Membuat sekolah tanggap bencana di Lombok

Ilustrasi anak-anak sekolah tertawa ceria
Ilustrasi anak-anak sekolah tertawa ceria | Casa nayafana /Shutterstock

Sebuah sekolah darurat tidak harus terkesan seadanya. Sekolah tanggap bencana yang telah berdiri di Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini memadukan unsur minimalis dan modern yang nyaman dipandang mata.

Ruang-ruang bangunan sekolah di sana terdiri dari enam ruang kelas, satu perpustakaan, dan satu ruang guru, yang diperuntukkan bagi Yayasan Riyadlul Wardiyah yang bertempat di Desa Kerandangan, Senggigi, Lombok Barat.

Daya tampung sekolah mencapai 130 siswa Taman Kanak-kanak (TK/RA) dan Sekolah Dasar (SD/MI).

Berdirinya sekolah ini tidak lepas dari upaya kolaborasi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Ikatan Alumni (ILUNI) FTUI, ILUNI Arsitektur FTUI, dan Fusi Foundation yang bekerja sama dengan para donatur.

Kemudian, sekolah tanggap bencana pun diberi nama, Sekolah Indonesia.

Sekolah ini dirancang dengan berbasis modular dan komponen pembuatnya yang dapat disusun secara cepat dan mudah.

Sekolah TK/RA merupakan donasi dari Persatuan Istri Karyawan Karyawati (PIKK) PT. PLN Persero seluruh Indonesia.

TK/RA Sekolah Indonesia terdiri dari dua unit ruang kelas yang lengkap dengan perabotan, satu unit toilet dengan dua kubikel dan fasilitas cuci tangan, serta tribun dan selasar untuk menampung sekitar 40 orang siswa.

Sekolah SD/MI adalah donasi dari BFI Finance sebagai penyandang dana utama.

Kapasitas SD/MI Sekolah Indonesia sekitar 100 orang siswa yang terdiri dari empat unit ruang kelas, satu unit perpustakaan, dan satu unit ruang guru. Masing-masing telah lengkap dengan perabotan, selasar, unit toilet dengan dua kubikel dan fasilitas cuci tangan, tribun dan teras untuk wadah ekspresi siswa, serta unit ruang transisi untuk tempat bermain dan berinteraksi.

“Rancangan sekolah ini sangat berbeda dari susunan tipikal sekolah yang umumnya berupa deretan ruang-ruang kelas yang monoton. Sekolah Indonesia memiliki unit-unit ruang kelas yang terintegrasi dengan unit-unit ruang terbuka dan lansekap yang ditata secara seksama, untuk mewadahi kegiatan belajar yang bervariasi di dalam maupun di luar ruangan,” tutur Dekan FTUI, Dr. Ir. Hendri D. S. Budiono M.Eng dalam keterangan pers.

Lama waktu yang diperlukan untuk membangun Sekolah Indonesia tidak lama, cukup dua bulan saja sejak peletakan batu pertama.

Sekolah yang rancangannya dikerjakan oleh Kelompok Keilmuan Perancangan dari Departemen Arsitektur FTUI ini telah resmi beroperasi.

Menurut Prof. Yandi Andri Yatmo, PhD, selaku Pemimpin Kelompok Keilmuan Perancangan dari Departemen Arsitektur FTUI, pembangunan sekolah ini dinilai penting karena pendidikan adalah hak setiap manusia dan anak bangsa.

“Seminggu setelah gempa, kami langsung datang ke Lombok untuk melihat kondisinya, untuk mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan masyarakat pasca bencana,” tutur Yandi kepaa Okezone.

Sebagai kalangan akademisi Yandi dan tim merasa tergerak serta ikut bertanggung jawab untuk memberikan bantuan, berupa pembangunan sekolah cepat tanggap bagi para korban bencana.

Yandi mengatakan, kebanyakan warga bercerita mengalami cidera karena terkena reruntuhan dinding, genteng, dan benda-benda berat yang berasal dari bangunan rumah mereka.

Kondisi tersebut menjadi salah satu elemen terpenting dalam menentukan material yang akan digunakan, sehingga desain bangunan pun sengaja dibuat lebih ringan agar secara psikologis dapat menibulkan rasa aman bagi anak-anak.

Bangunan sekolah ini dirancang tahan gempa karena menggunakan bahan-bahan pilihan dengan kekuatan yang telah diperhitungkan. Selain itu, desain yang kokoh tetapi ringan menjadi nilai tambah tersendiri.

Menggunakan modul rangka 2,5 x 4,95 meter berbahan material besi 5x5 sentimeter dan tebal 1,8 milimeter, dengan join plat besi 5 milimeter, dinding multipleks 15 milimeter dengan modul bidang sebagai pintu, jendela ataupun dinding itu sendiri, dan atap plat metal tekuk setebal 0,3 milimeter dengan reng besi 4x4 sentimeter dan tebal 1,4 milimeter.

Desain sekolah dibangun dengan komponen yang dapat dikonstruksi secara mudah dan cepat. Sekolah ini, juga terdiri dari bahan yang fleksibel dan dikomposisikan secara plug and play, sehingga dapat berkembang sesuai kebutuhan, dan situasi di setiap lokasi yang berbeda di mana pun di seluruh Indonesia.

“Kami tidak hanya membangun kembali fisik sekolah bagi anak-anak Lombok, tapi kami membangun kembali mimpi dan menyemangati mereka bahwa mereka dapat terus bersekolah dan mewujudkan cita-citanya,” kata I Kadek Tirtayasa, Regional Manager Wilayah Jawa Timur 2 PT BFI Finance dinukil Jawapos.

Gedung SD/MI Yayasan Pendidikan Ridyadlul Wardiyah merupakan salah satu sekolah dengan kerusakan yang cukup parah. Sebanyak lebih dari dua ratus siswa di yayasan tersebut kehilangan tempat belajar mereka yang roboh akibat gempa 6,4 SR bulan Juli lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR