POLA ASUH

Membesarkan anak bermental kuat

Anak bermental kuat
Anak bermental kuat | Chinnapong /Shutterstock

Dalam membesarkan anak, tak cukup bila hanya mengejar kecerdasan dan kebahagiaan semata. Anak juga perlu mental yang kuat agar lebih siap menghadapi berbagai tantangan, mampu mengatasi masalah dan kesulitan, kemudian mampu bangkit dari kegagalan.

Mendidik anak agar bermental kuat bukanlah mengajarkan anak tentang bertindak kasar, tidak ramah, memberontak, atau emosional. Sebaliknya, anak-anak yang kuat secara mental bisa lebih berani dan memiliki keyakinan untuk mencapai potensi masing-masing.

Pendekatan dalam mengembangkan kekuatan mental anak, antara lain mengubah pikiran negatif ke pikiran realistis, membantu anak belajar mengendalikan emosi, dan menunjukkan kepada anak bagaimana bersikap positif.

Anak-anak juga berjuang dengan banyak macam pemikiran sama seperti orang dewasa, termasuk rasa ragu dan khawatir.

Kebanyakan orang tua hanya memberi tahu anak agar ia tidak perlu ragu atau khawatir dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Seperti ditulis Psychology Today, solusinya bukan hanya berpikir positif, tapi realistis. Anak-anak dengan keyakinan bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja cenderung tidak siap menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Sebagai contoh, seorang anak awalnya berpikir tidak akan pernah bisa lulus ujian matematika. Namun, ketika pikiran negatif diubah, ia bukan merasa yakin bisa lulus ujian tanpa melakukan apa-apa. Ia dapat yakin bisa lulus jika meningkatkan nilai dengan cara belajar lebih giat.

Anak-anak yang berpikir secara realistis akan merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri dan lebih tangguh.

Kemudian, bicarakan dengan anak tentang perasaannya. Menurut penelitian, 60 persen mahasiswa mengatakan secara akademis mereka dipersiapkan untuk kuliah, tetapi secara emosional tidak siap.

Sebagian besar orang dewasa muda ini berharap orang tua mereka menginvestasikan lebih banyak waktu dalam mengajar mereka bagaimana menghadapi perasaan tidak nyaman, seperti kekecewaan, kecemasan, dan kesepian.

Kebanyakan orang tua jarang mengungkapkan perasaan. Akibatnya, anak-anak tidak belajar mengidentifikasi perasaan mereka dan tidak mendapatkan keterampilan untuk menghadapi perasaan itu.

Saat bicara dengan anak, cobalah mengungkapkan perasaan Anda juga. Akui bagaimana perasaan Anda dan bantulah anak-anak mengidentifikasi perasaan mereka.

Bicarakan tentang bagaimana emosi tersebut memengaruhi keputusan Anda dan secara proaktif mengajari mereka cara mengelola emosi tersebut dengan cara lebih sehat.

Untuk orang tua, ketahuilah bahwa anak bermental kuat bukan anak yang sempurna. Biarkan anak membuat kesalahan dan ajari bahwa itu adalah bagian dari proses pembelajaran.

Cara ini dilakukan agar anak tidak malu saat melakukan kesalahan. Kemudian, ingatkan anak untuk menghindari kesalahan serupa pada waktu berbeda.

Orang tua pun perlu mendorong anak untuk siap menghadapi ketakutan. Bila anak terbiasa menghindari sesuatu yang ditakuti akan kurang percaya diri.

Cari tahu apa ketakutan anak, misalnya gelap, bertemu orang baru, olahraga atau pergi ke tempat kotor. Bantulah anak menghadapi ketakutannya secara perlahan. Beri semangat dan puji usahanya. Beri anak penghargaan karena dia pemberani.

Berikutnya soal kenyamanan. Apakah Anda selalu membuat anak merasa nyaman? Sebaiknya, tak selalu. Meski orang tua selalu tergoda untuk membantu anak saat belajar atau menyelamatkannya dari kesusahan, ini dapat melemahkan mental anak.

Biarkan anak Anda merasakan kehilangan, bosan, dan ingatkan bahwa ia bertanggung jawab pada sesuatu yang tengah dikerjakan, bahkan ketika dia tidak mau. Dengan dukungan dan bimbingan, perjuangan dapat membantu anak membangun kekuatan mental.

Setelah itu, bangun karakternya dan bantu anak membuat keputusan lebih sehat. Perkuat nilai-nilai positif seperti menekankan kejujuran dan kasih sayang, daripada menang dengan segala cara.

BACA JUGA