsch, setiap anak-anak ataupun remaja berpotensi menjadi korban atau pelaku, selama mereka memiliki akses ke ponsel pintar, komputer atau gawai lainnya.

Dampaknya pun tak main-main. Ryan Broll, peneliti perundungan siber dari University of Guelph mengatakan, pelaku ataupun korban sama-sama menghadapi permasalahan sosial, emosional dan akademik. Mereka akan sering merasa cemas, mengisolasi diri, mengalami gangguan terkait stres hingga berupaya bunuh diri. Bahkan efeknya bisa bertahan hingga dewasa.

Menyetop perundungan siber

Hirsch dan Brian Bason, pendiri situs Bark—penyedia konten-konten terkait perundungan siber dan sejenisnya, menganjurkan orang tua melakukan langkah awah dengan mengenali tanda-tanda perundungan siber.

Sebabnya, banyak anak dan remaja yang mengalami ini tidak ingin memberi tahu guru dan orang tuanya karena mereka sering merasa malu dengan stigma sosial atau takut kehilangan hak istimewanya menggunakan ponsel dan komputer.

Di antara tanda-tanda perundungan siber, papar mereka, anak cenderung lebih emosional atau memperlihatkan gugup dan gelisah selama atau setelah menggunakan internet, terutama saat membaca notifikasi atau pesan.

Anak juga menjadi sangat protektif merahasiakan kehidupan digitalnya, serta menunjukkan perubahan suasana hati, perilaku, pola tidur, dan nafsu makan.

Lalu, anak mulai menarik diri dari anggota keluarga, teman, dan kegiatan, serta menghindari pertemuan sekolah atau kelompok. Mereka juga lebih sensitif, dan menghindari diskusi tentang aktivitas komputer atau ponsel. Bahkan ingin berhenti menggunakan internet.

Jika tanda-tanda perundungan siber tampak nyata, langkah selanjutnya tanyakan pada anak apakah ada sesuatu yang menganggu mereka.

Bason menganjurkan melakukan pendekatan dengan menawarkan kenyamanan, dukungan, dan sabar. Menurut Bason ada beberapa anak yang perlu didekati berulang kali sampai mau terbuka soal masalahnya karena takut akan respons tidak mengenakkan dari orang tua.

Situs Parents menulis, hal yang nyaman dan mendukung bagi anak adalah dengan tidak bereaksi berlebihan, bukan justru menyalahkan anak, atau malah menggoda dan menanggapi kasusnya cuma sekadar permasalahan anak-anak.

Tak perlu juga membatasi aksesnya ke teknologi jika mereka mendatangi Anda dengan masalah. Ini hanya memaksa anak lebih tertutup.

Sebaliknya, ujar Larry Magid, pengamat teknologi dan keamanan internet dalam Forbes, tanggapi segala keluh kesah anak dengan penuh pengertian dan seksama, tetap tenang dan jangan bereaksi terlalu cepat. “Mendengar” diperlukan untuk mengembalikan harga diri mereka.

Selanjutnya, cari tahu seberapa lama perundungan siber telah terjadi dan biarkan anak-anak tahu bahwa mereka tidak bisa disalahkan karena ditindas. “Menegaskan bahwa Anda ada untuk mereka sangatlah penting”, kata Bason.

“Membicarakan pengalaman perundungan yang Anda miliki semasa kecil mungkin membantu anak merasa tidak sendirian,” tambah Hirsch.

Saran dia, beri anak rasa aman dengan selalu melibatkannya dalam mencari bantuan dan solusi. Anda juga perlu membiarkan pihak sekolah tahu, dan mengajari anak tidak menanggapi atau membalas cyberbullying agar situasi tidak memburuk.

Mencegah perundungan siber

Broll menekankan, orang tua perlu tahu dan menerima bahwa kehidupan nyata dan daring anak adalah satu dan sama. Itu cara mereka bersosialisasi di masa kini. Untuk itu, jangan abai soal aturan.

Broll bilang, mengatur kapan, berapa lama, dan memilah mana yang boleh atau tidak dirambah anak saat berinternet merupakan cara sederhana dan paling efektif mencegah cyberbullying.

Ajarkan anak soal empati dan “netiquette, alias cara berperilaku daring semisal sopan santun dan menghormati orang lain. Selain mencegah perundungan, kemungkinan anak merundung orang lain akan lebih kecil jika tahu orang tuanya pasti menegur atau menghukum perilaku buruk.

Terakhir, selalu pantau aktivitas daring anak. Syarat terpentingnya, jangan gagap teknologi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR