ARTEFAK KEBUDAYAAN

Memutar roda kehidupan melalui selembar tenun Sumba

Tenun Sumba di pameran "Lukamba Nduma Luri - benang yang memberi ruh, kain yang memberi hidup", Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (8/8/2017).
Tenun Sumba di pameran "Lukamba Nduma Luri - benang yang memberi ruh, kain yang memberi hidup", Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (8/8/2017). | Tasya Simatupang /Beritagar.id

Sejauh mata memandang, Sumba di Nusa Tenggara Timur tampak cantik dengan bukit-bukit gamping berlapis hamparan rumput hijau bak permadani. Semakin lama menatap Sumba yang terletak di tepi laut justru semakin menarik dalam setiap gulungan ombak dan awannya.

Selain pemandangan, adat dan budaya tradisi Sumba pun penuh hal magis. Ada pasola yang bersimbah darah, tari-tarian perang, serta kain tenun yang dibuat khusus dengan maksud dan tujuan tertentu.

Fidelis Tasman Amat, seorang pengurus dari Kelompok Penenun Lukamba Nduma Luri, Waingapu, Sumba Timur, mengatakan kain tenun Sumba memiliki motif yang sangat beragam dan istimewa.

"Misalnya seperti Papanggang yang biasa dipakai untuk upacara pemakaman," kata Fidelis kepada Beritagar.id saat jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Papanggang merupakan sebutan bagi kerabat raja. Kain Papanggang biasanya dibubuhi gambar proses penguburan seseorang di seluruh permukaannya. Mulai jenazah disemayamkan di rumah duka, dinaikkan ke kuda hingga dimasukkan ke liang lahat.

Tentu saja ada juga motif kain yang dibuat khusus untuk upacara kelahiran, pernikahan dan sebagainya.

Corak kain Sumba dikelompokkan ke dalam tiga bagian. Kelompok figuratif menjadi representasi bentuk manusia dan binatang; kelompok skematis (menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris); serta kelompok bentuk pengaruh asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (Tiongkok).

Motif yang cukup populer adalah kuda sebagai simbol harga diri tinggi perempuan Sumba. Sedangkan gambar buaya adalah lambang kekuatan sang raja yang kuat dan jadi panutan.

Meski demikian, ternyata tak ada motif yang terlalu sakral sehingga tak bisa dikenakan pada kesempatan lain. Namun gambarnya terkadang cukup spesifik, misal Papanggang, sehingga masyarakat tak lazim mengenakannya untuk keperluan selain penguburan.

Seperti halnya kain tradisional Indonesia lainnya, masing-masing kain tentu memiliki keunikan tersendiri. Pada kain tenun Sumba, proses tenunnya pun berbeda.

Proses tenun kain Sumba
Proses tenun kain Sumba | Hakim Satriyo

Kain tenun ini akan mengutamakan pemberian motif saat pemintalan. Setelah itu kain diwarnai sesuai dengan ciri khas warna Sumba.

Ada warna merah yang berasal dari akar mengkudu, biru dari nila atau tarum (Indigo tinctoria), kuning dari kayu kuning dan hitam atau kecokelatan yang didapat dari warna lumpur atau merupakan campuran semua warna lain.

Biasanya pewarnaan dilakukan sebanyak tiga hingga empat kali dan maksimal enam kali hingga mendapatkan warna yang sempurna. Setelah itu kain tenun siap dipakai atau dijual.

Kain tenun punya peran penting dalam roda kehidupan masyarakat Sumba. Seperti diceritakan di atas, kain ini mewakili semua momen kehidupan.

Wajar saja jika kemudian keberadaannya menjadi begitu penting, bahkan dijadikan sumber mata pencaharian. Misalnya aktivitas Kelompok Penenun Lukamba Nduma Luri.

Nama kelompok itu pun memiliki arti "benang yang memberi hidup". Dari sana para penenun menggantungkan harapan menjual selembar kain seharga Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah. Level harga tentu sejajar dengan kerumitan teknik pembuatan.

Namun sayang, citra kain tenun --seperti halnya kain tradisional lainnya-- acap dianggap kuno oleh kalangan belia. Anak-anak muda lebih tertarik untuk menggunakan pakaian masa kini yang lebih bergaya.

Itu sebabnya, seperti dikatakan Tamu Umbu Pingi Ai selaku Raja Lewa Kambera, Sumba Timur, pelajaran formal kain tenun Sumba mulai disampaikan di sekolah-sekolah. Sebagian pegiat kain tradisional pun proaktif melakukan upaya pelestarian.

Misalnya, Chitra Subyakto, penata gaya yang gemar bereksplorasi dengan kain tradisional khas Indonesia. Lewat label Sejauh Mata Memandang yang lazim membuat batik, Chitra kini berusaha membuat kain yang terinspirasi tenun Sumba.

Kain tenun Sumba buatannya akan dijual sekitar dua bulan lagi. Hasil penjualan bakal disumbangkan demi menyejahterakan masyarakat Sumba --terutama masyarakat Pambuatanjara, Wairinding, Sumba Timur.

Berbagai usaha pelestarian yang melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat ini dinilai cukup berhasil. Masyarakat Sumba juga memiliki keinginan yang begitu kuat untuk melestarikan dan mewariskan budayanya kelak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR