KESEHATAN ANAK

Memerangi stunting yang merugikan

Memerangi stunting
Memerangi stunting | Anek.soowannaphoom /Shutterstock

Stunting atau masalah kurang gizi kronis yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia.

Tinggi badan anak yang rendah untuk seusianya, dikenal sebagai stunting, memiliki hubungan dengan kemiskinan, menyebabkan kesehatan dan gizi ibu buruk, serta penyakit, pemberian makan, dan perawatan tidak tepat pada anak sejak lahir.

Merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan angka tersebut sudah turun dari 37,2 persen menurut Riskesdas 2013.

Meski ada penurunan, angkanya masih cenderung tinggi dan masih dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk memerangi stunting yang merugikan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Sri Eny Hartati, mengungkapkan data dari UNICEF yang memperkirakan stunting bisa menyebabkan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot tiga persen.

Analisis Qureshy tahun 2013 dalam lansiran Beritasatu.com menyebut stunting dapat merugikan Indonesia sampai sebesar Rp 300 triliun per tahun. Tak hanya itu, stunting juga mengancam generasi mendatang dalam hal sumber daya manusia.

Jika tidak ditangani serius, gangguan pertumbuhan ini tak hanya berdampak pada fisik, tetapi memengaruhi banyak hal hingga masa depan anak setelah dewasa.

Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K)mengatakan bahwa persoalan stunting bukan sekadar perawakan tubuh pendek, tetapi juga kecerdasannya rendah.

"Ini akan merugikan negara," kata Damayanti yang juga merupakan konsultan nutrisi dan penyakit metabolik.

Anak kurang gizi kronis akan mengalami penurunan fungsi otak dalam berpikir. Menurut penjelasan Damayanti, pada bayi dengan berat badan kurang dari 10 kilogram, sekitar 50 persen energinya akan dipakai tubuh untuk perkembangan otak.

"Bisa dibayangkan berapa banyak penurunan IQ-nya kalau anak sampai stunting?"

Stunting pun terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas, hilangnya potensi pertumbuhan fisik, berkurangnya perkembangan saraf dan fungsi kognitif serta peningkatan risiko penyakit kronis pada masa dewasa.

Selain fungsi kognitif terganggu, pembakaran lemak pun terganggu, sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas.

“Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting,” ujar Damayanti.

Penelitian telah menemukan bahwa orang dewasa yang waktu bayi memiliki berat badan rendah atau kurang gizi lebih mungkin mengalami tekanan darah tinggi, obesitas, dan penyakit kronis terkait termasuk diabetes dan penyakit jantung.

Lantas, bagaimana cara agar anak-anak Anda tidak mengalami hambatan pertumbuhan?

Untuk para orang tua, ketahuilah kondisi kesehatan anak. Salah satu cara mudah deteksi stunting adalah memantau berat badan anak hingga usia dua tahun. Bila terjadi penurunan cukup signifikan, segera konsultasi dengan dokter anak Anda.

Sebab, anak yang sudah mengalami stunting dan usianya belum lebih dari dua tahun, masih lebih mudah diatasi, dibandingkan dengan lebih dari dua tahun.

Damayanti menjelaskan ketika anak stunting berusia di atas dua tahun, penyembuhannya akan lebih sulit. Sebab, terdapat penanganan khusus yang dibutuhkan oleh mereka yang membuat para dokter harus bekerja lebih keras terlebih jika terdapat permasalahan pada asupan makanan.

"Kalau diatas dua tahun, kita kerja keras. Anaknya enggak mau makan harus pasang selang karena harus makan. Nomor satu itu. Dia makan terus dia membaik," ujarnya.

Menurut penelitian, makan telur setiap hari dapat mencegah pertumbuhan terhambat pada anak-anak. Kata ahli nutrisi anak, Lora Iannotti, telur sangat kaya nutrisi, berkualitas tinggi, dan harganya terjangkau.

Saat anak makan telur setiap hari, ia juga lebih sedikit makan makanan manis, seperti permen atau kue. Ini juga berkaitan dengan penurunan risiko obesitas selama masa kecil anak.

Jadi, agar stunting tak terjadi, Damayanti mengatakan penting untuk menjaga asupan nutrisi anak cukup, lengkap dan seimbang, terutama protein hewani. Selain itu, pastikan tidak ada penyakit lain yang dapat meningkatkan kebutuhan nutrisi seperti ISPA, diare, dan penyakit jantung bawaan.

"Pastikan bayi aktif, deep sleep pada pukul 23.00-2.00 setiap hari. Pantau dengan melakukan pengukuran berat badan, panjang badan, lingkar kepala, sebulan sekali. Segera rujuk ke dokter jika terjadi penurunan berat badan," sarannya.

Sedangkan dari sisi pemerintah, pencegahan stunting dilakukan dengan mengoptimalkan dana desa. Tahun ini pun akan dilakukan perluasan wilayah prioritas penanganan stunting yang awalnya menyasar 100 kabupaten atau kota, menjadi 160 kabupaten atau kota.

Pencegahan stunting dilakukan dengan memberikan panduan gizi seimbang pada masyarakat, serta peningkatan produksi pertanian untuk mendukung ketahahan pangan dan gizi, perlindungan sosial untuk pengentasan kemiskinan lewat program keluarga harapan, program nasional pemberdayaan masyarakat, penyediaan air dan sanitasi, juga pemberdayaan perempuan.

Program penanganan stunting ini akan dilakuakan secara bertahap. Pada 2020, diharapkan wilayah prioritas penanganan stunting bertambah hingga 390 kota atau kabupaten, dan 514 pada tahun 2021.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR